Pendidikan Terbaik untuk Peradaban Mulia

0
340
Gambar Ilustrasi : eLKISI IIBS Mojokerto

Oleh M. Anwar Djaelani,
dosen The eLKISI Institute

Biasanya, terutama di sekitar Juni dan Juli, masyarakat tampak antusias jika berbicara pendidikan. Antara lain, banyak yang membicarakan kelanjutan pendidikan anak-anak mereka. Terasakan, semangat para orangtua dalam mencarikan sekolah terbaik bagi putra-putrinya.

Investasi, Investasi!
Performa para orangtua yang antusias mencarikan lembaga pendidikan terbaik bagi belahan jiwanya karena mereka sadar bahwa: Pertama, mereka memang berkewajiban menyelamatkan aqidah anak-anaknya lewat pemberian pendidikan yang baik. Islam mengajarkan bahwa ”Anak-anak itu terlahir suci. Orangtuanya-lah yang menjadikan mereka Yahudi, Nasrani, dan Majusi”. Kedua, masa depan cerah sering lebih berpeluang dimiliki oleh anak-anak yang memiliki riwayat pendidikan yang baik.

Jika kesadaran orangtua sudah seperti gambaran di atas, maka inilah awal yang baik bagi terwujudnya kehidupan yang bermartabat. Perhatikanlah ayat ini: ”Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Mujaadilah [58]: 11).

Kita bersyukur, bahwa tujuan Pendidikan Nasional –bisa dibilang- selaras dengan Islam. Perhatikanlah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di pasal 1 ayat 1 disebutkan   bahwa, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Sementara, terkait fungsi dan tujuan pendidikan diatur di pasal 3, bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Kita lalu maklum, jika kemudian segenap orangtua berusaha sekuat tenaga memilihkan pendidik dan Lembaga Pendidikan terbaik yang diyakini dapat menjadi katalisator tercapainya kondisi sebagai generasi yang shalih, cerdas, dan berakhlak mulia bagi anak-anak mereka. Para orangtua itu yakin bahwa jika ”berinvestasi” sekarang dengan membelanjakan sebagian rizki dari Allah untuk biaya pendidikan anak-anaknya, ada harapan 20–30 tahun ke depan, benih yang ditanamnya itu akan berbuah manis. 

Berikutnya, dalam aktivitas hidup apa saja perlu pengorbanan, termasuk kala memberi pendidikan terbaik bagi anak-anak. Untuk apa segala pengorbanan itu? Agar kita dapat turut serta dalam gerakan menegakkan peradaban yang mulia.

Untuk itu, sejenak kita buka sejarah. Terbaca bahwa peradaban Islam yang agung hanya akan terwujud jika gerakan itu dimulai —dan terus ditopang— oleh ilmu yaitu lewat proses pendidikan. Sementara, ilmu akan terus berkembang baik jika dibangun di atas tradisi membaca dan menulis yang kuat. Tradisi itulah yang bisa menjelaskan mengapa di tujuh abad pertama sejarah keislaman, umat Islam memimpin dunia ilmu pengetahuan dan peradaban dunia.

Ada harapan, kita dapat juga memiliki catatan amaliyah laksana generasi awal umat Islam yang berprestasi gemilang lantaran ketat dalam menjaga tradisi keilmuan, yaitu tekun beraktivitas membaca dan menulis. Lihat saja, budaya itu mampu mengubah bangsa Arab yang jahiliyah menjadi orang-orang yang senang dengan ilmu dan berakhlak mulia.

Tradisi membaca dan menulis yang antara lain berdasar kepada QS Al-‘Alaq [96]: 1-5 dan QS Al-Qalam [68]: 1 begitu hidup di zaman Rasulullah Saw. Tiap ayat Al-Qur’an turun, Rasulullah Saw meminta kepada Sahabat seperti Zaid bin Tsabit Ra, Ali bin Abi Thalib Ra, dan Sahabat-Sahabat lain untuk menuliskannya.

Ali bin Abi Thalib Ra —sebagaimana juga Abu Bakar Ra, Umar bin Khaththab Ra, Ibnu Abbas Ra, dan para Sahabat yang lain— lebih menyibukkan diri mencari ilmu, berdakwah, dan berjihad daripada mengumpulkan harta. Bahkan, Usman bin Affan Ra dan Abdurrahman bin Auf Ra —yang terkenal kaya— juga selalu ingin mendapat ilmu atau pendidikan langsung dari Rasulullah Saw.

Kita harus bisa mewarisi semangat Ali bin Abi Thalib Ra (dan para Sahabat lainnya) serta generasi pelanjut Rasulullah Saw yang istiqomah mengembangkan ilmu dan peradaban lewat jalur pendidikan. Hal itu dapat dimulai dengan menguatkan tradisi membaca dan menulis. Yakini bahwa ilmu pengetahuan akan maju dan lalu berkontribusi positif bagi tegaknya peradaban Islam yang agung, hanya akan terjadi jika aktivitas membaca dan menulis telah menjadi keseharian umat Islam.

Pilihkan, Arahkan!
Alhasil, mari, arahkan anak-anak untuk memilih pendidik dan Lembaga Pendidikan yang menjadikan tradisi membaca dan menulis sebagai identitas terkuat layanan kependidikan mereka. Semoga dengan cara itu, kita bisa menyiapkan anak-anak untuk bisa turut mengukir peradaban Islam yang mulia, yang menebarkan rahmat bagi semesta raya. []