Bersama Keluarga Bisa Pulang ke Surga

0
20

Oleh M. Anwar Djaelani

Hidup di dunia ini, memang bersifat sementara. Semua orang, pada waktunya kelak, akan kembali “pulang kampung”. Mengingat Adam As, kakek-moyang manusia, pada awalnya tinggal di Jannah (surga) maka sangat beralasan jika kita dan keluarga bercita-cita dan sekaligus menyiapkan diri untuk pulang ke Jannah.

Hidup dan Perjuangan

Hidup itu perjuangan, melewati ujian demi ujian dari Allah. Tapi, jangan gentar, sebab katasebuah mutiara hikmah: “Innal hayaata aqiidatun wa jihaadun” (hidup itu ditentukan oleh keyakinan dan perjuangan).

Dalam berjuang tak ada kata “kalah” bagi orang yang beriman. Hal ini, karena optimisme akan selalu ada berdasarkan ayat ini: “Sesungguhnya masa itu dipergilirkan: Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS Ali ‘Imraan [3]: 140).

Zaman berubah, musim berganti. Di dalam kehidupan ada saat kita mendapatkan “situasi yang enak”, ada pula saat kita menerima “kondisi yang tak nyaman”. Ada masa kita kita “di atas” dan ada pula masa kita “di bawah”. Maka, dalam situasi apapun, tetaplah genggam erat iman.

Sekali lagi, “Hidup itu keyakinan dan perjuangan”. Kadang capaian perjuangan kita bagus, kadang kurang baik. Kadang perjuangan kita berlangsung lancar, kadang penuh ujian yang melelahkan atau bahkan menyakitkan. Perjuangan bisa melelahkan jika penuh rintangan. Perjuangan bisa menyakitkan jika dalam pelaksanaannya mengalami seperti yang pernah dirasakan Bilal Ra di awal-awal syi’ar Islam.

Hidup itu aqidah. Maka semakin berat ujian, mestinya iman kita semakin menguat. Biarlah “musim” berganti, yang penting aqidah dan jihad kita jalan terus. Tetap berpegang teguhlah dengan ajaran Nabi Muhammad Saw ini: “Kutingggalkan dua pusaka, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Jika berpegang kepada keduanya, niscaya engkau tidak akan sesat”.

Mengingat ujian-ujian itu datang dalam berbagai bentuk, maka selalu waspadalah dengan berbagai godaan dari dalam dan luar. Dari dalam, berupa nafsu buruk yang ada pada kita sendiri. Dari luar, berupa godaan setan yang terkutuk.

Jangan pernah kalah dengan berbagai godaan itu. Jangan seperti sebagian orang yang gampang berubah pandangan hidupnya. Mereka berubah haluan karena mengedepankan kalkulasi untung-rugi duniawi. Misal, karena kalkulasi duniawi, seorang gadis rela menanggalkan busana Muslimah-nya dan menggantinya dengan model yang tak islami demi mengikuti aturan tempat dia bekerja.

Terkait tantangan hidup yang tidak ringan, kita harus menjadi pribadi-pribadi dengan visi yang jelas, apapun profesinya. Kita harus bervisi seperti yang sudah diajarkan Nabi Muhammad Saw kepada Abdullah bin Umar Ra saat beliau masih berumur sekitar 12 tahun: “Jadilah engkau hidup di dunia ini seolah-olah musafir asing”.

Lebih lengkap, Hadits tentang itu sebagai berikut: Rasulullah Saw bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian)”. Lalu Ibnu Umar Ra menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Apabila engkau berada di pagi hari janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu” (HR Bukhari).

Ke “Kampung Asal”

Kita adalah musafir? Benar, sebab rumah kita yang sesungguhnya bukan di dunia ini tapi di Jannah atau Surga. Pertama, sesuai dengan nasihat Nabi Saw kepada Abdullah bin Umar Ra di atas.  Kedua, Nabi Adam As dan Hawa bermula tinggal di Jannah. Mereka penduduk asli Jannah. Sebagai keturunan Adam As, jika kita rindu untuk “pulang kampung” maka yang harus terbayang adalah pulang ke Jannah.

Bersiap-siaplah untuk sewaktu-waktu kita harus “pulang kampung”, seperti penegasan ayat ini: “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (QS Al-Baqarah [2]: 28).

Oleh karena itu selalu ajaklah masyarakat, terutama keluarga kita masing-masing, untuk bersiap-siap kembali pulang ke Jannah. Itulah, visi “Pulang Kembali ke Jannah Bersama-sama”.

Ajak semua orang untuk “Pulang kembali ke Jannah”, sebab umat ini pada mulanya umat yang satu. “Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan” (QS Al-Baqarah [2]: 213).

Atas visi “Pulang Kembali ke Jannah”, sangat banyak orang yang siap berjuang di dalam kehidupan ini dan tentu dengan segala resikonya. Hal ini, karena memang hanya dengan cara itulah hidup harus dijalani. Ya, benar, “Hidup adalah perjuangan”.  Kita harus berjuang keras dalam menghadapi ujian demi ujian, justru karena kita benar-benar rindu untuk pulang kembali ke “kampung asal”, yaitu Jannah. Maka, apapun profesi kita, kumandangkanlah terus visi itu. Misal, jadilah pendidik, penulis, pengusaha, politisi, atau profesi apapun, yang bervisi “Pulang kembali ke Jannah”. Berjuanglah untuk mewujudkan kehidupan yang islami. Berjuanglah demi kejayaan Islam.

Bersama, Bersama!

Di saat mengenalkan visi “Pulang Kembali ke Jannah atau Surga”, mulailah dari keluarga kita masing-masing. Di titik ini, semua harus menjadi pendidik yang baik. Tirulah Rasulullah Saw, seorang pendidik yang memudahkan. Ajak diri dan keluarga yaitu suami/istri dan anak-anak, untuk terus berbenah. Berbenah, dengan cara selalu memperbaiki kualitas kepejuangan, agar kelak Allah mewujudkan tujuan mulia kita: Bersama keluarga, bisa pulang ke Surga. []