Ustadz Sudarno Hadi (1965-2020); Aktivis yang Bersungguh-sungguh

0
223

Oleh M. Anwar Djaelani,
– Penulis buku “50 Pendakwah Pengubah Sejarah” dan “Jejak Kisah Pengukir Sejarah”
– Dosen eLKISI Institute Mojokerto

Inna lillahi wa inna ilayhi roji’un. Rabu 25/11/2020 sekitar pukul 19.30, beredar secara cepat kabar duka: Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur-Ustadz Sudarno Hadi-meninggal. Banyak yang bersedih atas kepergian aktivis dakwah yang potensial dan relatif masih muda itu.

Aktivis Dedikatif
Sudarno Hadi lahir di Kediri pada 31/03/1965. Dia kader Pelajar Islam Indonesia (PII). Dia peserta Leadership Basic Training tahun 1984 di Gurah-Kediri. Lalu, menjadi Ketua Umum PD-PII Kediri 1989 (sebelumnya, dia berpengalaman sebagai Ketua PII Komisariat Plosoklaten Kediri).

Pada 1991, di PW-PII Jawa Timur, Sudarno Hadi diberi amanah sebagai Wakil Ketua Korwil Majelis Dakwah. Dengan posisinya ini, setidaknya ada dua hal yang mudah diingat. Pertama, dia rajin menyelenggarakan Kajian Islam Intensif tiap bulan. Kedua, dia aktif bersilaturrahim ke tokoh-tokoh senior pergerakan Islam di Surabaya.

Sudarno Hadi kemudian direkrut oleh Bapak Tamat Anshori untuk turut mengaktifkan DDII Jawa Timur. Waktu itu Pak Tamat adalah salah satu Wakil Ketua, sementara Ketua Umum-nya adalah Bapak KH Misbah.

Rekrutmen ini berawal dari sebuah kebutuhan, bahwa kala itu DDII Jawa Timur sedang memerlukan tenaga penuh waktu untuk membantu kerja-kerja kesekretariatan. Pas, saat itu, Sudarno Hadi sering berinteraksi dengan aktivis senior, terutama dengan Pak Tamat.

Setelah resmi membantu DDII Jawa Timur, dengan menjadi salah satu Wakil Sekretaris, Sudarno Hadi banyak menyertai Pak Tamat saat mengunjungi berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur untuk konsolidasi organisasi.

Lewat aktivitas itu, Sudarno Hadi setidaknya mendapat dua manfaat. Pertama, dia tahu peta perjuangan DDII Jawa Timur. Terkait ini, dia pun mengenal secara dekat tokoh-tokoh DDII di berbagai daerah Jawa Timur. Kedua, dia memanfaatkan kunjungan ke berbagai daerah itu untuk juga bersilaturrahim ke pengurus dan/atau aktivis PII setempat.

Berikut ini catatan Kanda Rizal Aminuddin, sahabat seangkatan Sudarno Hadi di PII. Pertama, Sudarno Hadi aktivis yang gesit dan tanggap situasi. Pada 1990, saat Iraq menginvasi Kuwait, tokoh-tokoh Islam di negeri ini membuat pernyataan sikap menyesalkan peristiwa itu. Di Jawa Timur, Sudarno Hadi menemui tokoh-tokoh Islam untuk turut membubuhkan tanda tangan di surat pernyataan itu. Selanjutnya, surat itu dikirim ke Kedubes Irak.

Kedua, Sudarno Hadi turut dalam advokasi pemakaian jilbab terkhusus di paro akhir 1980-an. Saat itu ada larangan pelajar putri berjilbab saat ke sekolah. Di titik ini, di antara langkah kalangan Islam: Membawa kasus ini ke Pengadilan Negeri Surabaya. Dalam perkembangannya, Sudarno Hadi ikut mencarikan saksi ahli. Dia berhasil menghadirkan Ustadz Muhadjir Sulthon, anggota MUI Jawa Timur sekaligus dosen UIN Surabaya. Singkat kisah, alhamdulillah, Pengadilan Negeri Surabaya memutuskan bahwa pelajar putri boleh berjilbab ke sekolah.

Ketiga, Sudarno Hadi sangat dipercaya oleh DDII Pusat. Misal, dulu Sudarno Hadi diminta untuk mengirim bantuan langsung ke Timor Timur. Bantuan tersebut, untuk komunitas Muslim yang ketika itu sedang menderita akibat terjadinya sebuah kerusuhan. Dengan kapal laut dia langsung ke lokasi yang harus dibantu.

