Home Kajian Resensi Buku Pahit-Manis Pengalaman di Baitul Maqdis

Pahit-Manis Pengalaman di Baitul Maqdis

0
Pahit-Manis Pengalaman di Baitul Maqdis
Journey to Baitul Maqdis

Resensi Buku oleh M. Anwar Djaelani, dosen Akademi Da’wah Indonesia – Jatim

Judul buku : Journey to Baitul Maqdis
Penulis : Marfuah Panji Astuti
Penerbit : Pro-U Media
Cetakan : I, 2022
Tebal : 138 halaman

Buku ini menggugah ghirah, untuk membela Palestina. Hal ini karena ditulis sosok yang sedari kecil oleh si ayah sudah dikenalkan dengan perjuangan membebaskan Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha. Cara si ayah, lewat “Kisah Pengantar Tidur”.

Si penulis, Marfuah Panji Astuti atau MPA, benar-benar menghayati makna perjuangan membela Palestina, bahkan sejak kanak-kanak. “Tak ada tempat yang lebih ingin saya kunjungi setelah Tanah Suci selain Al-Quds, tanah para Nabi yang diberkahi,” kata MPA (h.7).

Buku ini menarik, karena bisa menghadirkan suasana Baitul Maqdis dan terutama Masjidil Aqsha secara diskriptif-inspiratif. Ini tak aneh karena MPA seorang jurnalis dengan pengalaman puluhan tahun yang terbiasa menulis berita dan feature.

Sembilan Bagus

Ada sembilan laporan yang mempesona. Pertama, “Journey to Baitul Maqdis”. Ini semacam salam pembuka, mengajak agar kita ikut merasakan betapa bahagia saat Allah kabulkan keinginan lama. Alhamdulillah, “Saya sampai ke tanah yang dirindukan ini. Saya akan melihat bentengnya Shalahuddin Al-Ayyubi. Saya akan mendengar kumandang adzan dari Masjidil Aqsha. Sudut mata saya terasa basah, hati saya apalagi” (h.17).

Kedua, “Mereka Rampas Tanah dan Pohon Jeruk Kami”. Kota Jericho, awal yang dikunjungi MPA dan rombongan. Kota ini, antara lain terkenal dengan jeruknya yang sangat sangat manis. Hal yang mencengangkan, terlihat pohon pisang yang butuh banyak air tumbuh di sisi kiri jalan dan di kanan jalan pohon kurma yang butuh panas matahari berbuah lebat. “Sungguh, Palestina adalah tanah yang diberkahi” (h.25).

Ketiga, “Al-Quds, Al-Quds Memanggil”. Selanjutnya, menuju makam dan Masjid Nabi Musa As. Tampak, kontur tanah di Palestina berbukit-bukit, jalanan naik-turun. Indah, tempat pohon tin dan zaitun tumbuh subur ini. Udaranya sejuk dan di kanan-kiri tanaman menghijau (h.6).

Dari Bukit Zaitun, kita bisa memandang keindahan Kota Al-Quds, termasuk kubah emas. Dari kejauhan terlihat sangat luas. Di tempat itulah dulu Pasukan yang dipimpin Abu Ubaidah bin Al-Jarrah Ra mengepung kota selama berhari-hari sampai akhirnya Patriark Kota Al-Quds saat itu, Sophronius menyerahkan kunci gerbang kota kepada Khalifah Umar bin Khattab Ra secara damai (h.38).

Beberapa generasi kemudian, di situ pula Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan kota lewat pertempuran yang heroik. Lalu Patriark Heraclius dan bangsawan Balian of Ibelin menyerahkan kunci gerbang kota dengan damai (h.38).

Keempat, “Masjid ini Aman, Allah yang Menjaganya”. Sekarang, di Al-Quds. Hal “Yang saya suka, di Al-Quds mayoritas orang-orang menunjukkan identitasnya dengan jelas. Perempuan Muslim memakai jilbab dan laki-lakinya memakai kafayeh atau peci. Satu-dua berjalan sambil menguntai tasbih. Orang-orang Yahudi memakai kippa, sekalipun ia sedang berseragam wajib militer atau baju biasa. Orang-orang Nasrani menunjukkan identitasnya dengan memakai mantilla atau kalung salib,” tulis MPA (h.46-47).

