Asatidzah eLKISI Warnai Hari Guru Nasional dengan Lomba Menulis

0
literasi guru pondok pesantren modern elkisi mojokerto jawa timur

Peringatan Hari Guru Nasional 2019 di Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI dimanfaatkan untuk kegiatan lomba menulis tingkat asatidzah. Semua karya tulis dikumpulkan dan dinilai oleh ustadz Anwar Jaelani.

Alhamdulillah para asatidzah cukup antusias mengikuti lomba ini. Dari dua belas karya tulis yang masuk dalam penilaian, terpilih tiga karya tulis yang terbaik sebagai berikut:

  1. Ustadzah Nurul Kholifah dengan karya tulis “Antara Amarah dan Kasih Sayang”
  2. Ustadzah Rohmatin dengan karya “Termotivasi Santri, Nikmati Hafalan Kitab Suci”, serta
  3. Ustadz Syamsul Arif dengan karya “Dari Aksi Sosial Empati Gunung Kelud: Peduli Sesama Membuka Pintu Berkah”.

Kegiatan ini sudah dilaksanakan mulai senin (11/11) lalu. Puncak penilaiannya adalah pada saat peringatan Hari Guru Nasional senin (25/11). Para pemenang mendapatkan hadiah masing-masing sebuah buku “Warnai Dunia dengan Menulis” karya tulis ustadz Anwar Jaelani dan juga uang pembinaan Rp 750.000,- untuk Juara I, Rp 500.000,- untuk Juara II, dan Rp 250.000,- untuk Juara III.

Dibuka indent Penerimaan Santri Baru Tahun Pelajaran 2021-2022 dan 2022-2023

0
fasilitas smartlab pondok pesantren islamic center elkisi mojokerto

Indent Penerimaan Santri Baru Jenjang SMP dan SMA Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto Jawa Timur Tahun Pelajaran 2021-2022 & 2022-2023.

Alhamdulillah, Kabar gembira bagi bapak/ibu yang mempunyai putra-putri yang sedang duduk dibangku Sekolah Dasar kelas 4 dan 5 juga SMP kelas 7 dan 8.

Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto membuka kesempatan pendaftaran inden bagi putra putri bapak/ibu untuk bergabung menjadi Santri di Kampus Peradaban Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto salah satu Pondok Pesantren terbaik di Jawa Timur.

Keuntungan daftar indent:

  1. Bebas Tes Masuk
  2. Uang Gedung sesuai dengan tahun pelajaran mendaftar

Berikut profil lulusan santri regular:

SMP, in syaa Allah:

  • Beraqidah salimah
  • Mempunyai adab yang baik
  • Hafal 500 hadits Temati
  • Hafal (plus) 2 Juz al Qur’an
  • Mempunyai karya tulis (Buku)
  • Mandiri

SMA, in syaa Allah:

  • Beraqidah salimah
  • Mempunyai adab yang baik
  • Hafal 420 hadits (kitab Umdatul Ahkam)
  • Siap menjadi Imam dan Khotib
  • Berpeluang kuliah di Timur Tengah
  • Menguasai Multimedia
  • Mempunyai karya Buku
  • Memiliki jiwa kepemimpinan
  • Mandiri

Program Unggulan:

  • Tahfidh al Qur’an (khusus)
  • Tahfidh Hadits
  • Penguatan Adab
  • Wajib Tahajjud
  • Kelas Kader Ulama (SMA)
  • Praktek Dakwah Ramadhan (PDR) Dalam dan Luar Negeri
  • Pengabdian Masyarakat
  • Literasi dan bedah buku
  • Penelitian
  • Multimedia
  • Ketakmiran

Ekstrakurikuler:

  • Tapak Suci
  • Pramuka

Kurikulum

Kurikulum Nasional dan Kurikulum Ciri Khas pesantren.

Kitab yang diajarkan:

Tafsir, Khudz Aqidatak, Kitabut Tauhid, Bulughul Maram, Minhajul Muslim, al wajiz, Umdatul Ahkam, Ushul Fiqh, Ta’limul Muta’allim, Adab-Adab Islam, Durusul Lughoh, Nahwul Al Wadlih, Jurumiyah, Alfiyah ibnu Malik, al Mabadi’ al Awwaliyah, Matan Baiquniyah, Siroh Nabawiyyah.

