Mengenal Bahaya Penyakit Hasad di Era Media Sosial

Mengenal Bahaya Penyakit Hasad di Era Media Sosial - Pondok Pesantren eLKISI
Mengenal Bahaya Penyakit Hasad di Era Media Sosial - Pondok Pesantren eLKISI

Arus keterbukaan informasi digital saat ini kerap memicu godaan untuk terus membandingkan pencapaian pribadi dengan kehidupan orang lain. Pamer kemewahan dan kesuksesan semu di lini masa sering kali melahirkan percikan kebencian yang merusak kemurnian hati. Kondisi kejiwaan tersebut merupakan pintu masuk bagi salah satu penyakit batin paling berbahaya dalam akhlak seorang muslim.

Mengapa Bahaya Penyakit Hasad Mampu Merusak Pahala

Penyakit hasad didefinisikan oleh para ulama sebagai perasaan tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain disertai harapan agar nikmat tersebut lenyap. Sikap tercela ini pada hakikatnya merupakan bentuk protes terselubung terhadap pembagian karunia Allah Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan keras mengenai dampak buruk sifat dengki yang sanggup melenyapkan timbunan amalan kebaikan.

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Artinya: “Jauhilah oleh kalian sifat hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.” (HR. Abu Dawud no. 4903, hadits shahih)

Kerusakan yang ditimbulkan hasad tidak hanya menyerang pelakunya di akhirat kelak, melainkan juga menyiksa batin di dunia. Jiwa yang dipenuhi rasa dengki akan senantiasa gelisah, sempit dada, dan tidak pernah merasakan manisnya kenikmatan hidup yang telah Allah anugerahkan kepadanya.

Larangan Iri Hati dan Perintah Memohon Karunia Allah

Islam menuntun umatnya agar mengalihkan rasa cemburu menjadi doa kebaikan dan permohonan tulus kepada Sang Pencipta. Mengakui kelebihan sesama saudara mukmin serta mendoakan keberkahan bagi mereka akan membersihkan kalbu dari racun kedengkian yang membinasakan. Al-Qur’an secara tegas melarang angan-angan kosong terhadap keutamaan materi maupun kedudukan yang telah Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya.

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32)

Menumbuhkan rasa syukur dan qana’ah merupakan obat penawar paling mujarab untuk membentengi jiwa dari godaan dengki modern. Hati yang bersih dari penyakit hasad senantiasa merasakan ketenangan hakiki yang tak tergoyahkan oleh kilau gemerlap dunia fana.

Menjaga kesucian kalbu adalah kunci utama keselamatan seorang mukmin di dunia dan akhirat kelak. Semoga Allah senantiasa melindungi sanubari kita dari noda kebencian dan penyakit hasad.

Kanal Informasi & Media Sosial Resmi Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto:

(za/red)

Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI

Pesantren Berbasis Edukasi dan Sosial Keummatan

BERITA TERBARU

Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI

eLKISI IT Team © Copyright  2024. All Rights Reserved