Termotivasi Santri; Rajin Menghafal Kitab Suci

0
264
Gambar Ilustrasi : Suasana-Ujian-Tahfdih-Al-Quran-di-Masjid-Ponpes-Putri-eLKISI

Oleh Ustadzah Rohmatin, M.Pd
Pengajar eLKISI IIBS

Ustadzah Rohmatin (kanan) Pengajar eLKISI IIBS Mojokerto

Pagi itu, di awal tahun 2016. Seperti biasa, saya berjalan dari kantor asatidzah eLKISI menuju kelas. Di tengah jalan saya berpapasan dengan seorang santriwati, Ainina Qolby namanya. Dia santri SMA, santri tahfidz Al Quran.

“Sudah berapa juz yang dihafal, Nina,” saya sapa dengan nada bertanya.

“Baru tujuh juz, Ustadzah,” jawab Ainina, lugas.

“Oh, alhamdulillah, banyak sekali, Nina”. Saya jawab demikian, karena saat itu saya merasa bahwa tujuh juz untuk ayat-ayat Al Quran yang sudah dihafal, bukanlah jumlah yang sedikit.

“Kalau saya, Nina, sebenarnya cita-cita ingin menghafalkan 30 juz AlQur’an tetapi sudah cukup banyak aktifitas dan pikiran. Akibatnya mudah lupa,” timpal saya.

“Tidak begitu Ustadzah. Menurut suatu artikel yang pernah saya baca, bahwa semakin banyak digunakan untuk berfikir, maka otak akan semakin cerdas dan semakin mudah untuk  mengingat, tutur Ainina.

Kaget luar biasa saya, karena mendapat jawaban yang benar-benar menyentak alam bawah sadar saya. Namun dengan jawaban itu, akhirnya saya berfikir, benarkah demikian? Kemudian saya berusaha untuk mendapatkan artikel tentang informasi tersebut. Ternyata benar, banyak sekali artikel yang berisi penjelasan, bahwa otak akan semakin cerdas cemerlang kalau seringkali digunakan untuk berfikir.

Saya mulai merenung dan berfikir, saya harus berubah. Kemudian saya mulai sering mencari ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang kemuliaan yang Allah berikan kepada para penghafal Kitab Suci-Nya. Hal yang paling menguatkan cita-cita saya untuk senantiasa menghafal Al-Qur’an adalah ayat- ayat yang diulang-ulang di dalam Surat Al-Qamar dan dua hadits Nabi Saw. Untuk ayat, ini terjemahnya adalah: “Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Sementara, untuk hadits, initerjemahmya: Dari Abdullah bin Amr, ia berkata. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dikatakan kepada orang yang membaca AlQur’an: Bacalah, dan naiklah, serta bacalah dengan tartil (jangan terburu-buru), sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca”.

Satu lagi hadits dari Buraidah radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Siapa yang membaca Al-Qur’an, belajar dan mengamalkannya, maka dipakaikan pada hari kiamat kepada kedua orang tuanya mahkota dari cahaya, cahayanya seperti pancaran cahaya matahari. Dipakaikan dua gelang untuk orang tuanya di mana tidak dapat dibandingkan dengan dunia seisinya. Keduanya berkata, ‘Kenapa kita dipakaikan ini?’ Dikatakan, ‘Karena  kedua anak Anda mengambil Al Quran’.” (HR Hakim, 1/756).

Di samping mencari hadits yang menguatkan motivasi untuk menghafalkan Al-Qur’an, saya juga mulai membuka internet dengan maksud mencari kisah-kisah hikmah para penghafal AlQur’an. Benar, saya temukan banyak kisah. Namun yang paling saya ingat dan memotivasi saya adalah kisah sebuah makam yang longsor di Jombang. Tepatnya di Dusun Bangunrejo Desa Gondek Kecamatan Mojowarno.

Salah satu warga menemukan satu jasad yang sudah dua puluh delapan tahun dikubur itu masih utuh. Jasad tersebut diketahui bernama Bu Raki. Warga dan keluarga memastikan bahwa jasad tersebut memang jasad Bu Raki. Merekapun akhirnya tidak heran dengan kondisi jasad tersebut, karena di masa hidupnya Bu Raki dikenal sebagai ibu yang gemar membaca Al-Qur’an. Bahkan, ia bisa menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an. Di samping menghafal untuk dirinya sendiri, beliau juga mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain.

Satu lagi kisah yang terjadi saat Tsunami Aceh tahun 2004. Lima belas hari setelah tsunami, ditemukan jenazah seorang gadis yang masih utuh dan tidak busuk. Bahkan berdasarkan berita, jenazah tersebut berbau harum.  Padahal –sekali lagi- sudah 15 hari tsunami berlalu. Setelah sekian lama para relawan mencari data tentang gadis tersebut, akhirnya ditemukan bahwa ia adalah seorang gadis penghafal Al-Qur’an.

Dari kisah-kisah tersebut saya menyimpulkan bahwa selalu ada keajaiban bagi para penghafal Al-Qur’an. Ajaib, saat hidupnya, menjelang kematiannya, dan setelah dia lama dikubur.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam banyak sekali menjelaskan tentang keajaiban para penghafal Al-Qur’an saat di akhirat nanti. Kisah-kisah tersebut sangat menggugah hati dan fikiran serta memotivasi saya untuk menghafal Al-Qur’an. Sejak itu, semangat saya menggebu-gebu dan merasakan energi yang luar biasa, mendorong saya untuk menghafalkan Al-Qur’an. Saya selalu berfikir, kalau orang lain bisa, insyaaAllah saya juga bisa. Begitu yang ada di alam fikiran saya.

Hal lain, ada hasil tes psikologi yang pernah diadakan oleh Pondok Pesantren eLKISI untuk para guru. Ternyata hasil tes tersebut menyatakan bahwa kemampuan mengingat saya cukup kuat. Sayapun mulai menghafal Al-Qur’an. Saya mulai dari Surat Al-Mulk, karena surat itu yang telah bertahun-tahun ingin saya hafalkan, disebabkan banyaknya fadhilah yang Rasul shallallahu alaihi wasallam janjikan dalam surat tersebut.

Alhamdulillah, benar-benar bersyukur dengan anugerah yang Allah limpahkan untuk saya. Ternyata saya bisa hafal Surat Al-Mulk. Saya coba menghafal Surat Al-Qolam, alhamdulillah ternyata juga hafal. Lalu saya lanjutkan ke Surat-Surat yang lain. Alhamdulillah bisa hafal, semua Surat di juz 29. Lanjut juz 30, juz 28 dan seterusnya.

Saya sangat bersyukur, di tahun ketiga saya berusaha menghafalkan Al-Qur’an, sepertiga Al-Qur’an sudah saya hafalkan dan saat ini sedang saya kuatkan. Sangat pelan tapi pasti, dan keyakinan selalu hadir, bahwa insyaaAllah saya bisa menghafal seluruh ayat-ayat Al-Qur’an.  Alhamdulillah, saya menikmati sekali aktivitas menghafalkan Al-Qur’an ini. Seiring dengan aktivitas  saya untuk menghafalkan Al-Quran ini, maka saya merasakan bahwa kehidupan saya dan keluarga saya semakin baik; nikmat dan bahagia. Semakin hari, semakin “haus” untuk terus menghafalkan Al-Qur’an. Dari Al-Qur’an inilah saya temukan hiburan yang Allah curahkan kepada para pecinta Kitab Suci-Nya. Namun saya selalu bermohon kepada Allah, agar hafalan Al-Quran ini bisa saya kuatkan dengan memahami juga makna kandungannya dan mengamalkannya. Aamiin! []