Pelajaran Menerima dan Menjaga Amanah

0
77
Ustadzah Suciati, M.Pd, Kepala SMK Kesehatan eLKISI

Oleh: Suciati

Sebagai pribadi, kita semua memanggul amanah kepemimpinan yang tidak ringan. Tentu, beban tanggung-jawab akan jauh lebih besar jika seseorang mendapat amanah untuk memimpin banyak orang.

Dalam kaitan ini, sejumput pengalaman di Pesantren eLKISI berikut ini semoga bermanfaat. Pada saat yang sama, baik pula jika kita buka ulang bagaimana dulu saat Umar bin Abdul Aziz mendapat amanah jabatan. Ada pelajaran besar di sana.

Siap Buktikan

Menjadi bagian dari jamaah pejuang dakwah dan pendidikan di Pesantren eLKISI adalah sebuah kebahagiaan yang patut saya syukuri. Saya bergabung di tahun 2015. Awalnya, saya menjadi guru kimia di SMA eLKISI yang baru berdiri.

Di tahun itu pula, 2015, Pesantren eLKISI mendirikan SD Alam Islami eLKISI. Atas lembaga baru itu saya diamanahi menjadi kepala sekolah. Tentu, ini bukan suatu hal yang ringan. Dua tahun saya menjadi pemimpin di SD Alam Islami eLKISI.

Selanjutnya, di tahun 2017, saya diamanahi sebagai Kepala SMA eLKISI, lembaga yang pada mulanya saya menjadi guru kimia. Diamanahinya saya sebagai Kepala SMA eLKISI bertepatan dengan proses akreditasi SMA eLKISI. Alhamdulillah, antara lain berkat kerjasama yang kuat dari para asatidz, akreditasi SMA eLKISI mendapatkan nilai A.

Di tahun 2019, kembali saya diamanahi menjadi Kepala SD Alam Islami eLKISI. Demikianlah, sejarah terus bergerak. Pada tahun 2022, saya diamanahi menjadi Kepala SMK Kesehatan eLKISI, lembaga yang baru berdiri pada tahun pelajaran 2022/2023.

Begitulah kondisi yang ada di Pesantren eLKISI. Rotasi kepemimpinan adalah suatu hal yang niscaya. Ketika seseorang mendapat amanah sebagai pemimpin maka harus “sami’na wa ‘atho’na” (“kami dengar dan taati”). Segera setelah itu, orang yang ditunjuk wajib segera melayakkan diri untuk menjadi pemimpin terbaik. Inilah keistimewaan ketika berada di Pesantren eLKISI. Jabatan bukan sesuatu yang mejadi rebutan.

Pelajaran Berkesan

Terkait hal di atas, kita memang harus terus membuka kisah-kisah dari tokoh teladan. Misalnya, perhatikanlah Umar bin Abdul Azis. Dia tokoh panutan yang inspiratif di bidang kepemimpinan.

Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada Dinasti Bani Umayyah tepat pada hari Jumat, 10 Shafar 99 Hijriyah. Pemimpin besar itu menangis terisak-isak. Dia memasukkan kepalanya ke di antara dua lututnya dan menangis seraya berkata, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.”

“Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikitpun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan,” kata Umar bin Abdul Aziz kemudian.

Tangisan dan ungkapan sedih Umar bin Abdul Aziz sebagai respon atas jatuhnya amanah kepadanya mungkin terasa aneh bagi kebanyakan orang di zaman sekarang. Tetapi itu adalah fakta sejarah dan tentu saja didasari oleh alasan yang jelas.

Sangat mungkin, Umar bin Abdul Aziz menangis karena khawatir akan keadaan dirinya kelak di Hari Akhir. Hal ini, karena akan ada pertanggungjawaban-yang jika tergelincir dalam melaksanakan amanah-akan ada balasan amat perih.

Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah ada seseorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk memimpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam (keadaan) melakukan penipuan terhadap rakyatnya kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk surga” (HR Bukhari dan Muslim).

Sungguh, Jangan!

Alhasil, di manapun posisi kita, berhati-hatilah saat memegang amanah! Kita, terutama yang berposisi sebagai pemimpin dari orang banyak, sekali-kali jangan mengabaikan dan apalagi mengkhianati amanah. []