Yang wajib dihafal SMP-SMA:

  • 30 Juz Al Qur’an (KelasTahfidh)
  • 500 hadits (SMP)-420 Hadits (SMA)
  • Khudz Aqidatak
  • 500 Asma’
  • 500 Af’al
  • 40 kaidah Fiqih (Khusus SMA)

Yang wajib dihafal Santri Kelas Kader Ulama’

  • Al Qur’an minimal 15 juz
  • 42 Hadits (Kitab Umdatul Ahkam)
  • Matan Ushul Tsalatsah (Tauhid)
  • Matan Baiquniyah (Ulumul Hadits)
  • Al Mabadi’ al Awwaliyah (Kaidah Fiqih)
  • Matan Jurumiyah (Nahwu)
  • Matan Alfiyah Ibnu Malik (Nahwu)
  • 1000 Asma’
  • 1000 Af’al

Persyaratan:

  • Membayar biaya formulir pendaftaran Rp. 350.000,-
  • Melengkapi dan menyerahkan formulir pendaftaran.
  • Membayar DP Infaq Gedung Rp 5.000.000

Informasi dan Pendaftaran:

Pondok Pesantren Islamic center eLKISI
Jl.Mojosari-Trawas Km-8, Kemuning, Mojorejo, Kec. Pungging, Mojokerto, Jawa Timur.
www.elkisi.com
WA : 081218768485, 085719067132 Tolong disebarkan, barangkali ada yang membutuhkan, Jazakumullah khayran

Kantor Pelayanan Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI

0
Kantor Pelayanan Ponpes elkisi mojokerto

Kantor Pelayanan (Lantai 2)
Komplek Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI
Jl. Raya Mojosari Trawas Km 8 Dusun Kemuning Desa Mojorejo
Kec. Pungging Kab. Mojokerto Jawa Timur Kode Pos 61384
Telp. (+62 321) 6850002
email : elkisi@gmail.com
facebook : https://www.facebook.com/PonpesModerneLKISI
instagram : instagram.com/ponpes.elkisi


Buka Setiap Hari
Mulai Pukul 08.00 s.d 20.00 WIB

Penerimaan Santri Baru Jenjang SMP dan SMA Tahun Pelajaran 2020-2021

0
Pembelajaran outdoor santri ponpes elkisi mojokerto

Penerimaan Pendaftaran Santri Baru Jenjang SMP dan SMA

Tahun Pelajaran 2020-2021

Alhamdulillah, Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto Tahun Akademik 2020/2021 kembali membuka kesempatan bagi putra putri bapak/ibu untuk bergabung menjadi Santri di Kampus Peradaban Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto.

Berikut profil lulusan santri regular:

SMP, in syaa Allah:

  • Beraqidah salimah
  • Mempunyai adab yang baik
  • Hafal 500 hadits Temati
  • Hafal (plus) 2 Juz al Qur’an
  • Mempunyai karya tulis (Buku)
  • Mandiri

SMA, in syaa Allah:

  • Beraqidah salimah
  • Mempunyai adab yang baik
  • Hafal 420 hadits (kitab Umdatul Ahkam)
  • Siap menjadi Imam dan Khotib
  • Berpeluang kuliah di Timur Tengah
  • Menguasai Multimedia
  • Mempunyai karya Buku
  • Memiliki jiwa kepemimpinan
  • Mandiri

Program Unggulan:

  • Tahfidh al Qur’an (khusus)
  • Tahfidh Hadits
  • Penguatan Adab
  • Wajib Tahajjud
  • Kelas Kader Ulama (SMA)
  • Praktek Dakwah Ramadhan (PDR) Dalam dan Luar Negeri
  • Pengabdian Masyarakat
  • Literasi dan bedah buku
  • Penelitian
  • Multimedia
  • Ketakmiran

Ekstrakurikuler:

  • Tapak Suci
  • Pramuka

Kurikulum

Kurikulum Nasional dan Kurikulum Ciri Khas pesantren.

Kitab yang diajarkan:

Tafsir, Khudz Aqidatak, Kitabut Tauhid, Bulughul Maram, Minhajul Muslim, al wajiz, Umdatul Ahkam, Ushul Fiqh, Ta’limul Muta’allim, Adab-Adab Islam, Durusul Lughoh, Nahwul Al Wadlih, Jurumiyah, Alfiyah ibnu Malik, al Mabadi’ al Awwaliyah, Matan Baiquniyah, Siroh Nabawiyyah.

