Home Berita dan Kegiatan Berita Terkini Ulama yang Merdeka dari Kekuasaan

Ulama yang Merdeka dari Kekuasaan

0
Ulama yang Merdeka dari Kekuasaan

Oleh M. Anwar Djaelani,
staf di Pesantren eLKISI – Mojokerto

Banyak yang ingin menjadi penguasa, tapi tak sedikit ulama yang malah bersikap sebaliknya. Mereka tegas menolak ketika disodori jabatan tinggi. Akibatnya, banyak di antara ulama itu yang dihukum dan bahkan disiksa. Siapa saja di antara ulama-ulama itu?

Amanah Berat

“Yaa Rasulullah, mengapa engkau tak memberi jabatan apa-apa kepadaku,” tanya Abu Dzar Ra kepada Nabi Muhammad Saw. 

“Hai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah, sedangkan jabatan itu adalah amanah,” jawab Nabi Saw. Sebagai amanah, lanjut Nabi Saw, jabatan kelak pada Hari Kiamat hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan kecuali bagi orang yang dapat menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya.

Nasihat Nabi Saw itu berlaku umum dan tidak hanya untuk Abu Dzar Ra saja. Bahwa, kapanpun, kekuasaan atau jabatan itu sangat berat dan harus ditunaikan dengan baik.

Agar dapat menjalankan tugas dengan baik, maka “kuat” dan “dapat dipercaya (amanah)” adalah syarat yang harus dipenuhi oleh “pekerja” (termasuk pejabat atau penguasa). Perhatikan ayat ini: “ ….. sesungguhnya orang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (QS Al-Qashash [28]: 26). Mengingat tidak ringan tanggung-jawab pejabat, maka tak mengherankan jika banyak ulama yang teguh menolak saat kepadanya diberikan jabatan tertentu. Intinya, banyak ulama yang sangat berhati-hati terhadap godaan jabatan dan–oleh karena itu-mereka menjaga jarak terhadap kekuasaan. Terkait ini, mari belajar kepada–setidaknya-Imam Hanafi, Muhammad Waasi’, Al-Laits bin Sa’ad, Imam Ath-Thabari, dan Abu Muslim.

Teladan Imam Hanafi

Imam Hanafi (80-150 H) mendapat ujian berat, baik di masa Bani Umayyah maupun di zaman Bani Abbasiyah. Pada masa Bani Umayyah di saat pemerintahan Khalifah Marwan ibn Muhammad, Gubernur Irak Yazid ibn Hubairah berencana mengangkat Imam Hanafi menjadi Hakim. Saat Imam Hanafi menolak, beliau lalu disiksa.

Pada zaman Bani Abbasiyah, yaitu pada pemerintahan Abu Ja’far Al-Manshur, Imam Hanafi juga diminta menjadi Hakim. Kala Imam Hanafi menolak, beliau lantas disiksa dan dipenjara. Imam Hanafi wafat di dalam penjara saat berusia 70 tahun.

Contoh Muhammad bin Waasi’

Muhammad Waasi’ (wafat 123 H) seorang ulama Tabi’in. Beliau berkali-kali diminta menjadi Hakim. Namun, beliau selalu menolak dengan tegas. Beliau-pun dipanggil oleh Kepala Polisi Basrah, yaitu Muhammad bin Mundzir.

“Gubernur Irak memerintahkan saya untuk menyerahkan jabatan Hakim kepada engkau,” kata Kepala Polisi Basrah.

“Jauhkan saya dari jabatan itu. Semoga Allah memberi engkau kesejahteraan,” kata Muhammad bin Waasi’.

Permintaan tersebut diulang sampai tiga kali, namun Muhammad Waasi’ tetap menolaknya. Atas hal itu, sang Kepala Polisi marah dan mengancam.

“Engkau terima jabatan itu atau saya akan mencambuk engkau 300 kali tanpa ampun!”

 “Jika engkau melakukan itu maka berarti engkau bertindak semena-mena. Ketahuilah bahwa disiksa di dunia lebih baik daripada harus disiksa di akhirat.”

Kepala Polisi itu menjadi malu. Lalu mengizinkan Muhammad bin Waasi’ pulang dengan penuh hormat. Rasa hormat dari masyarakat, termasuk dari pejabat, akan terbit dengan sendirinya jika ulama selalu berusaha untuk kritis dan bahkan berani meminta penguasa untuk tunduk kepada Syariat Islam. Sikap seperti itu akan mudah dikerjakan jika ulama tak memiliki hubungan kerja dan terlebih lagi jika si ulama bukan bawahan langsung dari pejabat atau penguasa.

