Pelajaran Indah dari Kamar Aisyah

0
381

Oleh Ustadzah Nurul Kholifah
Koordinator Perpustakaan eLKISI IIBS Mojokerto

Kala itu tahun 2016 saya diberi amanah untuk menjadi Wali Kamar, “Kamar  Aisyah”. Kamar itu adalah kamar besar yang berisi sekitar 21 santri yang terdiri dari santri kelas 8, 9 dan 12.

Di Pondok Pesantren eLKISI biasanya pergantian kamar dilakukan tiap 6 bulan sekali. Hal itu dilakukan agar santri tidak jenuh berada di kamar yang sama dan teman yang sama. Dengan adanya pergantian kamar para santri diharapkan bisa mengenal santri lain, tidak hanya teman seangkatan saja tetapi juga adik kelas bahkan kakak kelas. Di samping itu, dengan adanya pergantian kamar santri juga bisa merasakan perubahan tempat tidur, yang dulu tinggal di kamar atas bisa merasakan bagaimana tinggal di kamar bawah, demikian juga yang sudah terbiasa tinggal di kamar bawah bisa merasakan bagaimana capeknya naik-turun tangga.

Kamar Aisyah kala itu diisi oleh santri-santri khusus, entah itu kebetulan atau memang sudah direncanakan. Kenapa saya bilang mereka santri khusus? Mereka memang para santri yang perlu perhatian khusus, bukan karena fisik mereka atau akal mereka yang “tak seperti biasanya”. Tetapi karena tingkah laku mereka yang dinilai kurang beradab sebagai santri. Misalnya, mereka masih suka teriak-teriak di asrama, di kamar mandi, suka menyanyi, suka bawel kalau dinasehati, bahkan suka ghibah tentang Ustadzah yang kurang berkenan di hati mereka.

Ustadzah Nurul (kanan)
Ustadzah Nurul bersama Santrinya

Memang tidak semua penghuni Kamar Aisyah berperilaku demikian, tetap masih ada beberapa santri yang baik dan sopan. Tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak untuk bisa mengingatkan teman-temannya.

Suatu ketika saya membuat aturan kamar yang membuat mereka tidak bisa berkutik. Hampir tiap sore dan malam saya mendatangi mereka di asrama, saya selalu marah ketika keadaan kamar tidak rapi. Saya juga tidak segan untuk merampas pakaian, jilbab, buku, sepatu, sandal, atau apapun itu yang tidak berada di tempatnya.

Pernah suatu ketika pukul 21.00 saya mendatangi mereka di asrama. Rupanya mereka sudah hafal dengan suara sepeda motor yang selalu saya kendarai untuk keliling asrama.

Ketika membuka pintu kamar saya lihat mereka seakan-akan sudah tertidur pulas, lampu dalam keadaan mati. Padahal saya tahu mereka itu belum tidur. Saya masih mendengar suara gaduh mereka ketika pertama kali saya masuk gerbang asrama putri.

Tak mau kalah dan tak ingin dibodohi oleh santri, saya nyalakan lampu dan saya tarik selimut salah satu santri. Apa yang terjadi? Dia tertawa terbahak-bahak dan diikuti oleh santri-santri lain. Kamarpun menjadi gaduh. Akhirnya, satu kamar saya minta untuk membersihkan kamar dan membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sementara, jarak asrama dengan TPA lumayan jauh dan setelah itu mereka harus muroja’ah juz 29.

Setiap hari saya wajibkan kamar untuk selalu bersih dan rapi. Jika masih ada barang yang belum rapi maka akan saya rampas dan akan saya serahkan ke warga kampung yang membutuhkan. Hal ini membuat mereka kesal karena terkadang mereka harus kehilangan barang kesayangannya. Dalam hati sebenarnya saya juga tak tega, tapi untuk mendisplinkan mereka saya harus melakukannya.

Terkadang saya juga memarahi mereka, tetapi bukan karena saya membenci mereka atau jengkel dengan mereka, tapi justru karena saya menyayangi mereka. Saya tak rela melihat mereka hanya bermalas-malasan di Pondok, tidak sungguh-sungguh. Apa yang akan mereka peroleh dari Pondok jika mereka tidak bersungguh-sungguh? Padahal orangtua mereka bekerja siang dan malam demi membiayai mereka di pesantren.

***

Pesantren eLKISI terbuka, tak ada tembok tinggi yang mengelilinginya. Kami ingin anak-anak tak merasa seperti di dalam penjara. Kami ingin anak-anak bisa menikmati udara segar, memandang luasnya bumi Allah yang indah, menikmati gagahnya Gunung Penanggungan yang terletak di sebelah timur daya pesantren kami. Pesantren kami hanya dikelilingi oleh pagar iman dan taqwa. Jika santri yang tidak bertaqwa, ia akan mudah lepas keluar meninggalkan pesantren. Tetapi jika ia adalah santri yang bertaqwa ia akan menjaga betul langkah kakinya agar jangan sampai melanggar aturan pesantren, meskipun ustadz dan ustadzahnya tak selalu mengawasinya.

