Jurus Aplikatif Menjadi Penulis Produktif

0
216

Oleh M. Anwar Djaelani,
dosen The eLKISI Institute

Judul Buku : Rahasia Top Menulis
Penulis : Much. Khoiri
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : I, 2014
Tebal : xiv + 202 halaman

Untuk tema motivasi dan panduan menulis, buku ini komplit. Di dalamnya bertebaran kalimat penyemangat agar kita suka menulis. Tak hanya itu, lengkap pula diungkap teknik menghasilkan tulisan (seperti artikel-opini, cerpen/novel, puisi, dan buku) yang baik. Sekalipun masih dijumpai sedikit kekurangan, buku ini layak direkomendasikan untuk siapapun yang ingin maju.

Mengapa kita harus menulis? “Jika kita menulis hal-hal yang memperkaya pikiran dan jiwa orang lain, maka tulisan-tulisan itu akan menginspirasi dan menggerakkan mereka,” tulis Khoiri (h. 84). Bergerak ke mana? Ke arah kebaikan jika tulisan itu soal kebaikan.

Untuk sukses menjadi penulis, kita harus beralaskan kepada sesuatu yang kita yakini. Sebab, alasan itu akan menjadi penopang daya juang kita sebagai penulis. Motivasi orang menulis ada tiga. Pertama, ingin memerjuangkan sesuatu. Kedua, sebagai tangga menuju kaya. Ketiga, pilihan cara untuk terkenal (h. 4).

Untuk membuat karya tulis –termasuk yang ilmiah- berikut ini langkah-langkahnya; Menemukan ide / tema yang bagus, menguasai masalah dengan membaca referensi yang relevan, membuat outline, menulis draf, mengedit, dan memfinalkan. Adalah ideal, jika draf final itu kita bawa ke orang lain untuk dinilai. Berdasar penilaian itu -jika memang argumentatif- langkah revisi lantas dikerjakan. Jika semua langkah itu sudah dilewati, diharapkan tulisan kita akan berkualifikasi layak (h. 34).

Menulis memang penting, tapi dari mana datangnya inspirasi? Apakah itu hadir secara kebetulan atau harus ditemukan? “Inspirasi itu tumbuh dalam diri Anda sendiri,” karena, “Anda telah memiliki gugusan pengetahuan lama yang kemudian dipicu oleh suatu pengetahuan baru” (h. 115-116). Pengetahuan baru itu bisa diperoleh dengan melihat, membaca, dan mengalami sebuah peristiwa.

Khoiri lalu mendemonstrasikan sebuah contoh. Bagi banyak orang, tayangan di televisi tentang budaya sumo adalah sesuatu yang biasa dan tak menerbitkan inspirasi apa-apa. Tapi, berbeda dengan penulis yang sudah terlatih untuk memungut ide atau tema dari berbagai sudut kehidupan seperti yang sudah melekat pada diri Khoiri. Lewat tayangan itu Khoiri menjadi tahu bahwa ada sepuluh karakter yang harus dimiliki seorang pesumo agar tangguh, yaitu: Konsentrasi, keseriusan, latihan, ketahanan, dinamika, usaha keras, ketulusan, budaya, kesopanan, dan kesabaran.

Di tangan Khoiri, tayangan televisi yang dilihatnya sambil lalu itu bisa melahirkan sebuah artikel-opini berjudul “Menulis dengan Spirit Sumo” (h. 135). Di situ Khoiri menyatakan bahwa sepuluh karakter di atas “Perlu dicamkan dan dihayati oleh penulis profesional” (h. 136). Maka, mengalirlah uraian Khoriri yang menarik soal kesepuluh “falsafah” sumo yang ternyata sama dengan “falsafah” penulis jika ingin berhasil.

