Martabat Orang yang Belajar Ilmu Ad-dien

0
147
Halaqoh Tholabul Ilmi Santri Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto Jawa Timur

Martabat Belajar Ilmu Ad-dien
Oleh : Ainur Rofiq*

Dari dari Abu Waqid al Laiitsy, Rosululloh ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُم ْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَالَ : أَلاَ أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاَثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْه

“Abu Waqid al-Laitsi mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ , duduk di masjid bersama orang-orang, tiba-tiba datang tiga orang. Dua orang menghadap kepada Rasulullah ﷺ . dan seorang (lagi) pergi. Dua orang itu berhenti pada ﷺ , yang seorang duduk di belakang mereka, dan yang ketiga berpaling, pergi. Ketika Rasulullah ﷺ . selesai, beliau bersabda, “Maukah saya beritakan tentang tiga orang. Yaitu, salah seorang di antara mereka berlindung kepada Allah, maka Allah melindunginya; yang seorang lagi malu, maka Allah malu terhadapnya; dan yang lain lagi berpaling, maka Allah berpaling darinya.” (HR. Bukhori)

Faidah Hadits
Rosululloh ﷺ mengklasifikasikan derajat orang yang belajar Dien (agama) menjadi 3, yaitu:

  • Mengambil duduk paling dekat dalam majelis ilmu

Artinya: orang yang bersemangat mempelajari ilmu, maka Alloh mendekatkan dia dengan rahmat-Nya baik anugerah pahala, ampunan dosa-dosa, difahamkan terhadap Dien, serta dimudahkan baginya jalan menuju surga. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang meniti suatu jalan yang ia mencari padanya suatu ilmu (agama), maka Alloh memudahkan baginya dengan (ilmu tersebut) suatu jalan menuju surga” (HR. Muslim dari Abu Huroiroh)

  • Mengambil duduk di bagian belakang majlis ilmu karena malu-malu

Artinya: Kurang bersemangat mempelajari ilmu. Terhadap orang ini, Alloh Ta’ala malu memberikan rahmat-Nya pada dia. Sebagaimana Alloh ta’ala mensifatkan orang yang senang mencari shof sholat bagian belakang/akhir, maka Alloh pun mengakhirkan dia dari rahmat-Nya. Seperti sabda Rasulullah ﷺ ketika melihat sahabat-sahabatnya datang terlambat pada sholat jama’ah:

تَقَدَّمُوا فَائْتَمُّوا بِى وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ لاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ

“Majulah kalian, lalu ikutilah aku. Dan hendaklah orang yang di belakangmu mengikutimu. (dan) tidaklah henti-hentinya suatu kaum yang berakhir-akhir dalam shof  sehingga Alloh mengakhirkannya (dari rahmat-Nya)” (HR. Muslim dari Abu Sa’id al Khudzri)

  • Pergi meninggalkan majlis ilmu karena enggan mempelajarinya

Orang tersebut telah berpaling dari Allah, Maka Allah pun berpaling darinya. Alah Ta’ala telah menyediakan baginya 2 adzab, yakni di dunia dan Akhirat. Firman Allah Ta’ala dalam surat Ta ha:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى 124 قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا 125 قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى 126

(124) “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (125) Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” (126) Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”.

  • Tidak diperbolehkan “Itsar” (mendahulukan orang lain dari dirinya) dalam beribadah dan taqorrub ilalloh. Sebagaimana dalam Qoidah Fiqh:

الإِيْثَارُ فِى اْلقُرْبِ مَكْرُوْهٌ

“Itsar” dalam hal ibadah adalah dibenci”

Dalam hal menyusun shof misalnya. seseorang yang mengatakan “silahkan anda menempati shof yang depan saja, biar saya di belakang”. Ini tidak diperbolehkan. Karena ia seharusnya berlomba-lomba mendapatkan shof terdepan karena keutamaannya, sebagaimana yang banyak tersebut dalam beberapa hadits shohih.

Adapun sebaliknya, “Itsar” dalam hal yang lain (duniawi) lebih dicintai. Seperti orang yang lebih mengutamakan memberi makanan pada orang lain yang lebih kelaparan dari pada dirinya. Sungguh para sahabat Nabi adalah orang yang Itsar dalam urusan duniawi sebagaimana yang disebutkan Alloh Ta’ala:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ … 9

“Dan mereka (Sahabat Anshor) mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)…” (QS. Al Hasyr : 9)

*Pendidik di Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI dan Dosen The eLKISI Institute