Guru dan Parang KH Imam Zarkasyi

0
69
PBM Santri eLKISI IIBS Mojokerto

Oleh M. Anwar Djaelani,
Dosen eLKISI Institute Mojokerto

Apapun kurikulumnya, kata Prof. Muhadjir Effendy pada 6 Agustus 2016, kalau gurunya profesional tidak masalah. Sementara, jauh bertahun-tahun sebelumnya, KH Imam Zarkasyi–salah seorang pendiri Pondok Modern Gontor-menyatakan bahwa “Guru lebih penting daripada metode”.

Metafora Bagus
Posisi guru kapanpun bisa menjadi bahan perbincangan menarik. Misal, pada 2016, Mendibud Muhadjir Effendy menyebut-nyebut bahwa guru berperan strategis jauh di atas kurikulum.

Kata Muhadjir, persoalan pendidikan bukan di kurikulum, tapi di guru. “Guru menjadi elemen yang paling penting. Saat ini, profesionalisme guru di Indonesia belum tercapai. Jadi, masalah ini harus diselesaikan dan harus ditangani dengan serius. Jika profesionalisme tercapai maka separuh permasalahan pendidikan di Indonesia sudah dikatakan selesai,” simpul Muhadjir (www.suarapgri.com 07/08/2016).

Atas apa yang disampaikan Muhadjir di atas, rasanya banyak yang setuju. Bahwa, keberhasilan di dalam proses pendidikan sungguh sangat ditentukan oleh kontribusi guru. Bahwa, peran guru sangat sentral.

Soal strategisnya peran guru, KH Imam Zarkasyi (1910-1985) juga berpendapat demikian. Beliau selalu menekankan pentingnya kesungguhan dan disiplin guru serta peningkatan kualitas guru, baik dari segi ilmu maupun penggunaan metode mengajar yang benar. Dalam hal ini, nasihat terkenal yang sering beliau sampaikan adalah “Al-thariqah ahammu min al-maddah (Metode jauh lebih penting daripada materi)”. Sungguh-pun demikian, beliau melanjutkan, “Al-mudarris ahammu min al-thariqah (Guru lebih penting daripada metode).”

Sekarang, mari saksikan fragmen mengesankan berikut ini. Di sebuah ketika di Pondok Modern Gontor, secara mendadak KH Imam Zarkasyi meminta semua guru agar berkumpul di aula saat jam mengajar dengan komando siaga satu gaya militer. Banyak guru bertanya-tanya, ada apa?

Kala itu, Imam Zarkasyi telah menunggu di aula dengan penampilan serius. Di atas mejanya terdapat sebilah parang besar. Melihat pemandangan itu, semua guru semakin terheran-heran.

Tokoh pendidikan nasional itu lalu berbicara. Ternyata, untuk kali ke sekian, beliau menekankan: “Guru-guru harus mengajar dengan cara yang baik, benar, dan bersungguh-sungguh.” Sebab, “Cara mengajar yang baik, itu lebih penting daripada pelajarannya”.

Tak berhenti dengan penjelasan verbal, Imam Zarkasyi lalu mengambil parang yang terletak di atas meja. Dengan tangan yang sebenarnya terlalu lemah untuk memegang parang besar itu, ia berkali-kali memukulkan parang tersebut ke meja yang sebenarnya masih bagus. Berkali-kali meja dipukulnya, seperti tengah memotong kayu. “Lihat ini, kalau parang ini digunakan dengan cara yang benar, meskipun dengan pukulan yang tidak terlalu keras, akan membuahkan hasil. Lihat!” Sambil berkata-kata, Imam Zarkasyi terus memukul-mukul seraya menunjukkan meja yang rusak itu.

Sesaat kemudian, “Tapi, kalau parang ini digunakan secara salah (beliau kemudian membalikkan parang tersebut, dengan posisi mata pisau terbalik yaitu bagian tumpul yang akan digunakan), meski sekuat tenaga kamu memukulkannya, kamu tidak akan dapat memotong dengan baik. Lihat ini,” kata Imam Zarkasyi sambil memukulkan parang itu berkali-kali.

Tentu saja sabetan itu hanya menghasilkan getaran besar, tanpa berhasil memotong. “Maka, cara menggunakan parang itu lebih penting daripada parang itu sendiri,” simpul Imam zarkasyi.

Alhasil, apa yang dinyatakan secara lugas oleh Muhadjir Effendy dan apa yang disampaikan secara metaforis oleh KH Imam Zarkasyi menegaskan tentang posisi sangat dominan dari seorang guru atas “nasib” dari murid-murid yang diasuhnya. Maka, jika demikian, sungguh berat beban moral yang harus ditanggung seorang guru.

Tentang betapa beratnya beban moral yang dipikul oleh guru, mari kita baca Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Sementara, di pasal 3 tentang fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa, pendidikan “Berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Kedua pasal di atas jelas meniscayakan akan kehadiran seorang guru yang profesional. Guru yang profesional harus mampu membimbing muridnya agar bisa meraih tujuan pendidikan.

Sekali lagi, apa tujuan pendidikan nasional kita? Pendidikan nasional bertujuan untuk menjamin berkembangnya potensi peserta didik agar terutama menjadi manusia yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia. Rumusan itu sejalan dengan pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Intelektual Muslim terkemuka itu berkata bahwa pendidikan itu bertujuan utama membentuk manusia yang beradab.

Adab, kata Al-Attas, adalah disiplin ruhani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya. Orang beradab tahu yang haq dan yang bathil.

Halo, Guru!
Mencermati sedemikian vitalnya fungsi guru, maka mari menunduk. Semoga metafora KH Imam Zarkasyi tentang “penggunaan parang” di dunia pendidikan selalu menginspirasi kita. []