Dua Buah Manis Aktreditasi SMA eLKISI

0
15

Oleh Suciati

Menjadi guru adalah cita-cita saya sejak kecil. Maka, kala saya diterima sebagai guru di Pesantren eLKISI menjadi kebahagiaan dan keberkahan yang selalu saya syukuri. Itu terjadi pada 2014. Alhamdulillah!

Pesantren eLKISI terletak di kaki dua gunung, di Mojokerto. Dua gunung itu, adalah Penanggungan dan Welirang.

Spirit eLKISI

Tepat pada tahun pelajaran 2014/2015, yang juga tercatat sebagai tahun berdirinya SMA eLKISI, adalah tahun pertama kali saya bergabung. Lalu, panggilan Ustadzah mulai melekat kepada saya.

Tak pelak, panggilan itu menjadi pelecut bagi saya untuk selalu berbenah, menjadi teladan terbaik bagi para santri. Tekad lalu mengemuka, bahwa saya harus mampu menjadikan para santri memiliki kualitas sebagai pejuang Islam yang andal dan pemimpin masa depan.

Di SMA eLKISI, saya mengajar mata pelajaran kimia. Terbayang dalam benak saya, bahwa dari SMA eLKISI inilah saya akan menjadikan para santri sebagai generasi Abu Musa Jabr Ibnu Hayyan, ilmuwan Muslim dengan julukan Bapak Ilmu Kimia Modern Dunia. Tokoh yang sama, sekaligus ahli filsafat, ahli astronomi, dan ahli fiqh.

Hal lain yang sangat saya syukuri, ketika berada di Pesantren eLKISI terasakan adanya aktivitas peningkatan kesadaran atas hubungan seorang hamba dengan Allah. Intinya, selalu diiingatkan bahwa apapun yang kita lakukan semata-mata untuk meraih ridha Allah. Hal yang demikian, selalu kami dapatkan tiap hari melalui briefing (pengarahan) pagi oleh Direktur Pesantren eLKISI yaitu KH Fathur Rohman.

Suasana seperti itulah yang-boleh jadi-membedakan Pesantren eLKISI dengan lembaga pendidikan yang lain. Peningkatan spirit seperti yang saya maksud di atas, menjadikan orientasi hidup kami fokus kepada penyiapan bekal ke akhirat.

Hal yang demikian itu menjadi penyemangat hidup untuk selalu berbenah agar bisa menjadi pendidik yang terbaik bagi para santri. Pada saat yang sama, hal yang demikian ini akan menjadikan para santri juga memiliki orientasi hidup yang hanya berharap kepada ridha Allah.

Benar! Terhadap apapun yang santri eLKISI lakukan (misalnya ketika mereka belajar, mengaji, beramal shalih, berolahraga, dan apapun yang mereka lakukan), itu semua semata-mata karena Allah.

Amanah Berat

Dalam perjalanan waktu, di SMA eLKISI saya mendapat amanah berat. Pada awal tahun pelajaran 2017/2018, saya ditunjuk sebagai Kepala Sekolah.

Berat, karena di tahun itu pula, SMA eLKISI sedang dalam proses akreditasi untuk kali pertama. Penunjukan sebagai Kepala Sekolah sempat menjadikan saya sakit kepala yang berkepanjangan. Saya ingat, pada saat itu terpaksa saya harus mengkonsumsi obat berwarna biru hanya untuk mengurangi rasa sakit.

Alhamdulillah, tugas menjadi Kepala Sekolah mulai bisa saya jalankan. Tentu, saya terus belajar dan belajar bagaimana menjadi Kepala Sekolah seperti yang diharapkan oleh pihak yang memberi amanah.

Akreditasi adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi. Sebagai Kepala Sekolah, tentu saya yang bertanggung-jawab penuh terhadap pelaksanaan akreditasi.

Saya sadar, tantangan ini harus dijawab dengan pembuktian bahwa SMA eLKISI insya Allah pasti bisa. Inilah keyakinan yang menjadi modal awal untuk merencanakan program kerja yang bisa menjadikan SMA eLKISI layak mendapatkan akreditasi dengan predikat A.

Kompak dan Bersemangat

Pembagian tugas 8 standar akreditasi kepada para asatidz adalah langkah pertama dalam memulai penyiapan berbagai berkas untuk melayakkan SMA eLKISI menuju akreditasi A. Pembagian tugas ini mengarahkan setiap asatidz di setiap standar akreditasi untuk menjalankan tugas sesuai standarnya.

Sungguh, ada pemandangan yang sangat mengesankan. Bahwa, dalam proses penyiapan berkas akreditasi tersuasanakan kerjasama yang sangat luar biasa bersemangat. Hal ini, dibuktikan dengan kerja yang “habis-habisan” dari semua asatidz. Terasa, kami seperti tidak kenal waktu.