Langit mulai temaram. “Dari tempat berdiri, saya bisa melihat Qubhah Ash-Shakhrah yang berwarna emas. Indah sekali dalam keremangan senja,” kata MPA. Lalu kumandang adzan terdengar. Benar, adzan dari Masjidil Aqsha terdengar indah sekali (h.48).

“Dada bergemuruh. Shalat di Masjid Nabawi rasanya syahdu karena kami tahu Rasulullah Saw dibaringkan di dekat situ. Shalat di Masjidil Haram rasanya sangat dekat dengan Allah karena bisa menatap Ka’bah secara langsung. Shalat di Masjidil Aqsha, masya Allah, ghirah keislaman kita akan bergolak. Dari tempat ini Rasulullah Saw mi’raj untuk menerima perintah shalat. Tempat ini diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para syuhada,” tutur MPA (h.50).

Berikut pengalaman ruhani yang sangat pribadi. “Bacaan imam sangat indah. ….. Lalu terdengar imam mulai membacakan doa qunut untuk keselamatan saudara-saudara di Gaza. Saya yang dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah, seumur hidup baru beberapa kali shalat dengan bacaan qunut. ….. Namun kali ini air mata saya menderas. ‘Aamiin’ yang saya ucapkan betul-betul dari sanubari terdalam,” tutur MPA (h.50).

Di Masjidil Aqsha MPA berjumpa dengan Fatima, salah seorang penjaga Setelah berbicara hangat dan bersahabat, Fatima berpesan: “Kabarkan pada saudaramu untuk terus mendoakan kami. Mereka-Zionis-memusuhi kami, tapi Masjid ini aman. Masjidil Aqsha aman karena Allah yang menjaganya” (h.52).

Kelima, “Seluruh Kompleks Masjidnya Suci, Tanahnya Pun Suci”. Banyak yang bertanya, “Mana sebenarnya yang dimaksud Masjidil Aqsha? Apakah yang kubahnya berwarna emas atau yang berlapis timah berwarna hijau keabu-abuan?” Jawabnya, “Seluruh Kompleks Haram Asy-Syarif adalah tempat suci. Seluruh Kompleks Haram Asy-Syarif adalah Kompleks Al-Aqsha atau Masjidil Aqsha” (h.57).

Masjidil Aqsha mengacu pada nama masjidnya-yaitu semua yang berada dalam Kompleks Haram Asy-Syarif-, sedangkan Baitul Maqdis mengacu pada kawasan sucinya atau dalam istilah lain disebut Al-Ardhu Al-Muqaddasah – bumi yang disucikan. Dengan kata lain, Masjidil Aqsha adalah masjidnya Baitul Maqdis. Masjidnya suci, kawasannya pun suci (h.66).

Keenam, “Selembar Syal dan Senyum Jamal”. Adalah Jamal, seorang local guide. Dia memandu perjalanan MPA dan rombongan selama di Palestina. Sosoknya, mungkin bisa mewakili rata-rata orang Palestina, yang terbatas ruang geraknya dan ada di antara keluarganya yang syahid.

Jamal, misalnya, dalam sehari bisa melepas ikat pinggangnya sampai 10 kali saat melewati check point Israel (h.77). Jamal juga kehilangan ayahnya, syahid karena membela tanah airnya (h.75). Dengan situasi kejiwaan seperti itu, mendapatkan Jamal dalam posisi sedang tersenyum adalah anugerah tersendiri (h.74).

Rombongan menyempatkan ke toko souvenir. MPA sangat senang melihat selembar kain bermotif kotak-kotak hitam putih dengan garis hijau di pinggirnya. Di ujungnya ada tulisan, “Al-Quds Lana” – Al-Quds Milik Kita (h.79).

Lalu, sampai-lah rombongan di sebuah gerbang: Damascus Gate. “Hati saya bersorak. Dari sini sang pahlawan Shalahudin Al-Ayyubi memasuki kota yang berhasil dibebaskannya, delapan ratus tahun lalu. Tiba-tiba saya merasa heroik,” tutur MPA yang saat itu membawa syal bermotif sama seperti yang sering dikenakan Ismail Haniya. Juga, kala itu MPA membawa bendera kecil Palestina (h.83).

