Di Ramadhan Unduh Bekal Terbaik, Taqwa!

0
12

Oleh M. Anwar Djaelani,
staf di Pesantren eLKISI Mojokerto

Hidup di dunia bersifat sementara. Lalu, kita akan hidup abadi di akhirat. Tapi, di keduanya–dunia dan akhirat-, kita harus bahagia. Untuk itu, taqwa harus menjadi “pakaian” di keseharian kita. Taqwa wajib menjadi bekal di keseluruhan perjalanan kita menuju akhirat.

Selalu Berhati-hati

Di dunia ini, di setiap perjalanan apapun, kita perlu membawa bekal. Semakin jauh dan lama perjalanan, bekal harus semakin banyak dan berkualitas. Jika begitu, tak bisa tidak, maka bekal dalam perjalanan menuju akhirat harus spesial.

Adapun bekal istimewa itu bernama taqwa, seperti pesan Allah ini: Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa” (QS Al-Baqarah [2]: 197). Sedemikian vital peran taqwa dalam menjamin keselamatan dan kebahagiaan kita di dunia dan akhirat, pesan taqwa wajib disampaikan oleh Khatib di setiap memulai Khutbah Jum’at.

Inilah ayat yang tak boleh ditinggalkan oleh seorang Khatib Jum’at: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS Ali ‘Imraan [3]: 102).

Apa taqwa? Ada yang mengartikan taqwa sebagai takut. Hanya saja, kata Prof. Dr. Hamka, taqwa jangan selalu diartikan takut. Sebab, takut adalah sebagian kecil dari makna taqwa. Di dalam taqwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakkal, ridha, sabar, berani, dan sebagainya.

Lebih lanjut, di Tafsir Al-Azhar, Hamka menulis bahwa taqwa itu memelihara. Maknanya, memelihara hubungan baik dengan Allah. Memelihara diri dari perbuatan yang tak diridhai Allah. Maka, terasakan, bahwa taqwa adalah sikap untuk selalu berhati-hati.

Terkait makna taqwa, lihatlah keterangan Abu Hurairah Ra saat ditanya  seseorang tentang makna taqwa.

“Saat Anda berjalan dan bertemu seonggok duri di hadapan, bagaimana tindakan Anda ketika itu,” tanya Abu Hurairah Ra. 

“Tentu saja saya akan berhati-hati yaitu dengan cara mengelaknya. Bisa dengan melangkahinya atau memilih jalan di kanannya atau di kirinya,” jawab si penanya.

“Itulah taqwa,” simpul Abu Hurairah Ra.

Sekarang, mari menunduk! Kapanpun, di sekitar kita bertebaran banyak tantangan. Dulu, kita aman berada di rumah sendiri karena tanpa “polusi”. Tetapi, kini? Televisi, gadget, atau internet yang ada di rumah bisa menjadi “duri”. Memang, di satu sisi berbagai fasilitas itu bermanfaat. Tapi jika pemakaiannya tak kita libatkan semangat taqwa di dalamnya, maka bukan tak mungkin berbagai fasilitas itu bisa menjadi “duri” yang bisa menciderai perjalanan kita menuju akhirat.

Lihat, isi siaran televisi kita. Jangankan di luar Bulan Suci, di Ramadhan saja banyak kita temui acara yang tidak pada tempatnya. Jika di rumah saja sudah banyak “duri”, maka apatah lagi di luar rumah.

”Duri” memang banyak di sekitar kita. Misal, di tengah-tengah masyarakat bersliweran aneka pemikiran sesat seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Faham-faham itu dapat mengacak-acak aqidah dan syariat Islam. Kecuali itu, tebaran fitnah yang menyerang Islam dan umatnya juga menjadi-jadi.

Tentang fitnah, Nabi Saw-lewat HR Ahmad-telah menggambarkan bahwa akan datang sebuah masa ketika fitnah mampu “menggelapkan” dunia. Di ketika itu, seseorang yang di waktu pagi masih Mukmin ternyata di waktu sore telah menjadi kafir. Atau, di waktu sore masih beriman tapi di pagi harinya menjadi kafir. Dia tukar agamanya dengan kesenangan dunia. Memang, pokok masalah yang kita hadapi–kapanpun-adalah keimanan kita yang selalu dijadikan “sasaran tembak” para musuh Allah.

Kini, kita rasakan sebagian serangan fitnah itu. Misal, kriteria pahlawan dan teroris dikaburkan dan cenderung dipertukarkan. Lalu, pemeluk agama yang taat digambarkan sebagai fundamentalis yang harus dijauhi. Kemudian, antara uswah dan idola dicoba disepadankan.

Lewat HR Abu Dawud, Rasulullah Saw mewanti-wanti kita tentang hampir tiba masanya umat Islam diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa di depan hidangan. Keadaan ini bukan karena sedikitnya jumlah umat Islam. Bahkan, ketika itu, kita banyak tapi seperti buih mengapung. Saat itu Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh. Sebaliknya, Allah menanamkan dalam hati kita penyakit Al-Wahan yaitu cinta dunia dan takut mati.

Berjangkitnya hedonisme jelas merupakan indikator timbulnya penyakit Al-Wahan. Penyakit ini terutama sebagai akibat dari pertemanan kita dengan kaum kafir, yang tampak maju secara lahiriyah tapi “membutakan diri” terhadap  kehidupan akhirat. Renungkanlah ayat ini: “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS Ar-Ruum [30]: 7).

Sebagian dari kita terpikat dengan isme atau faham bathil yang berakar kepada relativisme dengan semua turunannya seperti sekularisme, pluralisme, liberalisme, demokrasi, Hak Asasi Manusia, feminisme, dan lain-lain. Misal, bagi penganjur sekularisme, ada keyakinan bahwa hanya dengan memisahkan urusan dunia dari nilai-nilai agama, manusia akan mencapai kebahagiaan.

Contoh lain, ini: Ada yang bangga jika fasih berbicara tentang demokrasi. Sementara, demokrasi adalah konsep yang menuhankan “suara mayoritas”, di mana kebenaran semata-mata diukur oleh “suara rakyat yang terbanyak”.

Kita sedih, sangat boleh jadi kebenaran dari Hadits ini telah terbukti: “Sungguh, kalian akan mengikuti perilaku umat-umat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Meskipun mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian akan mengikutinya.” Bertanya para Sahabat: ”Apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani, wahai Rasul?” Rasulullah menjawab: ”Siapa lagi kalau bukan mereka” (HR Bukhari dan Muslim). Padahal, ada ayat yang mengingatkan kita: ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (tradisi/jalan hidup/agama) mereka” (QS Al-Baqarah [2]: 120).

Buah Puasa, Panen!

Agar selamat terhindar dari pekerjaan munkar, jangan pernah lepaskan taqwa dari keseharian kita. Juga, supaya kelak diri dan keluarga kita terhindar dari neraka, senantiasalah berbekal taqwa di kesempatan apa saja.

Alhasil, terkait hal ini, manfaatkan Ramadhan sebagai bulan pendidikan dan pelatihan. Tunaikan puasa Ramadhan dengan baik dan benar, sedemikian rupa predikat taqwa bisa kita raih sebagaimana yang Allah firmankan di QS Al-Baqarah [2]: 183. []