KH Abu Bakar Profil Ayah yang Sukses

0
279
Sumber gambar : https://www.myedisi.com/jendela/2871/7600/kh-ahmad-dahlan-pelopor-pembebasan-pemaduan-dan-pembaharuan-pendidikan

Oleh M. Anwar Djaelani,
dosen The eLKISI Institute

KH Ahmad Dahlan adalah Ulama Besar. Prestasi pendiri Muhammadiyah itu-rasanya-cukup sulit disamai oleh rata-rata orang. Muhammadiyah, persyarikatan dakwah yang didirikannya pada 1912, berkembang pesat. Sekadar menyebut indikasi capaiannya, kini Muhammadiyah mampu berdakwah lewat ribuan sekolah dan ratusan Perguruan Tinggi yang dimilikinya. Sekarang, Muhammadiyah dapat berdakwah melalui begitu banyak klinik kesehatan dan Rumah Sakit yang dipunyainya. Pun, setelah lebih seabad usianya, Muhammadiyah lebih mantap berdakwah lewat Panti-panti Asuhan yang dikelolanya dan yang telah tersebar di berbagai pelosok Indonesia. Atas ini semua, bermanfaat kiranya jika kita ajukan pertanyaan: Siapa orangtua-terutama ayah-dari Ahmad Dahlan yang telah mengantarkannya berhasil gemilang di dunia dakwah?

Buah Pendidikan
Ahmad Dahlan terlahir dengan nama Muhammad Darwis pada 01/08/1868. Nama Ahmad Dahlan dipakai setelah dia pulang dari berhaji. Mengganti nama seperti itu, lazim di masa tersebut.

Masa kanak-kanak Ahmad Dahlan terbilang menyenangkan dan bahagia Dia dibesarkan di sebuah keluarga yang terpandang karena sang ayah adalah tokoh masyarakat di kampungnya, Kauman – Yogyakarkarta. Sang ayah-KH Abu Bakar- adalah pemuka agama di Keraton Yogyakarta. Posisinya, adalah ulama yang menjadi imam dan khotib di Masjid Gedhe Kesultanan Yogyakarta.

Dahlan kecil mendapatkan pendidikan agama sejak kanak-kanak. Dia beruntung, sebab anak keempat dari tujuh bersaudara itu punya ayah yang sangat bisa mengarahkan. Dia juga punya ibu dengan garis keturunan yang baik dan terhormat. Sang ibu-Siti Aminah-adalah anak kandung Haji Ibrahim yang merupakan Penghulu Kesultanan Yogyakarta.

Dahlan kecil tumbuh-kembang di lingkungan keluarga yang berpendidikan. Maka, menarik jika kita cermati bagaimana-terutama-sang ayah mendidik Dahlan kecil.

Pertama, sang ayah memosisikan diri sebagai pendidik pertama bagi anaknya. KH Abu Bakar mendidik Dahlan kecil ilmu agama secara serius. Al-Qur’an dan berbagai dasar ilmu Islam diajarkan langsung oleh sang ayah. Hasilnya, saat baru menginjak usia 8 tahun, Dahlan kecil telah mampu memahami ilmu dasar membaca dan menulis Al-Qur’an. Dengan modal tersebut akan jauh lebih mudah bagi Dahlan dalam menyerap ilmu-ilmu Islam lainnya (Abdul Wali Kusno, 2020: 155). 

Kedua, sebagai ayah, KH Abu Bakar bisa memilihkan waktu dan tempat yang tepat saat memberikan pelajaran bagi sang anak. Tentu saja, tempat yang paling sering dipakai adalah di rumah sendiri. Berikutnya, di masjid. Memang, si ayah mengajari Dahlan kecil secara khusus dan dengan waktu khusus, misalnya sehabis berjamaah isya’ di masjid.

Tentang urgensi pemilihan waktu dan tempat, cermatilah bagaimana Nabi Muhammad Saw memosisikan diri sebagai pendidik di berbagai situasi yang berbeda. Bagaimana gambaran Nabi Saw di saat memberikan pendidikan? Lihat penjelasan berikut ini.

Jika misalnya posisi Nabi Saw sedang di bidang ketentaraan, maka Beliau Saw adalah pelatih dan pemberi nasihat yang mengobarkan hati dan memberikan dukungan kepada tentara dengan ucapannya. Jika posisi Nabi Saw sedang bersama-sama di sebuah perjalanan, maka Beliau Saw adalah guru sekaligus penunjuk jalan. Jika Nabi Saw sedang di rumah, Beliau Saw adalah pendidik bagi keluarganya. Jika Nabi Saw di masjid, Beliau Saw adalah guru dan juru khutbah (M. Alawi Al-Maliki, 2002: 5). Rupanya, sebagai ayah, KH Abu Bakar di saat mendidik Dahlan kecil telah berusaha untuk menjadikan cara Nabi Muhammad Saw sebagai teladan yang harus diikuti.

Ketiga, sebagai ayah, KH Abu Bakar sering memberikan nasihat lewat berbagai kisah atau cerita. Kisah atau cerita yang paling dibanggakan Dahlan kecil ialah perihal dirinya dan silsilah keluarganya.

Kisah yang paling disenangi Dahlan kecil adalah saat sang ayah menyampaikan perihal sesepuhnya yang merupakan salah satu dari Wali Songo, sembilan pelopor pertama penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa. Dahlan kecil merasakan nada kebanggaan dari sang ayah setiap kali silsilah keluarga yang menyambung sampai ke Syekh Maulana Malik Ibrahim itu disampaikan (M. Sanusi, 2013: 16-17).

