Belajar kepada Tiga Perempuan Terpelajar

0
5

Oleh M. Anwar Djaelani

Kata “terpelajar” di https://kbbi.web.id punya makna “telah mendapat pelajaran (sekolah)”. Perhatikan, oleh kamus tersebut kata “sekolah” ditulis di antara dua kurung. Artinya, yang disebut terpelajar tidak harus lulusan sekolah saja.

Dengan demikian, siapapun yang bisa mengambil ilmu (kebaikan) dari sumber manapun tergolong terpelajar. Terkait hal ini, tiga Sahabat Nabi Saw dari kalangan perempuan yaitu Sumayyah, Ummu Sulaim, dan Asma binti Abu Bakar, juga terpelajar. Mereka, setelah mendapat pelajaran tentang Islam, lalu mengamalkannya. Bahkan, jika perlu, mempertahankan pemahamannya meski harus meregang nyawa.

Sumayyah, Syahidah Pertama!

Ini kisah di masa permulaan Islam. Sumayyah seorang hamba sahaya. Dari hasil pernikahannya dengan Yasir, dia dikaruniai putra bernama Ammar.

Saat Muhammad Saw datang membawa Islam, tanpa ragu-ragu Ammar bersyahadat. Kedua orang-tuanya kemudian mengikuti jejak sang anak memeluk Islam. Sementara kebanyakan orang Quraisy justru menolak, bahkan memusuhi Islam.

Mengetahui Sumayyah dan keluarganya masuk Islam, murka-lah  orang-orang musyrikin, terutama Bani Makhzum yang selama ini “menguasai” mereka. Teror dan siksaan mulai mendera keluarga itu. 

Kaum musyrikin memaksa Sumayyah bersama suami dan anaknya melepas keyakinan mereka. Tersebab ada di posisi sosial yang rendah, tak ada pilihan lain bagi keluarga Sumayyah selain harus tabah menghadapi tekanan dan siksaan. Mereka hanya bisa memohon pertolongan dari Allah. 

Di tengah siksaan yang kejam, Sumayyah dengan penuh keberanian justru menantang Abu Jahal, seorang pemimpin Quraisy yang ditakuti. Abu Jahal murka mendengar seorang perempuan menantangnya. Ia lalu membunuh Sumayyah dengan cara yang keji, demi menutupi rasa gengsinya yang telah ditantang seorang perempuan. Sumayyah-pun gugur sebagai syahidah pertama karena membela agama Allah.

Ummu Sulaim, Cerdas!

Ummu Sulaim yang warga Madinah, memeluk Islam. Sikap ini berbeda dengan suaminya–Malik-yang tetap kafir.

Saat Ummu Sulaim mengajak suaminya masuk Islam, Malik marah. Dia lalu memberikan pilihan, ikut suami atau tetap Islam. “Saya pilih agama Muhammad,” tegas Ummu Sulaim.

Pindah fragmen. Anas bin Malik menceritakan: “Ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, aku baru berumur delapan tahun. Waktu itu ibu menuntunku menghadap Rasulullah Saw, seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, tak tersisa seorang Anshar-pun kecuali datang kepadamu dengan hadiah istimewa. Namun, aku tak mampu memberimu hadiah kecuali putraku ini. Maka, ambillah dia dan suruhlah dia membantumu kapan saja engkau inginkan’.”

Anas bin Malik beruntung karena setelah itu dia didoakan oleh Nabi Saw: “Yaa Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya.”

Waktu bergerak. Doa itu dikabulkan Allah. Anas bin Malik tumbuh menjadi salah salah seorang Sahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadits.

Sekarang, fragmen lain lagi. Kala itu, di masa awal-awal Anas bin Malik sudah bersama Rasulullah Saw. Suatu saat, datanglah Abu Thalhah. Dia pemuda kaya, tampan, dermawan, dan baik hati. Berkali-kali dia melamar Ummu Sulaim, tetapi selalu ditolak karena dia kafir.

