Peduli Sesama; Membuka Pintu Berkah

0
197
Posko eLKISI untuk Kelud

Oleh Ustadz Syamsul Arif,
Pusat Pelayanan Ponpes eLKISI Mojokerto

Ustadz Syamsul Arif (Kanan) bersama Ustadz M. Anwar Djaelani-Penulis Buku “Jejak Kisah Pengukir Sejarah”

Hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya kita mendapat kesenangan. Sebaliknya, bencana pun bisa sewaktu-waktu datang. Terkait itu -sebagai makhluk- kita terus bermohon kepada Allah, agar terhindar dari malapetaka. Tentu, harus dibarengi dengan peningkatan kualitas iman yang baik.

Di saat musibah menimpa, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama? Oleh Rasulullah SAW kita diminta untuk tolong-menolong. Memang, manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial.  Di titik ini, manusia yang satu memiliki “keterkaitan” dengan manusia yang lain. Terutama, di saat sedang menghadapi kesulitan.

Pelajaran dari Kelud

Masih lekat kuat dalam ingatan saya, kalimat yang pernah disampaikan KH Fathur Rohman Fadhil (Direktur Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI) di saat Gunung Kelud meletus, Kamis 13/02/2014. “Hentikan pembangunan, alihkan perhatian kita kepada korban Kelud,” seru beliau. Kala itu, Ponpes eLKISI sedang fokus pada urusan pembangunan asrama dan itu hal penting untuk menyiapkan sarana dan prasarana pondok. Tetapi, menolong saudara yang tertimpa musibah, jauh lebih penting.

Meletusnya Gunung Kelud membawa kabar duka. Efek letusan tersebar hingga ke daerah-daerah sekitar. Tak terkecuali, Ponpes eLKISI pun terkena imbas abu vulkanik. Sempat terbersit dalam pemikiran saya, betapa baiknya Allah mengingatkan kita akan kuasa-Nya. Bencana yang terjadi ditujukan kepada kita, agar senantiasa peduli terhadap alam, dan jangan merusaknya.

Sebagai pondok pesantren yang berbasis pada edukasi dan sosial keummatan, eLKISI selalu hadir dan memberikan solusi terhadap permasalahan keummatan. Termasuk mengambil peran dalam membantu korban bencana alam. Melalui penggalangan dana lewat jamaah-jamaah binaan, terkumpullah donasi yang siap didistribusikan kepada korban Kelud.

Hari kelima usai musibah, puluhan relawan eLKISI diberangkatkan ke lokasi bencana. Mereka adalah para pengurus dan pengasuh Ponpes eLKISI, para ustadz, dan juga santri. Tak ketinggalan, jamaah di sekitar pondok juga ikut serta dalam misi sosial itu. Bahan makanan serta pakaian layak pakai -hasil sumbangan jama’ah- siap didistribusikan kepada masyarakat yang terdampak bencana. 

Setelah sekitar tiga jam lebih perjalanan, tibalah kami di lokasi bencana. Para relawan membantu warga membersihkan rumah mereka, juga tempat ibadah. Tumpukan pasir setebal +/- 30 cm di dalam rumah warga, membuat kami -para relawan- harus ekstratenaga untuk membersihkannya. Selain itu, eLKISI juga menyiapkan genteng, dikarenakan genteng rumah warga dan tempat ibadah telah hancur terkena musibah letusan Kelud.

Relawan eLKISI berangkat ke lokasi
Relawan eLKISI untuk Kelud

Tidak hanya sampai di situ, eLKISI juga menyiapkan dapur umum di Desa Sumberagung Badas Kediri. Dengan penuh semangat, jamaah ibu-ibu di tempat itu bergotong-royong memasakkan makanan bagi korban. Setiap hari, ratusan bungkus nasi dikirim dan dibagikan kepada korban. Kegiatan ini berlangsung hingga beberapa hari.

Tak lama berselang, janji Allah nyata kita rasakan. Melalui kontak telepon langsung kepada pimpinan pesantren, seorang dermawan memberikan sumbangan kepada Ponpes eLKISI sebesar Rp 1 Milyar. Masya-Allah, sungguh indah skenario Allah. Tidak perlu menunggu balasan Allah di akhirat, kebaikan itu langsung diganjar di dunia.

Mari kita perhatikan firman Allah berikut ini: “Dan tidaklah mereka memberikan infaq, baik yang kecil maupun yang besar dan tidak (pula) melintasi suatu lembah (berjihad), kecuali akan dituliskan bagi mereka (sebagai amal kebajikan), untuk diberi balasan oleh Allah (dengan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS At-Taubah 121).

Setidaknya, ada beberapa ibrah atau pelajaran penting yang bisa kita ambil dari ayat di atas. Pertama, tidak ada yang sia-sia dari harta yang kita infaqkan untuk menolong saudara yang tertimpa musibah. Allah akan memberi kemudahan bagi siapa yang memudahkan urusan orang lain. Hal ini relevan dengan sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa memudahkan orang lain yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan baginya di dunia dan di akhirat” (Hadits Riwayat Muslim).

Kedua, Allah akan mengganti dengan balasan yang lebih baik, bagi siapa yang mau berbuat baik. Sebagaimana Allah telah tunjukkan kepada kita, dengan mengirim seorang dermawan untuk membantu kebutuhan Pondok, yang nilainya jauh lebih besar dari nominal yang kita sumbangkan.

Ketiga, Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia menolong saudara muslim lainnya. Lalu, kapan Allah akan menolong kita? Subhanallah, ternyata kuncinya adalah kapan saja kita menolong saudara kita. Sebesar perhatian kita kepada saudara, maka sebesar itu  pula –dan bahkan lebih  dari itu- perhatian Allah kepada kita.

Kiranya perlu menjadi renungan kita semua, bahwa melakukan amal kebaikan tidak perlu harus selalu disuruh. Marilah kita mulai perbaiki diri kita menjadi lebih baik lagi, karena sebaik-baik diri adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini.

Begitulah seharusnya kita memberi pelajaran kepada para santri. Mereka tidak semata-mata diajarkan untuk menjawab soal-soal ujian. Tetapi, juga menyiapkan mereka agar sigap dalam menjawab soal-soal kehidupan. Hal ini sangat penting, dan tidak boleh terlewatkan. Maka, santri harus dilatih dan dibiasakan memiliki empati kepada saudara yang mendapat musibah. Contoh, dengan menyisihkan uang jajan mereka untuk membantu sesama, terpaksa atau suka rela.

Kita Bisa!

Perjalanan hidup kita akan menuju kepada Sang Pencipta. Sebelum saatnya tiba, perbanyaklah berbuat baik dengan landasan untuk memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sungguh, sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bisa memberi manfaat kepada manusia yang lain.

Demikianlah, ada hikmah di balik musibah Gunung Kelud. Allah akan senantiasa menolong kita, selama kita mau menolong saudara kita. Menjaga dan melestarikan semangat tolong-menolong ini, harus terus berkobar dalam diri seorang Muslim sampai denyut nafas terhenti. Jangan ragu membantu sesama, karena di sana terdapat banyak hikmah dan berkah. []