Ditulis di Bandara Internasional Juanda, Jumat, 24 Juli 2026, saat hendak terbang menuju Jakarta.
“Sulit” merupakan satu kata yang menjadi momok bagi sebagian orang. Ada orang yang begitu mendengar kata “sulit”, nyalinya langsung ciut. Muncul keraguan dan kebimbangan untuk melangkah.
Padahal, sesuatu yang dianggap sulit oleh seseorang belum tentu sulit bagi kita. Demikian pula, sesuatu yang terasa sulit bagi kita belum tentu sulit bagi orang lain.
Jika tidak ingin kesulitan menjadi beban yang harus ditanggung sendirian, kita harus bersedia berkolaborasi dengan pihak lain untuk mencari jalan keluarnya. Begitu pula ketika ada orang yang berbagi cerita mengenai kesulitannya kepada kita, hendaknya kita menerimanya dengan hati yang lapang dan berusaha membantu sesuai kemampuan.
Apabila hal itu dilakukan, tidak ada sesuatu yang mustahil untuk diselesaikan. Kebersamaan merupakan salah satu kunci untuk meringankan, bahkan mengatasi kesulitan.
Jangan pernah merasa sendirian selama kita masih bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berbaik sangka atau husnuzan juga akan memudahkan langkah menuju jalan keluar.
Ketika Membangun Pesantren Terasa Mustahil
Enam belas tahun lalu merupakan masa yang tidak mudah bagi Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI.
Di atas tanah yang gersang dan sulit mendapatkan air, rasanya sukar membayangkan bahwa kelak akan berdiri sebuah pondok pesantren sebagai pusat pendidikan dan tafaqquh fiddin.
Saya teringat perkataan salah seorang tokoh sepuh yang merupakan mantan kepala dusun di kampung tersebut, Pak Polo Sinar. Pada masa awal pendirian Pondok Pesantren eLKISI, beliau pernah berkata:
“Bah, menurut cerita orang-orang tua dahulu, suatu saat nanti—onok rejone zaman—wilayah di antara dua desa ini akan menjadi pusat ilmu.”
Beliau kemudian melanjutkan:
“Ternyata, perkataan itu sekarang menjadi kenyataan.”
Tentu saja, seluruh perjalanan tersebut tidak terlepas dari kehendak Allah yang telah tertulis di Lauh Mahfuz.
Pada Januari 2010, peletakan fondasi pertama Pondok Pesantren eLKISI dimulai. Dalam waktu kurang lebih 45 hari, pembangunan tahap awal berhasil diselesaikan.
Bangunan tersebut terdiri atas empat ruang belajar, enam kamar mandi, satu dapur dan ruang makan, serta sebuah masjid berukuran 10 × 10 meter.
Setelah bangunan selesai, warga Mojodadi menjadi pihak pertama yang turut meramaikan dan menghidupkan kegiatan pesantren. Selanjutnya, pada awal tahun ajaran 2011, kami mulai membuka pendaftaran santri baru.
Sulit atau Belum Menemukan Jalan?
Apakah semua itu sulit?
Bagi orang yang terbiasa mengeluh atau sambat, jawabannya mungkin sulit. Namun, bagi orang yang terbiasa menghadapi tantangan dan terlatih mencari solusi, kesulitan merupakan sesuatu yang harus dihadapi, bukan dihindari.
Ketika hendak memulai rencana peletakan batu pertama, kami mengundang teman-teman untuk berkumpul di rumah perjuangan—sebuah rumah kontrakan di Banjarsari, Buduran, Sidoarjo.
Rumah yang kami tempati bersama keluarga tersebut merupakan milik Ustaz Mudjib Abdurrahman, Allahu yarham, salah seorang pengasuh Pondok Pesantren eLKISI.
Saat itu, modal yang kami miliki hanya lima juta rupiah. Dana tersebut merupakan wakaf dari Bapak H. Dulasid, warga PPLI Waru, Sidoarjo.
Dengan modal lima juta rupiah, kami mencetak 2.000 eksemplar proposal dalam edisi mewah dan berwarna. Kepada teman-teman, kami menyampaikan bahwa seluruh proposal tersebut harus dibagikan dan habis dalam waktu satu minggu.
Bingung? Tentu saja.
Sulit? Itu bergantung pada siapa yang membawa dan membagikan proposal tersebut.
Kami kemudian berusaha menjelaskan alasan seluruh proposal harus habis dalam waktu satu minggu. Jika dalam seminggu 2.000 proposal itu berhasil dibagikan, berarti dalam waktu yang sama terdapat 2.000 orang yang mulai mengenal eLKISI.
Bagi kami, pemikiran tersebut sangat logis.
Namun, bisa jadi pada saat itu sebagian teman berkata:
“Wong iki gendeng, be’e.”
“Orang ini mungkin gila.”
Berani Memiliki Gagasan Besar
Bagi kami, perjuangan membutuhkan gagasan-gagasan yang terkadang dianggap “gila”, kemudian diikuti langkah-langkah yang berani. Dalam bahasa sekarang, pemikiran semacam itu disebut out of the box.
Kami berusaha memberikan pemahaman dan motivasi kepada teman-teman. Kami menjelaskan bahwa pekerjaan besar tidak dapat diselesaikan dengan keraguan, sikap pesimis, dan rasa takut menghadapi kesulitan.
Alhamdulillah, rencana tersebut akhirnya dapat dilaksanakan. Semangat yang sama terus hidup dan menjadi bagian dari perjalanan eLKISI hingga sekarang.
Kami meyakini janji Allah:
“Fa inna ma‘al-‘usri yusrā. Inna ma‘al-‘usri yusrā.”
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Allah mengulang pesan tersebut sebanyak dua kali. Hal ini memberikan keyakinan bahwa kesulitan tidak hadir sendirian. Bersamanya, Allah telah menyediakan kemudahan.
Karena itu, jangan takut menghadapi kesulitan. Jangan terburu-buru mengatakan bahwa sesuatu tidak mungkin dilakukan. Bangunlah kebersamaan, perkuat kolaborasi, pelihara prasangka baik, dan teruslah mencari solusi. Kesulitan bukan alasan untuk berhenti. Kesulitan merupakan kesempatan untuk menguatkan keyakinan, melatih keberanian, dan membuktikan kesungguhan.