Jejak Al-Laits bin Sa’ad

Teladan berikutnya, Al-Laits bin Sa’ad (wafat 175 H). Ulama Tabi’in ini berilmu tinggi, berakhlaq mulia, dan dipercaya semua kalangan. Al-Laits tak hanya dihormati penguasa semisal Harun Al-Rasyid, tapi juga dimuliakan oleh Imam Syafi’i dan Imam Hanbali.

Adz-Dzahabi berkata, “Al-Laits merupakan ulama besar di Mesir, yang mempunyai ilmu fiqih mendalam dan ahli hadits. Al-Laits sangat membanggakan warga Mesir. Jika ada pergantian raja, mengganti seorang Qadhi, atau mengangkat perangkat kerajaan yang lain, maka Al-Laits yang menentukannya”. Khalifah Al-Manshur Al-Abbasi, yang peduli kepada ketinggian ilmu dan kemuliaan akhlaq sesorang, mengundang Al-Laits untuk sebuah pembicaraan. Setelah berdialog panjang, Sang Khalifah semakin bersimpati kepada Al-Laits. Lalu beliau menawarkan Al-Laits untuk menjadi penguasa Mesir. Tapi, Al-Laits menolaknya.

Spirit Imam Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari (224-310 H) pernah ditawari jabatan Hakim. Ulama tersebut menolak. Atas penolakan jabatan di pemerintahan yaitu sebagai Hakim, teman-teman Imam Ath-Thabari mencelanya dengan berkata: “Ketika kamu terima jabatan ini, maka kamu akan mendapatkan gaji tinggi dan akan dapat menghidupkan pengajian sunnah yang kamu laksanakan”.

Mencermati sikap kurang simpatik dari teman-temannya itu, Imam Ath-Thabari kemudian merespon: “Sungguh, aku mengira kalian akan mencegahku ketika aku senang jabatan tersebut.” Terasa, beliau tak berkenan dengan pendapat teman-temannya dalam hal jabatan.

Semangat Abu Muslim al-Khaulani

Berikut ini teladan dari ulama yang berani memberi nasihat kepada penguasa. Berani, karena si ulama “merdeka” dari pengaruh atau kepentingan kekuasaan. Di titik ini, Abu Muslim al-Khaulani termasuk salah satu teladan.

Abu Muslim al-Khaulani ulama Tabi’in. Beliau aktif menyerukan kebenaran dan tegas memberantas kebathilan. Dalam hal dakwah, Abu Muslim berani menghadapi siapapun termasuk penguasa.

Di masa Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Muslim sering menghadiri majelisnya. Pernah, Abu Muslim mendatangi Mu’awiyah di sebuah pertemuan. Saat itu, Mu’awiyah dikelilingi banyak pejabat, panglima perang, dan tokoh-tokoh masyarakat.

 Abu Muslim berkata kepada Mu’awiyah. “Engkau adalah orang yang diangkat Allah sebagai pejabat bagi umat, seumpama orang yang digaji untuk mengurus ternak-ternak. Dia akan diberi upah besar, jika mengurus ternak-ternak itu dengan baik. Misal dia rajin merawat ternak sehingga yang kecil menjadi besar, yang kurus menjadi gemuk dan yang sakit menjadi sehat. Tetapi jika teledor-tidak mengurusnya dengan baik-sehingga ternak-ternak itu kurus-kering lalu mati, susut hasil bulu dan susunya, maka dia tak akan diberi upah. Bahkan, dia akan menerima murka dan hukuman. Oleh karena itu, wahai Mu’awiyah, boleh memilih mana yang baik bagi engkau dan upah mana yang engkau kehendaki.”

Sang Khalifah mendengarkan dan kemudian berkata, “Semoga Allah membalas engkau dengan yang lebih baik atas perhatian engkau kepada kami dan juga kepada rakyat. Kami mengenal engkau yang selalu memberikan nasihat karena Allah dan Rasul-Nya serta bagi kebaikan kaum Muslimin.”

Kembali, Kembalilah!

          Ulama adalah manusia biasa. Bisa saja sebagian dari mereka tergelincir. Misal, bersikap salah seperti mengincar kekuasaan semata-mata karena syahwat politik. Misal, bersikap zalim seperti mengincar jabatan dengan cara-cara yang tak berakhlaq. Maka, kepada mereka, setidaknya riwayat Imam Hanafi, Muhammad Waasi’, Al-Laits bin Sa’ad, Imam Ath-Thabari, dan  Abu Muslim di atas dapat memberi penguatan agar bisa kembali kepada jalan yang benar: Bebas dari perhambaan kepada jabatan. Ulama harus merdeka dari pengaruh negatif kekuasaan! []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here