Dari Santri untuk Negeri

0
119
Gambar Ilustrasi : Upacara peringatan HUT RI ke 74 di Ponpes eLKISI Mojokerto

Oleh Syamsul Arif,
Mahasiswa The eLKISI Institute

Santri, demikianlah kita menyebutnya untuk anak yang menimba ilmu di sebuah pesantren. Belum banyak orangtua yang sadar, bahwa pendidikan pesantren merupakan model pendidikan yang paling ideal, untuk mewujudkan generasi gemilang (khoiru ummah) yang memiliki tanggung jawab besar dalam menjalankan misi dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar adalah sesuatu yang penting, dan karena misi itulah maka Allah mengutus para Nabi. Jika aktivitas amar ma’ruf nahi munkar hilang, maka syiar kenabian akan hilang, agama rusak, kesesatan tersebar, kebodohan merajalela, satu negeri akan binasa. Begitu juga umat secara keseluruhan.”

Santri, Bangkitlah!
Perhatikan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut, “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan dicabutlah kehebatan Islam, dan apabila mereka meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, maka akan diharamkan keberkahan wahyu, dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah.” (Hadits Riwayat Tirmidzi).

Dalam rangka membangun suatu bangsa yang besar dan mandiri di masa yang akan datang, tugas umat Islam bukan hanya menunggu datangnya pemimpin yang akan mengangkat mereka dari keterpurukan. Umat Islam dituntut untuk bekerja keras dalam upaya membangun “generasi baru” yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas.

Hal ini tidak mungkin terwujud, kecuali jika umat Islam Indonesia -terutama lembaga-lembaga pendidikan dan dakwah- sangat serius membenahi konsep ilmu dan pengkaderan ulama. Dari sinilah diharapkan lahir satu generasi baru yang tangguh, berilmu tinggi dan berakhlak mulia, yang mampu membuat sejarah baru yang gemilang.

Sejarah telah membuktikan bahwa Islam pernah memiliki generasi gemilang, yang menjadi bagian dari sebuah proses kejayaan Islam. Sebut saja Muhammad Al-Fatih, yang berhasil menaklukkan Kota Konstantinopel, di usianya yang masih 22 tahun. Juga, Usamah bin Zaid, yang menjadi komandan pasukan perang yang dikirim ke Romawi, padahal umurnya belum genap 20 tahun.

Keberhasilan yang diraih Muhammad Al-Fatih dan pasukannya atas runtuhnya Konstantinopel, lahir dari sebuah perjuangan yang besar. Tidak mungkin muncul sosok Muhammad Al-Fatih tanpa ada proses panjang yang menjadikannya sebagai generasi yang berkualitas. Sang ayah tidak pernah berhenti mendidik dan memberi motivasi kepadanya. Pendidikan agama hingga strategi perang menjadikannya memiliki wawasan yang luas.

Sekarang, kemerosotan akhlak terjadi di mana-mana. Kemerosotan akhlak bisa menimpa siapa saja, mulai dari yang berprofesi sebagai tukang bangunan sampai pejabat negara. Dari lembaga umum sampai institusi publik. Bahkan tak terkecuali, kantor-kantor yang bergerak dalam bidang keagamaan sekalipun, bisa mengalami krisis moral dan akhlak.

Dalam kehidupan keluarga, banyak anak tidak mengenal apa itu kesopanan dan tata krama. Kesopanan dan akhlak yang mulia dianggap sebagai racun kehidupan yang harus dijauhi dan ditinggalkan. Di sisi lain, keteladanan akhlak mulia dan moral semakin sulit ditemukan. Sungguh ironis, di tengah mayoritas pemeluk agama Islam, negeri ini mengalami dekadensi moral yang begitu memilukan sekaligus memalukan.

Untuk mengatasi persoalan kemerosotan akhlak di atas, maka tarbiyah (pendidikan) menduduki urutan terpenting dalam upaya mengubahnya. Tarbiyah merupakan obat mujarab dan terapi mental bagi krisis akhlak yang tengah terjadi di negeri ini. Tanpa tarbiyah, dekadensi moral sulit untuk disembuhkan.

Berdasarkan hal tersebut, maka peran santri sangat dibutuhkan untuk mampu memberikan kontribusi dalam menegakkan ajaran dan nilai-nilai Islam. Berbekal ilmu yang didapat, hafalan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang dimiliki serta aktivitas yaumiyah di pesantren, para santri bisa menjalankan fungsinya dalam beramar ma’ruf nahi munkar di tengah keluarga dan lingkungan masyarakat.

Menurut Dr. Adian Husaini dalam bukunya “10 Kuliah Agama Islam”, tindakan amar ma’ruf dan nahi munkar menempati kedudukan penting. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang menjelaskan arti penting dan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf nahi munkar artinya memerintahkan atau mengajak kepada yang baik dan mencegah kemunkaran.

Misalnya, firman Allah berikut, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3]: 110).

Juga, sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa di antara kamu yang melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya, dan jika tidak mampu, (ubahlah) dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman” (Hadits Riwayat Muslim).

Kemunkaran tidak mudah begitu saja dihilangkan. Tidak jarang ada kekuatan-kekuatan tertentu yang menjadi pelindung kemunkaran, seperti dalam kasus narkoba, perjudian, pelacuran, dan lain sebagainya. Tapi, pada tataran ini, para santri sudah mulai juga diarahkan untuk menguasai satu bidang keilmuan tertentu yang diperlukan untuk membangun kemandirian dirinya, serta sebagai bekal melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dalam bidang ilmu mereka masing-masing.

Buah Pendidikan
Sekarang, sudah saatnya para santri menunjukkan bukan hanya bisa mengaji saja tapi juga mampu memberikan kontribusi untuk negeri, dengan berdakwah di masyarakat. Sebab, santri adalah kepanjangan tangan para ulama / kiai di tengah masyarakat, sebagai perwakilan para asatidz di tengah keluarga, dan perwakilan pesantren di hadapan bangsa dan negara.

Maka, wahai para santri, jadilah teladan serta warnai lingkunganmu dengan ilmu dan akhlakmu. Bersabarlah, karena demikianlah tabiat dakwah ini. Sebagaimana nasihat Luqman kepada anaknya, “Wahai anakku! dirikanlah shalat, dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari kemunkaran, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman [31]: 17). []