Shalat memegang kedudukan paling fundamental dalam rukun Islam setelah dua kalimat syahadat. Keagungan ibadah ini menjadi barometer utama atas kebaikan seluruh amal perbuatan seorang hamba di yaumul hisab kelak.
Namun, nilai utama penentu penerimaan ibadah tersebut bermuara pada khusyuk dalam shalat. Tanpa kehadiran hati dan ketundukan jiwa, shalat berisiko kehilangan ruh dan sekadar menjadi gerakan jasmani tanpa dampak spiritual.
Urgensi Khusyuk dalam Shalat Menurut Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala secara eksplisit mengaitkan keberuntungan abadi seorang mukmin dengan derajat kekhusyukan dalam shalatnya, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa khusyuk adalah ketenangan anggota badan yang lahir dari rasa takut, cinta, dan pengagungan yang mendalam di dalam kalbu kepada Allah Yang Maha Mendengar.
Meneladani Petunjuk As-Sunnah demi Meraih Khusyuk
Agar shalat berbuah manis dan menghindarkan diri dari perbuatan keji serta mungkar, setiap muslim wajib mencontoh tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menegaskan:
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Artinya: “Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari no. 631)
Kunci meraih khusyuk dimulai dari menyempurnakan wudhu, memahami bacaan ayat dan doa yang dilafalkan, serta menjaga tuma’ninah di setiap rukun gerakan. Meraih khusyuk menuntut kesungguhan jiwa yang terus dilatih sepanjang hayat demi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
(za/red)