Setelah rampung menulis, selesaikah? Tidak! kita wajib “Menyunting Tulisan” (h. 143-146). Runtutkah ide-ide kita? Bagaimana dengan pemilihan diksinya? Bagaimana pula dengan ejaan dan tanda-bacanya, sudah sempurnakah? Untuk menguatkan tentang urgensi menyunting, Khoiri menunjuk buku berjudul In Transitions (1990). Buku itu memuat draf-draf awal penulis hebat dunia –semisal Ernest Hemingway, Franz Kafka, dan Samuel Beckett- yang masih penuh coretan, koreksi, dan sisipan. Ternyata, setelah dibandingkan dengan draf final, terdapat perbedaaan yang signifikan antar-keduanya. Tampak, penulis kelas dunia juga menempuh pembelajaran untuk memperbaiki karya mereka.

Dalam hal gaya menulis bagaimana? Kita perlu menciptakan gaya sendiri yang memiliki kekhasan. “Penulis perlu mencipta tradisinya sendiri,” seru Khoiri sambil mengutip kalimat John M. Ford: “Observe, don’t imitate” (h. 88).

Merasa pernah macet menulis? Jangan khawatir, ada “Jurus Mengatasi Kemacetan Menulis” (h. 151). Lebih khusus lagi, Khoiri merekomendasi kita untuk “Menulis Setiap Hari” sebab dengan begitu “Menulis akan menjadi kegiatan yang ‘lunak’ dan mudah bagi kita.” (h. 160). Setelah itu, “Terbitkan Tulisan tiap Hari,” sebab jika tidak kita lakukan maka akan mubadzir (h. 162). Di mana kita menerbitkannya? Paling awal, bisa di blog pribadi kita. Lalu, di group-group menulis online. Berikutnya, perlu diusahakan secara serius agar tulisan kita –seperti puisi, cerpen, dan artikel-opini- bisa menembus media cetak seperti koran, tabloid, dan majalah.

Setelah cukup lama berkarya, langkah evaluasi kita perlukan. Lewat “Cara Praktis Mengukur Kemajuan Menulis” Khoiri-pun memberikan pedoman: “Jika Anda menemukan bahwa tulisan Anda setahun silam itu tetap bagus dalam penilaian Anda, maka kemajuan Anda lambat” (h. 139).

Buku ini akan jauh lebih bernilai jika editing dikerjakan dengan ketat. Apa pasal? Sebagai buku yang berasal dari sekumpulan artikel-opini yang telah terbit dan “terserak” di sebuah media online, potensial untuk mengidap dua “pernyakit” laten yaitu: Pertama, pemakaian “bahasa online” seperti “siang tadi” (h. 161), “hari-hari ini” (h. 135), “sejak tahun lalu” (h. 164), dan “beberapa hari lalu” (h. 170). Kedua, pengulangan ide. Lihat saja di h. 120 dan h 145-146. Di sana ada dua paragraf yang persis sama.

Apapun, secara keseluruhan buku ini patut diapresiasi. Pertama, karena ditulis oleh orang yang tepat. Khoiri –si penulis- berprofesi sebagai dosen di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk mata kuliah Sastra Inggris, Creative Writing, dan Kajian Budaya. Dia pun seorang penulis yang produktif. Berbagai karya –seperti makalah, artikel ilmiah (untuk jurnal), artikel-opini, cerpen, puisi, kisah perjalanan, dan buku- telah banyak dihasilkannya. “Pagi pegawai, petang pengarang,” kata dia di banyak kesempatan.

Kedua, buku ini layak dijadikan pegangan bagi calon penulis, penulis (untuk menyegarkan wawasan), maupun bagi pengajar menulis (untuk referensi). “Sebagai pengajar saya akan banyak merujuk pada tip-tip di buku ini,” kata Sirikit Syah, seorang dosen dan penulis.

Sirikit benar! Resep-resep di buku ini tampak mudah dikerjakan. Spirit yang digelorakan buku ini bisa membakar semangat untuk terus berkarya tanpa henti. Bukankah menulis itu tak mengenal libur dan apalagi pensiun? []