Pernah pula, Sudarno Hadi diminta turut menyelesaikan problema berat yang dihadapi salah sebuah desa di Jember. Kala itu seluruh warga desa itu di-klaim pindah agama / murtad oleh pihak tertentu. Klaim itu diperlukan oleh pihak yang tidak bertanggung-jawab itu untuk mendapatkan bantuan.

Tercatat pula, pada saat tsunami 2004 di Aceh, Sudarno Hadi turun langsung. Dia membawa bantuan dari Lembaga Amil Zakat DDII Pusat.

Memang, pria berpostur tegap ini-tinggi sekitar 170 Cm-adalah aktivis dakwah yang cekatan. Saat Pak Tamat Anshori menjadi Ketua DDII Jawa Timur, Sudarno Hadi dikenal sebagai semacam tangan kanan-nya. Keduanya dikenal punya pembawaan yang sama: Energik! Mobilitas mereka tinggi.

Berikut ini sekadar catatan gerak dakwah Almarhum, beberapa waktu terakhir. Tanggal 26-27 September 2020 Almarhum mengadakan perjalanan ke Banyuwangi, Jember dan Bondowoso.

Sabtu 26 September 2020, Almarhum bertemu pengurus DDII Banyuwangi untuk konsolidasi organisasi. Sabtu malam, di Jember bermalam di rumah Pak Ashabul Mukminin – fungsionaris DDII Jawa Timur. Ahad, esoknya, melantik pengurus DDII sejumlah kecamatan di Jember. Selesai itu, bergerak ke Bondowoso ke Pesantren Al-Ishlah. Di Pesantren yang dipimpin KH Thoha Yusuf Zakariya itu, agendanya adalah konsolidasi DDII Bondowoso.

Sementara, ke depan, sudah ada agenda dakwah. Misal, tanggal 13 Desember 2020 Almarhum sudah terjadwal memberikan taushiyah di Muntilan – Jawa Tengah.

Sudarno Hadi sebagai muballigh, banyak diundang di berbagai tempat. Performanya, diterima oleh masyarakat. “Saya terkesan dengan Ustadz Sudarno Hadi, sebab dalam menyampaikan taushiyah-taushiyahnya penuh berhias senyum dan menyejukkan,” tutur Bunda Hari Astuti – seorang aktivis di Surabaya. “Beliau orang baik. Sabar tapi tegas,” kata Bunda Jumilah – aktivis di Pare – Kediri.

Atas kinerja dakwah almarhum, senada komentar sejumlah orang. “Sudarno Hadi itu aktivis dakwah yang konsisten, gigih, dan bersungguh-sungguh,” kata Kanda Busyairi Mansyur – mantan Ketua Umum PERSIS Jawa Timur. “Teguh dalam sikap dan pendirian,” kata Kanda Tom Mas’udi – rekan seangkatan almarhum saat mengikuti Leadership Basic Training PII.

“Beliau orang baik,” demikian kesaksian Ady Amar, aktivis Al-Irsyad dan rekan satu komisi dengan Almarhum di MUI Jawa Timur. Bahkan, merasa tak cukup dengan sekadar komentar pendek itu, Ady Amar-penulis produktif ini-menyempatkan diri memberikan testimoni beberapa paragraf seperti di bawah ini.

“Memang kematian bukanlah sejatinya perpisahan. Insya-Allah keabadian akhirat akan menyatukan kita lagi dalam kebersamaan. Tapi kepergianmu tetaplah menyisakan kehilangan.

Semangat dan sikap tegasmu adalah kekhasanmu dalam keseharian. Lugas dalam prinsip dan hormat pada senior adalah sikapmu yang patut jadi teladan. Dari sedikit yang kuketahui tentangmu, terlalu banyak yang bisa jadi kenangan.

Aku yakin ada banyak yang ingin kau bagi pada jamaah sepanjang harapan. Beristirahatlah dengan tenang Saudaraku, dan semoga muncul Ustadz Sudarno Hadi lainnya, yang tak pernah lelah menegakkan prinsip dan ketaatan”.

Spirit Aktivis
Ustadz Sudarno Hadi meninggalkan seorang istri dan seorang anak. Sang anak, Muhammad Afif Amrullah, Al-Hafidz lulusan Aliyah Pondok Pesantren Islamic Center Bin Baz Yogyakarta. Sekarang, sambil mengajar di almamaternya, Afif sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jawa Tengah.

Ustadz Sudarno Hadi, selamat jalan! Langkah dakwah Antum yang gesit dan selalu bersungguh-sungguh memang harus terhenti pada Rabu 25/11/2020. Tapi, insya-Allah, akan banyak aktivis yang tersemangati oleh kiprah Antum selama ini: Seorang aktivis dakwah yang tak kenal lelah dan selalu siap dengan senyum yang menyejukkan. []