Jaga, Jagalah Diri dan Keluarga!

0
12

Oleh M. Anwar Djaelani

Ada amanah berat bagi segenap kaum beriman, terutama bagi yang berstatus Kepala Keluarga. Bahwa, kepada mereka diperintahkan untuk menjaga keluarga masing-masing supaya terbebas dari siksa neraka. Untuk itu, sebagaimana inti dari kata “taqwa”, maka kita harus selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini.

Tantangan Tajam

Ayat berikut ini, adalah panduan utama kita: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS At-Tahrim [66]: 6). Petunjuk Allah ini, jangan pernah kita lepas sesaatpun.

Memang, jika dirasakan, sungguh berat kehidupan sekarang ini. Kita dikepung oleh berbagai ancaman yang bisa merusak aqidah dan akhlaq. Cermatilah, bahkan di dalam rumah kita sendiri ada tantangan. Jika tak berhati-hati, berbagai fasilitas yang ada di dalamnya bisa menjerumuskan kita.

Televisi, termasuk yang bisa menjadi ancaman. Hanya berapa prosen-kah di antara acaranya yang layak dikonsumsi anak-anak? Lalu, internet, contoh yang lain. Bisakah anak-anak tak tergoda untuk tak mengakses berbagai “materi yang tak baik”?

Jika di dalam rumah tantangannya seperti itu, maka apatah lagi di luar rumah. Di luar ada kenakalan remaja terkait narkoba, pornografi serta pornoaksi yang kian menyebar dan hal-hal lain yang serupa itu.

Tantangan lain yang tak kalah serius, di bidang pemikiran. Meski Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memfatwa haram pluralisme agama, sekularisme, dan liberalisme pada 2005, tapi masih banyak yang mengampanyekannya.

Apa yang dimaksud dari ketiga isme tadi yang kesemuanya potensial merusak aqidah? Berikut ini pengertiannya, petikan dari Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 7/Munas VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama.

Pertama, pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.

Kedua, liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an dan Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

Ketiga, sekularisme agama adalah memisahkan urusan dunia dari agama. Agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Sekarang, mari menunduk, introspeksi. Tentu saja, kita sangat prihatin atas berbagai potret suram itu. Terutama yang terkait dengan kenakalan remaja, mengapa itu semua terjadi? Di antara penyebabnya, ada banyak masalah di rumah.

Di rumah, orang yang paling bertanggung-jawab bagi keselamatan semua anggota keluarganya adalah Kepala Keluarga. Dalam perannya sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya, Kepala Keluarga-lah yang harus cekatan mendidik dan menjaga anggota keluarganya untuk tak tergelincir ke dalam “neraka dunia” dan neraka (di akhirat nanti). “Neraka dunia” sekadar istilah saja untuk menggambarkan semua kepedihan dan keburukan di dunia akibat melangggar larangan Allah. 

Agar keluarga kita terhindar dari kepedihan dan keburukan di dunia dan terlebih lagi nanti di neraka, maka kepada para orangtua: Pertama, jadilah pasangan (baik dalam posisi sebagai suami atau sebagai istri), yang selalu saling menguatkan di Jalan Allah. Hal itu akan sanggup kita kerjakan jika kita beriman kuat.

Kedua, berilah anak-anak lingkungan yang kondusif bagi terpeliharanya iman dan akhlaq mereka. Langkah ini sangat penting, sebab dalam perspektif Islam, lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap seseorang, terutama bagi yang sedang di masa tumbuh-kembang.

Lingkungan terdekat yang harus dibenahi dulu adalah rumah kita sendiri. Para orangtua hendaklah peduli kepada perkembangan anak-anaknya. Jangan biarkan anak-anak menjadi “yatim-piatu” (bukan yatim piatu secara biologis, tapi secara psikologis lantaran mereka tak diperhatikan orangtuanya).

Di rumah bikinlah mushalla. Di tempat itu, anggota keluarga bisa shalat (berjamaah), mengaji, dan belajar. Lalu, lengkapilah rumah dengan berbagai fasilitas keilmuan, seperti perpustakaan yang lengkap. Pendek kata, jadikan rumah kita sebagai “Rumah Ibadah” dan “Rumah Ilmu”.

Selalu perkuat keluarga kita di mana para anggotanya beraqidah mantap. Senantiasa perkukuh keluarga kita di mana segenap anggotanya rajin dan khusuk beribadah, terutama dalam hal penegakan shalat. Setelah itu, buktikan hasil shalat dengan–antara lain-aktif beramar makruf nahi munkar lewat cara yang benar. Terkait ini, orangtua harus ada di depan sebagai teladan.

Jika boleh diandaikan rumah sebagai sekolah, maka ayah harus menjadi Kepala Sekolah yang baik. Di dalam rumah, ayah harus merancang “kurikulum” dan sekaligus melaksanakannya.

Setelah urusan lingkungan terdekat aman, maka saat di luar rumah pilihkan atau ajari anak-anak untuk hanya mau berada di lingkungan yang islami. Sungguh, memilih lingkungan yang baik termasuk ajaran Islam yang penting. Kita sangat dianjurkan untuk suka berkumpul dengan orang-orang yang berakhlak baik. Sebab, antarmereka akan saling mengingatkan dan saling mengajak untuk selalu berada di Jalan-Nya.

Saling Menjaga

Jadi, agar selamat dari siksa neraka, pandai-pandailah menjaga diri dan keluarga. Selalulah bersama orang-orang shalih dan itu harus dimulai dari masing-masing rumah kita. []