“Ini pernyataan terakhir saya untukmu, wahai laki-laki tampan dan kaya. Jika engkau melamar saya dengan agama Muhammad, saya tak akan minta apa-apa lagi setelahnya,” kata Ummu Sulaim.

Tak ada pilihan lain, Abu Thalhah lalu memeluk Islam. Terjadilah pernikahan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim. Maharnya, keislaman dari Abu Thalhah.

Setelah Anas bin Malik sukses menjadi pendakwah, kini giliran Abu Thalhah yang didorong oleh Ummu Sulaim ikut dalam barisan Rasulullah Saw mendakwahkan Islam. Ummu Sulaim berusaha keras, agar sang suami benar-benar dekat dengan Rasulullah Saw.

Kehidupan terus berjalan. Di Perang Uhud, Abu Thalhah turun ke gelanggang jihad. Dia memasang badannya bak perisai bagi Rasulullah Saw. “Wahai Rasulullah, tidak akan saya biarkan satu panah-pun menembus dirimu,” kata Abu Thalhah.

Saat Perang Uhud berakhir, orang-orang menemukan jenazah Abu Thalhah. Dia syahid dengan 17 tusukan pedang di dadanya dan ada beberapa anak panah di punggungnya. Itu, demi menjaga Rasulullah Saw.

          Siapa yang mendidik dan mengarahkan Anas bin Malik Ra sehingga menjadi Ulama Besar? Ummu Sulaim, sang ibu! Siapa pula yang mendidik dan menyemangati Abu Thalhah sedemikian rupa menjadi pejuang Islam yang tangguh? Ummu Sulaim, sang istri!

Tentu, banyak fragmen menggetarkan lainnya dari sisi-sisi kehidupan perempuan cerdas itu. Sejumlah buku mendokumentasikannya. Salah satunya, “Ummu Sulaim; Shahabiyah Kesayangan”.

Asma, Si Pemberani

Asma binti Abu Bakar, putri Sahabat Nabi Abu BakarAsh-Shiddiq. Perempuan mulia ini salah satu warga Mekkah yang awal-awal masuk Islam.

Pengorbanan Asma membela Islam besar dan banyak. Oleh Rasulullah Saw dia digelari ”Dzatun Nithaqaini” (Wanita Pemiliki Dua Ikatan). Hal itu terkait dengan peristiwa hijrah.

Bahwa, memenuhi titah Allah, Rasulullah Saw harus hijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat berangkat, Nabi Saw ditemani Abu Bakar Ra. Ketika mempersiapkan bekal di perjalanan, Asma memotong kain selendangnya menjadi dua. Satu untuk mengikat bungkusan bekal, satu lagi dipakainya kembali. Oleh karena itulah, dia mendapat sebutan Pemilik Dua Ikatan.

          Selanjutnya, di tengah pengejaran kaum kafir Quraisy, Rasulullah Saw dan Abu Bakar Ra sempat berlindung di Gua Tsur untuk beberapa waktu. Atas situasi itu Asma rajin mengirim makanan ke Gua Tsur, sebuah aktivitas yang sangat beresiko.

Asma pejuang dan pemberani. Dia ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Zubair. Atas performanya, Umar bin Khattab Ra sangat menghormati Asma Ra.  

Asma terpelajar. Dia meriwayatkan puluhan Hadits.

Tentu, banyak fragmen menggugah lainnya dari sisi-sisi kehidupan perempuan dermawan dan pemberani ini. Sejumlah buku merekamnya. Salah satunya, “Kisah-Kisah Indah Rasulullah Bersama Asma Binti Abu Bakar”.

Ibrah, Ibrah!

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari tiga perempuan terpelajar, Sahabat Nabi Saw itu. Untuk hal tersebut, kita perlu membaca lebih lengkap biografi mereka. Bacalah riwayat mereka sambil menghayati ayat ini: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (QS Yusuf [12]: 111). []