Zaman Sulit, Altruisme, dan Ahmad Dahlan

0
360

Oleh M. Anwar Djaelani
Dosen The eLKISI Institute

Pandemi Covid-19 menghadirkan situasi sulit. Penyakit menular yang ditimbulkan virus corona ini bisa menimpa siapa saja. Tak hanya sakit dan kematian yang membayang, tapi juga –misalnya- performa ekonomi terganggu. Maka, mengemuka tanya: Pertama, apa di antara cara mengatasi Covid-19? Kedua, apa yang harus dilakukan ketika banyak warga mengalami kesulitan ekonomi sebagai salah satu akibatnya?

Jurus Altruisme
Untuk yang pertama, ada solusi menarik dari Abdurachman Latief, Guru Besar FK Unair. Di Republika 24/03/2020 dia menulis: “Melesatkan Imunitas”. Intinya, kita akan selamat dari Covid-19 jika memiliki imunitas optimal. Imunitas bisa dilesatkan melalui upaya fisik dan nonfisik. Lewat nonfisik, bersihkan egoisme dan perkuat altruisme (sebuah sikap untuk selalu mendahulukan orang lain, bersegera membantu siapapun yang membutuhkan). Altruisme akan berbuah kebahagiaan dan bisa melahirkan imunitas yang kuat, badan sehat, tenang, dan sejahtera. Sejumlah penelitian ilmiah mendukung kesimpulan ini. Alhasil, setiap kita berpeluang melesatkan imunitas sampai optimal dengan altruisme. Lalu, dengan itu, kita bisa “Menuntaskan problem global Covid-19,” kata Abdurachman.

Kajian manfaat altruisme dari sang profesor berhenti di aspek medis saja. Ini bisa kita mengerti. Oleh karena itu, menarik jika kita coba jawab masalah yang kedua dengan pendekatan altruisme juga. Bahwa, altruisme bermanfaat secara ekonomi dan sosial yaitu membantu masyarakat yang kesulitan. Berikut ini ilustrasinya.

Untuk menahan laju penularan Covid-19, warga diminta diam di rumah. Bentuknya, kerja di rumah untuk yang biasa berkantor. Belajar di rumah, bagi yang bersekolah atau kuliah. Beribadah di rumah, meski ada keyakinan bahwa berjamaah di Rumah Ibadah lebih utama. Singkat kata, lakukan Work From Home (WFH).

Meski dinilai manjur sebagai salah satu cara melawan pandemi Covid-19, pelaksanaan WFH juga punya akibat tak baik, setidaknya bagi sebagian kalangan. Mudah dilihat, pergerakan manusia menjadi terbatas. Hal ini pasti akan mengurangi perputaran ekonomi. Cermatilah, berita pada 21/03/2020: “Minggu Pertama WFH Pendapatan Ojol Turun 50%”. Ojol adalah singkatan ojek online.

Bagi sebagian besar warga di negeri ini, bekerja itu bergerak. Bekerja itu berkegiatan di luar rumah, menjemput rezeki. Lihatlah, sekadar contoh sederhana. Menyusul menyebarnya Covid-19, di perumahan misalnya, tak mudah lagi menjumpai penjual makanan atau jajanan yang biasa berkeliling jika malam hari.

Bisa dibayangkan, betapa besar kesulitan yang harus ditanggung mereka yang rezekinya harus dijemput dengan cara menjajakan barang atau jasa. Contoh lain, tentu bisa kita perpanjang. Misalnya, saat murid belajar di rumah dan ketika pegawai bekerja di rumah, pasti mereka yang biasa menjajakan dagangannya di sekitar dua lokasi itu tak akan punya penghasilan.

Di titik ini, altruisme bisa memberi jalan keluar secara ekonomi. Ketika altruisme bermakna sebagai sikap lebih mengutamakan kepentingan orang lain, maka di masa pandemi ini, yang berkecukupan harus membantu yang sedang kesulitan. Soal teknisnya, terpulang kepada masing-masing fihak. Misal, seperti yang terjadi di Korea Selatan dan di Jerman. “Salut! Presiden dan Pejabat Korsel Sumbangkan Gaji Demi Tanggulangi Corona” (www.ayobandung.com 23/03/2020). “Bintang Sepak Bola Berlomba Lakukan Aksi Sosial Atasi Wabah Korona” (www.jawapos.com 29/03/2020).

Seabad Lalu
Mestinya, altruisme sudah menjadi sesuatu yang melekat di keseharian kita. Pertama, karena Islam –sebagai agama yang dipeluk mayoritas warga negeri ini-, telah mengajarkannya. Misal, antara lain lewat QS Ali-’Imraan [3]: 133-134 yang meminta agar kita “Menafkahkan harta di Jalan Allah, baik di waktu lapang maupun sempit“.

Kedua, karena sekitar seratus tahun lalu, KH Ahmad Dahlan (1868-1923) telah aktif menghidup-hidupkan semangat altruisme. Pendiri Muhammadiyah itu sangat besemangat dalam mengajarkan dan sekaligus mengamalkan QS Al-Maa’uun. Berikut ini terjemah ayat 1-3: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”.

Tersebutlah, di pengajian rutin subuh, Ahmad Dahlan mengajarkan QS Al-Maa’uun berulang-ulang dan tak pindah ke Surat yang lain. Intinya, Ahmad Dahlan menghendaki masyarakat –terlebih murid-muridnya-, memahami dan mempraktikkannya.

Ahmad Dahlan lalu meminta murid-muridnya untuk mencari orang miskin di sekitar tempat tinggal mereka masing-masing. Jika mereka menemukan orang miskin dan anak yatim, agar dibawa pulang. Dimandikan (lengkap dengan sabun dan sikat gigi), diberi pakaian (dengan kualitas pakaian seperti yang biasa mereka pakai), diberi makan-minum, serta tempat tidur yang layak.

Ahmad Dahlan tak hanya berkata-kata. Suatu hari, Ahmad Dahlan akan melelang perabot rumah-tangganya ketika tak ada uang untuk membayar gaji guru di sekolahnya. Atas rencana itu, banyak sahabatnya yang tidak tega, lalu membeli barang-barang itu dengan harga jauh lebih mahal dari yang semestinya”.   

Sekarang, Sekarang!
Suka atau tidak, wajah ekonomi kini kian suram setelah adanya pandemi Covid-19. Banyak yang berada di posisi sulit. Maka, terutama di waktu-waktu seperti inilah, pesan Ahmad Dahlan menjadi semakin relevan.

Mari, kuatkan altruisme kita. Ingat pesan KH Ahmad Dahlan: “Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agama, dengan menyumbangkan jiwamu sekalipun. Jiwamu tak usah kamu tawarkan. Kalau Tuhan menghendakinya, entah dengan jalan sakit atau tidak, tentu kamu akan mati sendiri. Tapi, beranikah kamu menawarkan harta-bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini”. []