Ketujuh, “Darah Syuhada Mengalir di Al-Khalil”. Bahwa, di Masjid Ibrahimi di Al-Khalil (Hebron), pada 25 Februari 1994 terjadi tragedi. Itu, menimpa jamaah yang sedang shalat subuh. Berondongan peluru pada bulan Ramadan itu menyebabkan 40 orang syahid dan ratusan terluka.

Ke Masjid Ibrahimi itulah rombongan MPA pagi-pagi berangkat. Perjalanan 30 km harus melewati beberapa check point (h.89). Perjalanan itu diwarnai ketegangan, tentara Israel masuk bus dengan sikap semena-mena: Menyelidik! Ah, “Benarkah ini perjalanan ke masjid?” (h.88-89).

Di kompleks Masjid Ibrahimi ada enam makam, yaitu: Nabi Ibrahim As dan Sarah (istrinya), Nabi Ishaq As dan Rifka (istrinya), serta Nabi Ya’qub As dan istrinya. Sayang, belakangan, dengan berbagai dalih Israel mengokupasi makam Nabi Ya’qub dan istrinya serta merampas separuh bangunan masjid yang kemudian dipakai untuk mendirikan sinagoge (h.95).

Di Masjid Ibrahimi, di samping tempat imam, terdapat mimbar Shalahuddin Al-Ayyubi yang masih asli. Mimbar masih kokoh sekalipun sudah sangat tua. Di bagian atas mimbar terdapat lambang bulan sabit yang digunakan pasukan Shalahuddin Al-Ayyubi saat membebaskan Baitul Maqdis (h.96).

Kedelapan, “Que Viva Intifada”. Bahwa, grafiti di Palestina termasuk yang dicari MPA. Maka, sebuah grafiti membuat langkah MPA terhenti. Dia baca: “Que Viva Intivada” (Hidup Intifada, dalam bahasa Spanyol). Intifada bisa bermakna perlawanan, bisa pula berarti perang batu (h.106).

Kesembilan, “Pohon Gharqad yang Terlupa”. Sampai pulang ke Indonesia, MPA lupa menanyakan seperti apa rupa pohon gharqad. Padahal, keberadaannya cukup “penting” (h.112). Perhatikan hadits ini: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu membunuh mereka. Sehingga ketika seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu pun akan berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini Yahudi di belakangku. Kemarilah, bunuhlah dia!’ Kecuali pohon gharqad, maka itu adalah dari pohon-pohonnya Yahudi” (HR Bukhari dan Muslim).

Sejumput Catatan

Buku ini bagus. Bahasanya, mengalir. Isinya, bermanfaat. Perwajahan bukunya, terutama dengan ilustrasi puluhan foto, elok.

Hanya, tetap perlu perbaikan. Pertama, dari 37 foto yang ada tak satupun yang mencantumkan sumbernya. Padahal, di halaman 4, disebutkan bahwa ada dua sumber ilustrasi yaitu berasal dari koleksi pribadi penulis dan internet. Kedua, bahasa laporan harian belum diubah menjadi “bahasa buku”. Lihat, misalnya, “hari ini” (h.7 dan 110) serta “beberapa hari yang lalu” (h.15). Ketiga, sangat banyak paragraf yang panjang dan memuat lebih dari satu ide pokok. Lihat, misalnya, paragraf di halaman 116 sampai ke lima baris atas di halaman 117. Paragraf panjang itu bisa dipecah menjadi empat.

Amanah, Amanah!

Apapun, buku mungil dengan cover elok ini, berharga! Dengan buku ini MPA telah buktikan kecintaannya kepada Palestina yang-langsung atau tidak-, merupakan amanah dari sang ayah lewat “Kisah Pengantar Tidur”.

Dengan buku ini MPA juga telah tunaikan amanah dari Fatima-warga Palestina-saat keduanya bertemu di Masjidil Aqsha (lihat lagi h.52). “Amanah dari Fatima ini selalu saya jaga. Kemana pun melangkah, saya akan mengabarkan pada siapa saja untuk mendoakan kaum Muslimin di Palestina dan Masjidil Aqsha” (h.52).

Alhamdulillah! Allahu Akbar! []