Ruang asatidz di lantai 2, bisa disebut sebagai saksi. Pagi, siang, bahkan malam semua bekerja keras untuk satu tujuan yang sama yaitu suksesnya akreditasi.

Kerja lembur menjadi aktivitas harian bagi para asatidz. Tidak hanya para asatidz, suasana menyukseskan akreditasi juga tampak di kalangan para santri. Persiapan melengkapi sarana-prasarana dan meningkatkan kebersihan lingkungan pondok/sekolah, berlangsung sepenuh semangat.

Hal yang tergolong luar biasa, adalah saat pembangunan perpustakaan sekaligus smartlab, yang menjadi salah satu sarana-prasarana yang harus ada agar bisa mendapatkan predikat akreditasi A. Proses itu, diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Jika terkenang itu, kadang kami tersenyum, ingat kisah Nabi Sulaiman As yang memindahkan istana Ratu Balqis dalam waktu sekejap.

Nikmat Tak Terduga

Kembali kepada proses penyiapan berkas akreditasi SMA eLKISI. Bahu-membahunya para asatidz dalam mensukseskan akreditasi, bermuara pada satu pemahaman yang sama; Bahwa sebagai lembaga pendidikan yang berbasis Islam, terlebih sebagai pesantren, kita harus bisa membuktikan yang terbaik dan memiliki kualifikasi standar nasional. Pembuktian ini demi dakwah Islam, demi Izzul Islam wal Muslimin. Terkait ini, maka akreditisasi wajib dapat predikat A. Itulah motivasi yang terus digulirkan oleh Direktur Pesantren eLKISI KH Fathur Rohman.

Ada hal yang sangat menarik dalam proses penyiapan berkas akreditasi. Ternyata proses ini ikut mengantarkan dua rekan kami, seorang ustadz dan seorang ustadzah, dipertemukan jodohnya oleh Allah.

Keduanya, dalam kerja tim, mengurusi aspek yang sama yaitu standar penilaian. Alhamdulillah, tautan hati saat sama-sama di Jalan Allah berujung kepada pernikahan keduanya. Allahu Akbar!

Benar-benar sebuah proses akreditasi yang membawa keberkahan dan kebahagiaan. Boleh dibilang, Surat Keputusan berupa pembagian tugas 8 standar akreditasi telah turut mengantarkan sepasang ustadz-ustadzah menuju ikatan suci mitsaqon gholidzon. Masya Allah!

Terus, Menuju Terbaik!

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Akreditasi SMA eLKISI dengan kuota tambahan dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2017 bertepatan dengan hari Senin. Akreditasi ini dihadiri oleh tim asesor yaitu Bapak Komarudin, M.M. dan Ibu Yeni Kusinta, S.E., M.M. dari pukul 08.00 sampai pukul 16.32.

Akreditasi diawali dengan sambutan Direktur Pesantren eLKISI. Berlanjut dengan pengecekan berkas tiap standar akreditasi. Satu persatu, poin demi poin dari tiap standar diperiksa oleh tim asesor. Tidak ada jeda kecuali ketika masuk waktu shalat dhuhur yang tepat pada waktu itu juga hujan sangat deras.

“Yaa Allah, semoga hujan ini pertanda keberkahan-Mu atas pelaksanaan proses akreditasi”. Demikian, doa kami.

Bakda dhuhur, setelah makan siang, pemeriksaan berkas akreditasi dilanjutkan kembali hingga pukul 16.32. Ada perasaan lega, setelah selama 7 jam kami berjuang untuk memberikan penjelasan yang terbaik untuk tiap standar akreditasi.

Hasilnya, baru kami ketahui satu bulan setelahnya. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah dan melalui kerjasama luar biasa dari para asatidz serta dibersamai doa kepada Allah, akhirnya hasil akreditasi keluar. Alhamdulillah, sesuai dengan yang diharapkan, akreditasi SMA eLKISI sukses dengan predikat A. Nilainya, 92.

Meskipun akreditasi bukanlah segala-galanya, paling tidak kami sebagai lembaga pendidikan Islam yang berbasis pesantren mampu membuktikan bahwa kami bisa. Kami mampu tampil menjadi lembaga pendidikan Islam yang maju dan baik, menuju yang terbaik.

Akreditasi A untuk SMA eLKISI menjadi penyemangat bagi kami untuk selalu berbenah. Kami yakin Pesantren eLKISI akan menjadi lembaga pencetak generasi terbaik, generasi beradab, dan generasi pejuang dakwah yang akan membawa negeri ini menuju negeri idaman: Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. []