Cinta Buku sebagai Gaya Hidup

0
77

Oleh M. Anwar Djaelani,
staf di Pesantren eLKISI – Mojokerto

Di saat minat baca masyarakat sangat rendah, maka menjadikan mereka sebagai pecinta buku adalah usaha mulia. Di ketika budaya menonton masyarakat sangat kuat, maka mengubah gaya hidup mereka menjadi pecinta buku adalah upaya terpuji.

Prihatin, Prihatin!

Pada 1995, Konferensi Umum UNESCO di Paris memutuskan 23 April sebagai “World Book Day”. Di setiap tanggal itu kita peringati sebagai “Hari Buku Sedunia” yang bertujuan untuk membangun kesadaran publik bahwa cinta buku dan suka membaca adalah sebentuk pengayaan diri. Hal yang demikian diharapkan berpengaruh positif bagi kebahagiaan diri dan orang lain.

Tujuan  “World Book Day” itu relevan dengan kita, sebab di negeri ini minat baca masyarakat sangat memprihatinkan. Sejumlah penelitian menemukan bahwa posisi Indonesia berada di nomor bawah dalam hal minat membaca, terutama di kalangan siswa.

Atas hal tersebut, penumbuhan minat baca merupakan langkah berkategori mendesak. Terlebih, banyak fakta bahwa siswa yang dibiasakan berada dalam budaya suka membaca dan menulis lebih berprestasi ketimbang yang tidak.

Pernah ada, hasil sebuah penelitian, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, di tiap 1.000 penduduk hanya ada satu warga yang tertarik untuk membaca.

Situasi ini sungguh memprihatinkan, untuk tak menyebut mencemaskan. Hal ini karena ada hubungan antara suka membaca dengan prestasi hidup (dalam artian luas) sangat erat.

Pengaruh Bacaan

Mari cermati negeri ini. Kemerdekaan kita diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta. Keduanya menjadi pandai dan hebat–antara lain-karena suka membaca. Begitupun jika kita melihat tokoh-tokoh lain yang juga turut memperjuangkan negeri ini. Natsir misalnya, dia yang pernah menjadi Perdana Menteri, adalah pecinta buku.

Ketiga tokoh itu (yaitu Soekarno, Hatta, dan Natsir) tak hanya suka membaca, tapi juga rajin menulis. Bahkan, karya tulis Soekarno dan Hatta yang dibukukan (masing-masing berjudul ”Indonesia Menggugat” dan ”Mencapai Indonesia Merdeka”) dirasakan telah turut membakar semangat juang bangsa ini untuk merdeka.

Sebaris Pertanyaan

Kembali ke minat baca masyarakat. Apa penyebab kurangnya minat baca mereka? Pertama, tiadanya pembiasaan sejak dini bagi anak-anak untuk suka membaca. Hal itu diperparah dengan pola keseharian di rumah akibat perkembangan teknologi yang tak disikapi dengan bijak.

Di rumah, budaya menonton (antara lain, menonton televisi) sangat menonjol. Banyak keluarga yang lebih suka menonton televisi bersama anggota keluarganya dibandingkan dengan melakukan aktivitas membaca.

Berapa banyak waktu yang dihabiskan anak-anak menonton televisi? Pernah, sebuah penelitian melaporkan bahwa anak-anak mengonsumsi siaran televisi 40 jam tiap pekan. Artinya, dalam sehari anak-anak “berguru” ke televisi selama lima jam empat puluh dua menit. Di titik ini, layak kita segera jawab: Tanggung-jawab siapakah ini?

Kedua, soal belum tersedianya buku bacaan yang baik dan terjangkau harganya oleh masyarakat luas. Di bagian ini, patut lekas kita jawab: Tanggung-jawab siapakah ini?  

Pilihan Pemicu

Atas masalah di atas, langkah-langkah berikut layak kita pertimbangkan. Pertama, perlu penyadaran terutama kepada para orangtua bahwa buku sungguh penting. Ilmu yang didapat dari membaca buku menentukan kualitas seseorang.

Gerakan penyadaran ini bisa dimotori oleh pemerintah dan/atau swasta. Keduanya, misalnya, bisa memperbanyak penerbitan buku-buku berisikan kisah sukses seseorang yang keberhasilannya sangat ditopang oleh kesukaannya dalam membaca buku.

Jika tadi disebut nama Soekarno, Hatta, dan Natsir sebagai pecinta buku yang berprestasi cemerlang, maka untuk tokoh-tokoh muda bisa diterbitkan, misalnya, kisah hidup dua kakak-beradik Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Keduanya adalah novelis produktif dan terkenal di kalangan anak-anak muda (Islam). Mereka pada awalnya adalah kutu-buku (istilah bagi siapapun yang suka membaca buku), lalu berproses menjadi novelis yang berhasil.

Kedua, bisa juga dengan mendekatkan buku (secara fisik) ke masyarakat. Caranya, buatlah sebanyak mungkin perpustakaan umum dengan memanfaatkan berbagai fasilitas umum yang memungkinkan. Adapun tempat-tempat yang memungkinkan untuk itu antara lain adalah Balai RW, Kantor Kelurahan, Rumah Sakit, terminal bus, stasiun Kereta Api, Bandar Udara, pelabuhan, dan yang semisal dengan itu.

Ketiga, perbanyak acara semisal “Pameran Buku”. Di tiap pameran, desainlah berbagai acara menarik sehingga semua anggota keluarga (bapak, ibu, anak, cucu) merasa perlu mengunjunginya. Acara tahunan semisal Islamic Book Fair (IBF) di Jakarta harus terus ditingkatkan kualitasnya dan diselenggarkan juga di kota-kota lainnya.

Keempat, perbanyak kegiatan bertema “Aku Suka Buku”. Buatlah, misalnya: 1).“Gerakan Infaq Buku”. Buku-buku yang terkumpul kita serahkan kepada perpustakaan yang pengelolanya bisa kita percaya. 2).Ceramah atau talkshow. Undang tokoh yang kita anggap bisa menyampaikan pesan itu. Syukur, jika tokoh itu tergolong sebagai figur publik. 3).”Bazar buku”. Usahakan jenis buku yang dibazarkan dapat memenuhi kebutuhan semua tingkatan usia dan jenjang pendidikan. Juga, berilah diskon harga yang menarik. 4).“Lomba Menulis” bertema “Aku Suka Buku”.  Jenis tulisan bisa puisi, cerpen, dan opini. Dengan lomba ini, ada harapan mereka akan membuka-buka buku sebagai referensi. 5).“Lomba Meresensi Buku”.

Menuju Kebiasaan

Kita berharap, serangkaian usaha yang kita rancang untuk menjadikan masyarakat “Cinta membaca” dapat segera terwujud. Jika demikian halnya, kita akan segera menemukan kenyataan bahwa “Cinta membaca” telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. []