Seperti apa silsilahnya? Inilah urutan garis keturunan itu: Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan) adalah putra KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Demang Jurung Juru Kapindo bin Demang Jurung Juru Sapisan bin Maulana Sulaiman (Ki Ageng Gribig) bin Maulana Fadlullah bin Maulana Ainul Yakin bin Maulana Ishak bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 2009: 54).

Dahlan kecil kagum ketika si ayah menceritakan asal-usul Syekh Maulana Malik Ibrahim. Bahwa, ulama yang berasal dari Afrika Utara dan dimakamkan di Gresik itu, menurut beberapa sumber adalah keturunan dari Nabi Muhammad Saw dari garis Husain bin Ali (M. Sanusi, 2013: 16).

Penggunaan kisah di saat mendidik memang sangat dianjurkan. Hal itu, karena kisah memiliki pengaruh yang sangat kuat kepada yang membaca atau mendengarnya. Cermatilah, Al-Qur’an secara khusus meminta kita untuk menjadikan kisah sebagai sumber pembelajaran. Bacalah, misalnya, QS Yusuf [12]: 111 dan QS Huud [11]: 120.

Kisah dapat memicu secara posisif perkembangan mental dan jiwa siapapapun dan terutama anak-anak. Lihatlah, Al-Qur’an–sebagai pedoman hidup-mengandung banyak kisah dan bahkan porsinya sekitar 60%.

Terasa, bahwa KH Abu Bakar–sebagai ayah-telah memakai metode pemberian kisah saat mendidik Dahlan kecil. Hasilnya, bisa kita saksikan sendiri.

Keempat, sebagai ayah KH Abu Bakar sering-atau selalu-memberikan lingkungan terbaik bagi si anak. Misal, Dahlan kecil sering diajak si ayah di saat mengisi pengajian di berbagai tempat. Pola-berupa kebiasaan mengajak anak ikut merasakan secara langsung aktivitas amar makruf nahi munkar-membuat Dahlan kecil tumbuh-kembang menjadi pribadi yang cerdas, kritis, pemberani, dan bertanggung-jawab.

Masih di cara keempat ini, cukup sering Dahlan kecil diajak oleh si ayah menghadiri rapat. Salah satu di antara rapat yang diikutinya adalah rapat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Agendanya, persiapan menyambut Bulan Suci Ramadhan. Saat itu, Dahlan baru berusia sekitar 9 tahun.

Fokus Dahlan kecil tertuju kepada fragmen berikut ini. Di rapat itu, di antara yang hadir, banyak yang bingung saat hendak melaksanakan tradisi ruwatan menjelang Ramadhan. Apa pasal?

Di saat itu harga kebutuhan pokok melonjak naik. Maka, terkait itu, anggota Takmir Masjid Gedhe Kauman yang ikut rapat belum memutuskan apa yang harus dilakukan. Hanya saja, kemudian, atas perintah Kiai Kamaludiningrat-Kiai Penghulu Keraton Yogyakarta-tradisi yang sudah turun-temurun itu harus dilaksanakan bagaimanapun caranya.

Dahlan kecil, yang mengerti persoalan tersebut, merasa tidak bisa menerima hal itu. Bagi dia, pertama, tradisi ruwatan tidak diajarkan Islam. Kedua, ruwatan tergolong pekerjaan membuang-buang rezeki, sebuah kegiatan yang sia-sia.

Beralasankah apa yang dipikirkan Dahlan kecil itu? Apa ruwatan? Ruwatan adalah satu upacara kepercayaan yang diyakini sebagai ritual membuang sial yang disebut sukerto alias penderitaan. Istilah ruwatan, artinya membebaskan dari ancaman marabahaya yang datangnya dari Betoro Kolo-raksasa pemakan manusia-anak raja para dewa yakni Betoro Guru. Biasanya ruwatan disertai sesaji dan wayangan untuk menghindarkan agar Betoro Kolo tidak memangsa (www.kiblat.net 23/10/2014).

Kembali ke Dahlan kecil. Dia tahu diri posisinya di rapat itu. Maka, “penolakan”- nya kepada ruwatan itu hanya bisa diungkapkannya kepada salah satu kakak iparnya yang juga menjadi salah satu Kiai di Kauman – Yogyakarta. Si kakak ipar lalu menasihatinya, bagaimana seharusnya bersikap di tengah-tengah masyarakat yang seperti itu.

Sukses, Sukses!
Melihat performa Dahlan kecil, terasa bahwa KH Abu Bakar-sebagai ayah-telah berhasil mendidik Ahmad Dahlan. Pertama, sebagai anak, Ahmad Dahlan berakidah kuat. Kedua, sebagai anak, Ahmad Dahlan peduli kepada keadaan sekitar dengan selalu menilainya dari sisi syariat Islam dan lalu menyikapinya dengan semangat amar makruf nahi munkar. Ketiga, sebagai anak, Ahmad Dahlan punya akhlak yang baik yaitu bisa menempatkan diri.

Jika memperhatikan itu semua, maka, sungguh ada alasan yang kuat jika para orangtua-terutama segenap ayah-menjadikan KH Abu Bakar sebagai pribadi yang patut untuk diteladani dalam hal cara mendidik anak. Alhamdulillah! []