Cahaya adab-adab Islami | Adab Menuntut Ilmu (Bagian 3)

0
74
Buku cahaya adab islami ponpes adab elkisi mojokerto

4. Bersungguh-Sungguh Belajar dan Selalu Haus akan Ilmu.

Dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan kesungguhan. Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencarinya. Seseorang akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila ia bersungguh-sungguh dalam menuntutnya.

Ada dua orang yang tidak pernah puas yaitu pencari ilmu akhirat (ilmu dien) dan pencari dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

مَنْهُومَانِ لاَ يَشْبَعَانِ : طَالِبُ عِلْمٍ وَطَالِبُ دُنْيَا

“Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1) penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.” (HR. Al Hakim).[1]

Sebagian ahli hikmah berkata:

Carilah dan perbanyaklah ilmu. Sebab, sedikit ilmu itu identik dengan sedikit kebaikan, sedangkan banyak ilmu itu identik dengan banyak kebaikan. Hanya orang yang sedikit ilmu yang berani mencela kebaikan. Adapaun orang yang banyak ilmu, dia tentu mengharapkan kebaikan.”

Maka, sudah menjadi keharusan bagi setiap penuntut ilmu untuk bersungguh-sungguh dan kontinyu dalam belajar syariat agama. Perintah supaya bersungguh-sungguh telah Allah sampaikan dalam firman-Nya:

يَٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡكِتَٰبَ بِقُوَّةٖۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيّٗا ١٢

Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.” (QS. Maryam: 12)

Juga firman Allah Ta’ala:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٩٦

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ‘Ankabut: 69)

Juga disebutkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim:

مَنْ طَلَبَ شَيْئًا وَجَدَّ وَجَدَ، وَمَنْ قَرَعَ الْبَابَ وَلَجَّ وَلَجَ، وَقِيْلَ: بِقَدْرِمَا تَتَعَنَّى تَنَالُ مَا تَتَمَنَّى

“Siapa yang bersungguh-sungguh mencari sesuatu, maka pastilah ketemu. Dan barangsiapa yang mengetuk pintu bertubi-tubi[2], pasti dapat memasuki”. Juga dikatakan lagi: “Sejauh mana usahamu, sekian pula tercapai cita-citamu.”

Kesungguhan tersebut melibatkan tiga unsur, yaitu guru, murid/santri, dan wali santri/orang tua. Disebutkan dalam Ta’lim Muta’allim:

 يحتاج فى التعلم والتفقه إلى جد ثلاثة: المتعلم، والأستاذ، والأب، إن كان فى الأحياء

“Dalam mencapai kesuksesan mempelajari ilmu dan fiqh itu diperlukan kesungguhan tiga pihak. Yaitu guru, pelajar dan wali murid jika masih ada.”

Berdasar atas perkataan di atas, orang tua yang bersungguh-sungguh memasukkan anaknya di sebuah lembaga pendidikan, didukung guru yang ikhlas dan totalitas, namun jika murid/santri tidak mempunyai kesungguhan hati dalam belajar, maka upaya pendidikan ini tidak akan membuahkan hasil maksimal atau bahkan sia-sia. Demikian pula sebaliknya, guru mendidik dengan totalitas, murid/santri juga belajar dengan penuh kesungguhan, namun orang tua tidak bersungguh-sungguh dalam mendukung program pendidikan, hasilnya pun juga akan sia-sia. Kalau toh ada hasil, keberkahan ilmu tidak akan dapat didapat. Na’udzu billah

Lihatlah perjuangan orang-orang shalih terdahulu yang berkorban menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan untuk mendapatkan ilmu. Dalam mencari ilmu, para ulama’ tidak mengenal batas akhir, mereka bahkan mencurahkan segenap kemampuan dan tenaganya, sehingga mereka menjadi teladan yang menakjubkan dan biografi yang unik.


[1] HR. Al Hakim, dalam Al Mustadrok 1: 92. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi.

[2] “Mengetuk pintu bertubi-tubi” Ini hanyalah ungkapan untuk menggambarkan kesungguhan dan bukan untuk dipraktekkan saat bertamu. (Lihat adab bertamu)

Bersambung ke bagian 4

Sumber : Buku Cahaya Adab-Adab Islami
Penulis : Fathur Rohman & Ainur Rofiq
Penerbit : eLKISI
Halaman : 14-16