***

Sore itu handphone saya berbunyi, tit…tit…, pertanda WA masuk. Lalu saya buka, rupanya pesan dari grup kependidikan. Mata saya terbelalak ketika membaca pesan singkat tersebut. “Apa, mereka kabur dari pondok,” tanya saya dalam hati. Saat itu, saya seakan tak percaya mereka begitu nekat. Mereka adalah beberapa santri kelas IX putri, anak-anak asuhan saya di Kamar Aisyah. Para ustadz dan ustadzah berpencar ke sawah-sawah untuk mencari mereka, bahkan ada beberapa ustadz yang langsung menuju ke jalan raya untuk memastikan apakah anak-anak itu menuju ke sana.

Hampir satu jam kami mencari mereka dan menanyai sejumlah saksi. Lalu, siapakah saksi itu? Mereka adalah teman-teman dekat atau teman-teman yang terakhir melihat mereka. Namun, rupanya tak ada yang tahu pasti kemana mereka pergi.

Dalam hati saya, rasa khawatir pasti ada, karena mereka adalah gadis-gadis belia. Bagaimana jika nanti mereka diperdaya oleh orang-orang jahat yang tidak bertanggung jawab? Pikiran saya mulai berkecamuk, ada rasa bersalah yang terbesit di dalam dada. Rasa bersalah karena mungkin saya terlalu keras mendidik mereka sehingga mereka merasa tertekan dan kabur dari pesantren. Dalam hati saya terus berdo’a, “Yaa Allah, ampuni saya jika memang saya telah mendzalimi mereka, lindungilah mereka, dan kembalikanlah mereka kepada kami.”

Allah mendengar do’a saya. Setelah beberapa saat akhirnya mereka datang bersama dua orang ustadz. 

“Alhamdulillah, kalian darimana saja sih Nak,” tanya saya sambil memegang tangan salah satu dari mereka, sebut saja Ayu namanya.

”Hmm, maaf Ustadzah. Kami bermain terlalu jauh dari area pesantren,” kata Ayu agak ketakutan.

”Apakah kalian tahu, kalian itu sudah membuat banyak orang merasa cemas? Kalian tidak boleh seperti itu, kalau terjadi sesuatu bagaimana,” nasihat saya.

“Iya ustadzah,” jaawab mereka.

Keesokkan harinya Kepala Sekolah memanggil mereka dan setelah ditanyai ternyata memang benar mereka berniat untuk kabur dari pesantren. Akhirnya Kepala Sekolah memutuskan untuk memanggil orangtua mereka. Di sinilah kesabaran saya diuji.

Ada beberapa orangtua yang tidak terima ketika putrinya dinyatakan melakukan pelanggaran adab. Orangtua tersebut marah-marah, membela putrinya mati-matian.

Saya yang tak tahan dengan ucapan mereka hampir saja ikut tersulut emosi, tapi alhamdulillah ada ustadz yang mengingatkan saya bahwa diam itu lebih baik. Akhirnya, saya hanya mengangguk-angguk mendengarkan ucapan mereka.

Entah ada angin apa, beberapa hari setelah itu, Ayu datang dengan membawa sesuatu dan menyerahkannya kepada saya.

“Ustadzah, ini ada titipan dari Umi,” kata Ayu.

“Oh iya, terimakasih,” jawab saya dengan singkat.

Setelah saya buka ternyata itu sebuah hadiah cantik dan terselip di dalamnya sepucuk surat permintaan maaf dari Ayu dan keluarganya. Entah kenapa ketika membaca surat itu saya menitikkan airmata, mungkin karena saya masih teringat kejadian di ruang Kepala Sekolah beberapa waktu yang lalu.

Sejak saat itu, anak-anak penghuni Kamar Aisyah berubah menjadi lebih baik, mereka lebih terbuka dan cukup disiplin. Semua Asatidzah berusaha keras untuk bisa mengendalikan mereka. Alhamdulillah, sampai mereka lulus tidak ada lagi kasus yang serupa.

***

Hari perpisahan itu akhirnya datang juga. Sebagian mereka –santri di Kamar Aisyah- ada yang tetap di Pesantren eLKISI dan ada juga yang melanjutkan di sekolah lain. Ternyata perpisahan itu memilukan hati, teringat hari-hari saat masih bersama mereka dulu. Hari-hari yang diwarnai oleh suka dan duka.

Tak disangka, saat hari terakhir mereka ada di Pesantren eLKISI, mereka memberi saya hadiah kecil dan sepucuk surat yang berisi ucapan terimakasih dan permohonan maaf. Isi surat itu membuat saya terharu.

Alhamdulillah, hingga saat ini setiap Hari Raya Idul Fitri, mereka menyempatkan diri untuk bersilaturrahim ke rumah saya. Ketika bersilaturrahim ke Pesantren eLKISI-pun mereka masih menemui saya. Semoga kita bisa bersama-sama di surga-Nya kelak. Aamiin.

***

Sungguh, dari Kamar Aisyah, ada pesan berharga: Diam itu, di saat memang seharusnya diam, lebih baik jika dibanding dengan berkata-kata. Pantas saja Nabi Saw berpesan, “Fal yaqul khoiron auw liyasmut” yang artinya “Berkatalah yang baik atau –jika tidak- diam” (HR Bukhari). Sungguh, dari Kamar Aisyah, ada pelajaran indah; Sabar itu berat namun akan indah pada akhirnya. []