Home Berita dan Kegiatan Berita Terkini Saat Santri Belajar Mewarnai Masyarakat

Saat Santri Belajar Mewarnai Masyarakat

0
Saat Santri Belajar Mewarnai Masyarakat

Oleh Miftakhul Mitha Qolisah,
mahasiswa eLKISI Institute

“Apakah manusia mengira
bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan,
‘Kami telah beriman’,
dan mereka tidak diuji?”
(QS Al-Ankabut [29]: 2).

Kini, virus Corona mendatangkan kesulitan nyaris bagi semua orang. Bagi umat Islam, misalnya, mereka -antara lain- tak leluasa lagi menunaikan sholat jamaah di masjid. Sementara, di aspek pendidikan, pandemi ini menyebabkan terganggunya proses ta’dib dan ta’lim di lembaga-lembaga pendidikan termasuk di pesantren. Banyak pesantren terpaksa memulangkan santri-santrinya karena tak sedikit walisantri yang khawatir tidak bisa bertemu dengan anaknya akibat lockdown di beberapa daerah.

Di sisi lain, pandemi ini membuat banyak orang terlihat berlebihan dalam menghadapinya. Sikap berlebihan itu, contohnya seperti takut akan mati. Padahal, sikap seperti ini tidak baik untuk mental. Terkait ini, ada fakta bahwa banyak orang yang akhirnya mati bukan karena virus, tapi karena beban mental.

Sikap yang tepat adalah berhati-hati dan terus berikhtiar agar terhindar dari virus Corona. Juga, mengikuti anjuran pemerintah dan fatwa ulama di tengah pandemi ini adalah cara yang benar.

Kita perlu berikhtiar agar terhindar dari virus Corona. Model ikhtiar bisa apa saja asal tidak menyimpang dari aqidah dan syari’at Islam. Misal, supaya wabah ini segera terputus mata rantainya, maka kita harus mengurangi kegiatan-kegiatan yang di dalamnya banyak berkumpul orang.

***

Corona, ujian atau adzab? Bagi orang yang beriman, ini adalah ujian yang menuntut adanya kesabaran dalam menghadapinya sebab mereka yakin bahwa Allah pasti memberikan hikmah yang besar di balik semua ini. Orang yang beriman akan lapang untuk menerimanya. Namun, bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, pandemi ini adzab yang harus mereka terima akibat perbuatan mereka.

***

Pada perkembangannya, belajar dan dengan pedampingan jarak jauh terhadap murid/santri dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan pada saat ini. Ini merupakan upaya agar para guru dan ustadz/-ah tetap bisa melakukan pemantauan, pendampingan, dan penyampaian ilmu meski berjarak secara fisik. Sebab, untuk membentuk santri-santri yang beradab harus terus dilakukan pendampingan.

Salah satu cara belajar jarak jauh yang dilakukan oleh Pesantren eLKISI International Islamic Boarding School adalah melalui media TV. Alhamdulillah, eLKISI telah mempunyai media TV, satu hal yang bisa turut mempermudah proses pemberian ilmu kepada seluruh santrinya di berbagai penjuru Indonesia. Para santri wajib untuk mengikuti kajian yang disampaikan langsung oleh Ustadz Fathur Rohman selaku Direktur eLKISI IIBS. Juga, wajib membuat catatan atas materi yang disampaikan.

Di eLKISI, memantau hafalan hadits maudhui dan hafalan Al-Qur’an para santri juga dilakukan sebagai upaya pendampingan santri. Dalam hal ini, santri akan diuji di setiap pekan sebagai pertanggungjawaban tugas hafalan di rumah.

Sungguh, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain”. Menyadari akan hal itu, seorang santri yang sejati harus menjadikannya sebagai pedoman yang paling utama.

Merupakan suatu kemuliaan, kehormatan, dan kebanggan bahwa santri bisa menjadi perpanjangan tangan dari para ulama. Santri adalah perwakilan asatidz di tengah keluarga. Santri adalah perwakilan pesantren di hadapan bangsa dan negara.

Amanah yang dipikul santri bukan amanah yang ringan, yaitu menjalankan seluruh syariat dan menjauhi segala perbuatan maksiat. Santri yang normal adalah mereka yang bangga ketika dia dinobatkan sebagai perpanjangan tangan para ulama.

Ketika seorang santri merasa bangga dengan tugas dan amanah yang diemban, maka di manapun dia berada, bersama dengan siapapun, dan dalam kondisi bagaimanpun, dia akan punya rasa tanggung-jawab untuk menjaga nama baik ulama dan dirinya sendiri. Maka, di titik ini, di antara tugas santri di saat pandemi ini adalah: Menjadi teladan yang baik bagi masyarakat. Juga, mengajak masyarakat untuk rajin beramal sholih. Pun, aktif memberikan contoh, seperti dalam hal disiplin menegakkan sholat berjama’ah, menjalankan sholat Sunnah qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, memuroja’ah hafalan, dan lain-lain.

Santri harus aktif ikut mengawal berbagai agenda kebajikan, sebab sekarang inilah waktu untuk mengamalkan ilmu yang didapat dari pesantren. Saatnya, santri menghadapi permasalahan-permasalahan real di tengah-tengah pandemi sekarang ini. Jadi pada intinya, kepada para santri di mana saja berada, jadilah santri yang bisa mewarnai masyarakat dengan kegiatan yang baik dan teladan yang indah. Sebaliknya, jangan sampai para santri menjadi objek yang terwarnai secara jelek oleh lingkungannya. Wallahu a’lam. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here