Kehadiran ruang digital interaktif saat ini mempermudah setiap orang meluapkan pandangan pribadi secara instan tanpa batas ruang dan waktu. Sayangnya, kebebasan berekspresi tersebut kerap disalahgunakan menjadi ajang penyebaran fitnah, celaan tajam, serta perdebatan sia-sia yang memecah persaudaraan sesama muslim. Kesadaran untuk menjaga kehormatan lisan maupun ketukan jemari merupakan cerminan luhur kesempurnaan iman seseorang yang mendambakan keselamatan hakiki di dunia maupun akhirat.
Tuntunan Menjaga Kehormatan Lisan dan Tulisan Setiap Mukmin
Lisan dan goresan kata adalah nikmat agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menuntut rasa tanggung jawab moral tinggi dari pemiliknya. Setiap patah kata yang terucap atau tulisan yang diunggah ke lini masa digital sejatinya menjadi cermin dari kebersihan qalbu yang bersemayam di dalam dada. Islam meletakkan kemampuan menahan diri dari tutur kata yang buruk sebagai tolok ukur mutu keimanan yang sejati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits agung:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari No. 6475 dan Muslim No. 47).
Prinsip emas berkata baik atau diam berlaku mutlak di dunia nyata maupun di jagat maya pergaulan digital. Memilih tidak berkomentar pada isu kontroversial yang tidak membawa maslahat nyata jauh lebih mulia daripada memperkeruh suasana dengan kalimat yang memicu pertikaian dan luka hati sesama.
Setiap Ketukan Huruf Tercatat Rapi di Hadapan Malaikat
Banyak pengguna internet merasa aman melontarkan komentar bernada cemoohan hanya karena berlindung di balik identitas anonim akun media sosial. Padahal, ketiadaan nama asli di dunia fana tidak pernah mampu mengelabui pengawasan malaikat pencatat amal yang senantiasa siaga tanpa henti. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dengan gamblang mengenai rekaman abadi setiap patah ucapan hamba-Nya:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18).
Menyadari kehadiran pengawas ilahi mendorong setiap mukmin untuk selalu menyaring untaian kata sebelum diutarakan. Memanfaatkan sarana komunikasi modern untuk menebarkan nasihat kebaikan dan perdamaian adalah jalan terpuji mengumpulkan pundi-pundi amal jariyah.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga lisan dan jemari kita dari dosa perkataan serta mengaruniakan hikmah dalam bertutur kata sepanjang masa.
Kanal Informasi & Media Sosial Resmi Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto:
- YouTube: eLKISITV
- TikTok: ponpes eLKISI Mojokerto
- Facebook: ponpes.elkisi
- Instagram: @ponpes.elkisi
- Website Resmi: elkisi.com
(za/red)
















