Cahaya adab-adab Islami | Adab Menuntut Ilmu (Bagian 2)

0
296
Buku cahaya adab islami ponpes adab elkisi mojokerto

2. Menuntut Ilmu Tidak diniatkan Semata-Mata untuk Duniawi.

Orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap wajah Allah, termasuk orang yang pertama kali dipanaskan api neraka untuknya. Hendaknya para penuntut ilmu ia niatkan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan kebodohan dari orang lain, demi keselamatan akhirat dan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala. Allah mencela orang yang mencari ilmu hanya berorientasi untuk kehidupan dunia saja. Firman Allah Ta’ala:

يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ٧

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka Lalai dari (kehidupan) akhirat.” (QS. Ar Rum: 7)

Tidak berkahnya ilmu boleh jadi karena adab menuntut ilmu tak lagi diperhatikan. Dan adab paling utama yang banyak dilalaikan ialah pentingnya penekanan niat dalam menuntut ilmu. Orientasi mencari ilmu mesti dilandasi atas semangat ibadah dan pengabdian untuk-Nya. Mondok, sekolah ataupun kuliah, bukan cuma diniati untuk mendapat pekerjaan. Terkadang, memang pragmatisme hidup mendorong tak sedikit kalangan pendek pikiran.

Segala sesuatu itu tergantung niat, sebagaimana titah Rasulullah j dalam hadits riwayat Umar bin Khatab. Membersihkan niatan duniawi memang tak gampang. Perlu usaha keras dari yang bersangkutan, tetapi ini akan sebanding dengan hasil yang akan dicapai. Dua kebajikan sekaligus akan tercapai bila niat belajar diikhlaskan untuk-Nya, yakni kebaikan beribadah dan ganjaran mencari ilmu. Mengutip apa yang dikatakan oleh tokoh generasi salaf, Sufyan ats-Tsauri. Dia berkata: “Tak ada yang lebih sulit bagiku ketimbang meluruskan niat.”

3. Menuntut Ilmu Tidak diniatkan untuk Mendebat Ulama’ atau Orang Jahil (sombong-sombongan).

Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah  ﷺ bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya, pen.) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh, pen.) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya, pen.), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. At Tirmidzi).[1]


[1] HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 456.

Bersambung ke bagian 3

Sumber : Buku Cahaya Adab-Adab Islami
Penulis : Fathur Rohman & Ainur Rofiq
Penerbit : eLKISI
Halaman : 13-14