Lima Pesan Kiai dan Posisi eLKISI

0
63

Oleh: Syamsul Arif

Pesantren merupakan lembaga yang pantas dipilih oleh orangtua bagi pendidikan putra-putrinya. Pesantren membentuk dan mengembangkan nilai-nilai moral santrinya. Pada ujungnya, pesantren pembangkit moral bangsa.

Pesantren sampai saat ini memiliki peran besar bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Pendidikan di pesantren mampu memberikan kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk keluar dari gelapnya kebodohan.

Lima Bernas

Prinsip membangun pesantren menurut Pengasuh Pesantren eLKISI, KH Fathur Rohman, ada lima. Berikut ini rinciannya.

Pertama, jadilah orang yang bermanfaat. Jika ingin menjadi manusia yang terbaik, maka jadilah orang yang bermanfaat. Keberadaan kita di tengah masyarakat harus bermanfaat bagi sesama. Orang terkadang hanya pandai mengambil manfaat tetapi tidak pandai memberi manfaat.

Kedua, menolong agama Allah. Setiap kita butuh pertolongan Allah. Hanya orang yang sombong saja yang tidak membutuhkan pertolongan Allah. Jika kita ingin ditolong Allah, maka jangan pernah berhenti memohon pertolongan kepada Allah. Jangan pernah bosan menolong agama Allah dan jangan pernah bosan untuk menolong sesama hamba Allah.

Bagi pengasuh, pengurus, dan para asatidzah, berkhidmat di eLKISI adalah semata-mata hanya untuk menolong agama Allah. Oleh karena itu mereka harus jauh dari ambisi keduniaan semisal memperkaya diri dan keluarganya. Siapapun yang ketamakannya terhadap dunia masih dominan, maka tidak layak dia berkhidmat di eLKISI.

Sikap amanah (tentu saja jujur masuk di dalamnya) adalah modal penting bagi Pesantren eLKISI untuk mengemban amanah umat. “Seorang hamba akan senantiasa dalam pertolongan Allah jika hamba itu mau menolong saudaranya.” Maka, jangan berhenti untuk menolong!

Ketiga, harus bersungguh-sungguh. Berjuang memang harus bersungguh-sungguh dalam segala hal, apalagi mengurus permasalahan umat. “Sepi sanjungan ramai hujatan’, itu hal yang biasa dalam perjuangan. Kita harus siap menghadapi semua. Terkait ini, yang bisa menjadi senjata adalah ikhlas. Wujud dari keikhlasan itu adalah banyak kerja dan banyak karya walau orang lain tidak melihatnya.

Keempat, harus yakin, optimis, dan tawakkal. Keyakinan mutlak dibutuhkan dalam kehidupan kita, terlebih dalam sebuah perjuangan. Percuma saja seseorang melangkah kalau dia tidak yakin dengan apa yang dia lakukan. Keyakinan adalah ruh dalam kehidupan. Maka seorang mukmin wajib yakin dengan janji dan ancaman Allah. Janji Allah benar dan tidak pernah diingkari dan ancaman Allah itu benar bukan ungkapan kosong.

Di antara janji Allah adalah barangsiapa yang menolong agama-Nya maka Allah akan menolongnya. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh akan ditunjukkan jalan. Barangsiapa yang beriman dan beramal shalih, Allah akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan diberikan balasan yang lebih baik dari apa yang dikerjakan. Jika berbuat baik, maka perbuatan baik itu akan kembali kepada kita.

Kelima, harus menjadi yang terbaik. “Jika keberadaan kita justru menjadi masalah bagi umat dan bangsa ini, lebih baik kita tidak perlu ada. Jika memang kita harus ada, maka keberadaan kita harus bisa memberikan manfaat bagi umat dan bangsa. Pesantren eLKISI harus menjadi yang terbaik. Kita harus bisa menjadi mercusuar bagi umat dan bangsa kita.  Untuk itu kita perlu team work yang solid, kuat, cerdas, dan bekerja keras. Tentu saja tidak boleh meninggalkan peran Allah.” Itulah kalimat yang sering KH Fathur Rohman sampaikan kepada para ustadz dan ustadzah di Pesantren eLKISI.

Lahan Juang

Untuk menjadi yang terbaik, perlu kerja keras, kerja cerdas, dan kerja cepat, serta doa dari semua pihak. Tekad dan cita-cita yang tinggi harus diukir di dalam hati yang paling dalam.

Hampir di setiap kesempatan, Pak Kiai-demikian kami sering menyapa KH Fathur Rohman-selalu menasihati para guru bahwa, “Pendidikan adalah perjuangan bukan peluang bisnis. Murid adalah penuntut ilmu bukan pelanggan. Guru adalah pendidik bukan tukang mengajar bayaran.”

Banyak contoh yang bisa kita lihat, betapa orang mempelajari atau menggeluti suatu ilmu tetapi lupa mempelajari adab. Sudah mapan ilmunya, banyak belajar Al-Qur’an, belajar hadits, belajar tauhid dan fiqih, namun tingkah laku mereka terhadap orangtua, kerabat, tetangga dan saudara sesama muslim jauh dari yang dituntunkan oleh Rasulullah Saw dan para ulama terdahulu.

Adab, Fundamental!

Ada karakteristik yang menarik dari model pendidikan di Pesantren eLKISI, di antaranya: Pesantren eLKISI merupakan lembaga pendidikan yang lebih menekankan pada pendidikan adab. Nilai adab menjadi penentu utama agar santri bisa naik kelas atau dinyatakan lulus. Sampai-sampai ada pesan khusus yang disampaikan pengasuh kepada para orangtua, “Jika Anda ke eLKISI hanya untuk mencari nilai dalam selembar kertas ijazah, maka bukan di eLKISI tempatnya.”

Pesantren eLKISI berkeinginan kuat untuk meraih prestasi. Hanya saja, prestasi itu harus berbasis adab. Bagi Pesantren eLKISI, prestasi yang tidak dibersamai adab yang baik akan menyebabkan ilmu yang dimiliki tidak menjadi berkah / manfaat.

Mandiri, Vital!

Kemandirian merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai dalam proses pendidikan. Pendidikan Nasional bertujuan menjamin berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tidak hanya itu, Pendidikan Nasional, juga bertujuan membentuk peserta didik yang mandiri.

Pembelajaran di Pesantren eLKISI, lebih menitikberatkan pada pendidikan adab dan membekali para santrinya agar memiliki ketrampilan hidup. Para santri diajarkan ilmu pertanian, perikanan, sains, multimedia, jurnalistik, juga kewirausahaan, selain materi-materi mengaji dan hafalan yang didapat santri setiap hari.

Dengan ikhtiar melakukan model pembelajaran seperti di atas, diharapkan akan lahir generasi penerus bangsa yang beriman, bertakwa, dan berakhlakul karimah dan mandiri. Itu semua, sebagaimana tujuan Pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003.

Bergeraklah Terus!

Sungguh, jangan berhenti berkarya! Gapailah kehidupan mulia dengan memberikan manfaat bagi sesama. []