Home Berita dan Kegiatan Jangan Bersedih, Teruslah Berikhtiar!

Jangan Bersedih, Teruslah Berikhtiar!

0
Jangan Bersedih, Teruslah Berikhtiar!

Oleh M. Anwar Djaelani,
penulis buku “Keluarga Sakinah Perindu Jannah”

Pandemi Covid-19 ini ujian, bahkan ujian yang sangat berat. Seperti ujian yang lain, kita harus menghadapinya sebagaimana kaum beriman telah diajari untuk itu. Oleh karenanya, kedepankan sikap sabar dan aktiflah berusaha agar bisa melewati ujian ini dengan baik.

Perhatikanlah hadits ini: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya, apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar dan yang demikian itu merupakan kebaikan baginya” (HR Muslim).

Menghadapi ujian, termasuk pandemi Covid-19, kita harus rajin berikhtiar dan berdoa. Kedua aktivitas itu adalah sikap yang terbaik. Di antara bentuk ikhtiar adalah mengikuti panduan ulama dan petunjuk ilmuwan yang ahli terkait dengan masalah yang kita hadapi.

Ulama harus kita patuhi karena mereka adalah yang mewarisi tugas-tugas kenabian. Ilmuwan atau intelektual harus kita ikuti karena Nabi Saw memberi petunjuk, bahwa dalam menyelesaikan soal-soal keduniaan kita harus menyerahkan atau bertanya kepada ahlinya.

Jangan Bersedih!

Sekarang, Juli 2021, tahun kedua kita berada di masa-masa sulit karena pandemi Covid-19. Kita belum tahu kapan musibah ini akan berakhir. Sementara, kabar duka berupa orang sakit dan orang meninggal terasa tambah sering kita dengar atau temui. Atas itu semua, sebagian dari kita bersedih bahkan takut.

Wajar jika bisa mengundang sedih dan takut! Misal, di sebuah keluarga, dua remaja laki-laki yang sedang sakit ditinggal wafat oleh ayah dan ibunya serta neneknya dalam waktu yang sangat berdekatan. Bahkan, selisih waktu kematian antara ibu dan ayahnya hanya beberapa jam saja.

Contoh lain, seorang ayah meninggal tanpa sempat tahu bahwa sang anak telah terlebih dahulu meninggal di Rumah Sakit yang sama. Sementara, kisah lain, seorang istri meninggal tanpa sempat tahu bahwa suaminya telah terlebih dahulu wafat dengah penyakit yang sama.

Bisa, Bisa!

Di manapun dan kapanpun, manusia akan diuji. Menghadapi hal itu, sedih dan takut adalah manusiawi. Hanya saja, sebagai kaum beriman, performa kita akan berbeda dengan yang tidak beriman.

Sedih dan takut, manusiawi. Sedih karena psikis tertekan akibat berbagai berita sakit dari keluarga, sahabat, dan kenalan kita. Takut karena kejiwaan tertekan karena menghadapi kenyataan bahwa bukan tak mungkin kita sendiri yang akan ditimpa sakit atau kematian.

Sebagai kaum beriman, baik diuji Allah dengan karunia berupa nikmat maupun diuji dengan pemberian berbentuk musibah, kita harus bisa menghadapinya dengan kondisi kejiwaan yang stabil. Insya Allah, dengan pertolongan Allah kita bisa!

Bersama Allah

Semua manusia, tanpa kecuali, akan diuji Allah. Bahkan, ujian paling berat dirasakan oleh para Nabi dan Rasul.

Sekadar contoh, lihat dan rasakan ujian berat Nabi Saw dalam Peristiwa Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Sebagai target operasi penangkapan dan/atau pembunuhan dari kaum kafir Quraisy, jelas nyawa Nabi Saw dan siapapun yang bersamanya sangat terancam.

Singkat kata, di tengah perjalanan hijrah dan dalam kejaran musuh, Nabi Saw dan Abubakar Ra yang menemaninya harus sementara bersembunyi di sebuah gua di Bukit Tsur. Ketika para pengejar berada tak jauh dari mulut gua, maka manusiawi saat Abubakar Ra menunjukkan rasa takutnya.

Atas hal itu, Nabi Saw lalu menenteramkan Abubakar Ra dengan menyebut bahwa mereka sejatinya tidak sedang berdua saja. Tidak, sebab bersama mereka ada yang ketiga yaitu Allah. “La Tahzan, innallaha ma’ana (jangan bersedih hati, Allah bersama dengan kita),” sabda Nabi Saw.

Jangan bersedih! Kaum beriman bahkan Nabi Saw, semua diuji Allah. Lihat di Perang Uhud. Di samping umat Islam kalah, tujuh puluh mujahid gugur sebagai syuhada. Bahkan, Nabi Saw terluka.

Bersedihkah mereka? Tentu dan itu manusiawi. Hal yang tak boleh jika sedih berkepanjangan karena bisa membuat kita lemah. Perhatikan ayat ini: “Janganlah kamu lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman” (QS Ali ‘Imraan [3]: 139).

Hadapilah ujian, yang memang akan terus kita terima sampai kita menemui ajal, dengan sepenuh kesabaran. Sungguh, persedian sabar kita tak boleh ada batasnya.

Pegang Protokol

Jangan pelihara rasa sedih. Jangan simpan rasa takut. Yakinilah, Allah tidak akan membebani Hamba-Nya di luar yang mereka mampu. Perhatikan ayat ini: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (QS Al-Baqarah [2]: 286).

Teruslah berikhtiar untuk keluar dari ujian ini dengan selamat. Ikuti “Protokol Langit” dan “Protokot Bumi”, sekaligus. “Protokol Langit”, maksudnya, petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Sementara, “Protokol Bumi”, adalah panduan ulama dan intelektual sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Dari “Protokol Langit”, misalnya, kita diminta untuk berusaha keras memelihara kehidupan. Juga, kita diminta menemukan obat yang tepat sebab tak ada penyakit yang tak disertai dengan obatnya. Pun, kita diminta untuk mematuhi apa-apa yang diserukan para ahli di bidangnya sejauh tetap dalam kontrol ulama. Sementara, dari “Protokol Bumi”, kita diminta oleh para ahli untuk mematuhi Protokol Kesehatan (populer disingkat prokes).

Doa, Doa!

Atas semua ikhtiar itu, jangan lupa, di saat yang sama untuk mengiringinya dengan “Senjata kaum Beriman” yaitu doa. Perhatikanlah firman Allah ini: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS Al-Mu’min [40]: 60).

Berdoalah, misalnya dengan redaksi QS Al-Baqarah [2]: 286 ini: “Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami”. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here