Yang wajib dihafal SMP-SMA:

  • 30 Juz Al Qur’an (KelasTahfidh)
  • 500 hadits (SMP)-420 Hadits (SMA)
  • Khudz Aqidatak
  • 500 Asma’
  • 500 Af’al
  • 40 kaidah Fiqih (Khusus SMA)

Yang wajib dihafal Santri Kelas Kader Ulama’

  • Al Qur’an minimal 15 juz
  • 42 Hadits (Kitab Umdatul Ahkam)
  • Matan Ushul Tsalatsah (Tauhid)
  • Matan Baiquniyah (Ulumul Hadits)
  • Al Mabadi’ al Awwaliyah (Kaidah Fiqih)
  • Matan Jurumiyah (Nahwu)
  • Matan Alfiyah Ibnu Malik (Nahwu)
  • 1000 Asma’
  • 1000 Af’al

Pendaftaran:

Gelombang 1                     : 21 Juli 2019 s.d 26 Januari 2020
Tes dan Pengumuman   : 26 Januari 2020

Gelombang 2                     : 27 Januari 2020 s.d 26 April 2020
Tes dan Pengumuman   : 26 April 2020

Persyaratan:

  • Membayar biaya formulir pendaftaran Rp. 350.000,-
  • Melengkapi dan menyerahkan formulir pendaftaran.

Informasi dan Pendaftaran:

Pondok Pesantren Islamic center eLKISI
Jl.Mojosari-Trawas Km-8, Kemuning, Mojorejo, Kec. Pungging, Mojokerto, Jawa Timur.
www.elkisi.com
WA : 081218768485, 085719067132

Tolong disebarkan, barangkali ada yang membutuhkan, Jazakumullah khayran.

Kampus Peradaban (Pusat) Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI

0
Gedung pelayanan ponpes adab elkisi mojokerto

Kampus Peradaban (Pusat) Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI
SMP eLKISI, SMA eLKISI, eLKISI Institute (S1)
Jl. Raya Mojosari Trawas Km 8 Dusun Kemuning Desa Mojorejo
Kec. Pungging Kab. Mojokerto Jawa Timur Kode Pos 61384
Telp. (+62 321) 6850002 ; elkisi@gmail.com

KB-TK LQC (Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI)
Jl. Raya Mojosari Trawas Km 8 Dusun Mojodadi RT 07 RW 03 Desa Purworejo
Kec. Pungging Kab. Mojokerto Jawa Timur Kode Pos 61384
Telp. (+62 321) 6850002 ; +62 81230088746

SD Alam Islami eLKISI (Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI)
Jl. Raya Mojosari Trawas Km 8 Dusun Mojodadi RT 11 RW 03 Desa Purworejo
Kec. Pungging Kab. Mojokerto Jawa Timur Kode Pos 61384
Telp. (+62 321) 6850002 ; +62 8563136106

Santri SMA eLKISI Raih Juara I Olimpiade Matematika dan Sains

0
Santri SMA eLKISI Juara Olimpiade Matematika dan Sains

Alhamdulillah, Santri Kelas XI SMA eLKISI Ma’had Elkisi Mojokerto Niswah Qonita & Mirna Dwi Rahmawati berhasil Meraih Juara I Olimpiade Matematika dan Sains tingkat SMA dalam ajang eLKISI Awards #2019 setelah mengalahkan 2 pasangan finalis lainnya dari MAIT Darul Fikri Sidoarjo dan SMAN 1 Puri Mojokerto yang mendapat Juara 2 dan 3.

Dengan prestasi yang diraih ini, semoga Niswah dan Mirna menjadi ahlul hadits yang mahir matematika dan sains. Karena Islam juga berbicara tentang sains.

Kenclengan Surga Dari Sisa Belanja

0
Kenclengan Surga dari Sisa Belanja Baitul Maal eLKISI

KENCLENGAN SURGA
“Dari Sisa Belanja”

Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: _Jangan sesekali meremehkan kebaikan sekecil apapun. (HR. Muslim)

Menyisihkan sisa uang belanja atau jajan biarpun Rp 1000 atau bahkan 500 setiap hari untuk dimasukkan ke “KENCLENGAN SURGA” tentunya sangat bermanfaat buat masa depan kita di akhirat. Karena setiap orang berada dalam lindungan sedekahnya. Maka istiqomahlah bersedekah.

Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Masing-masing orang berada dalam naungan sedekahnya (HR. Ibnu Hibban dan Hakim)

Baitul Maal eLKISI menfasilitasi Bapak/Ibu/Saudara semua yang ingin bersedekah dan wakaf untuk pesantren, masjid dan kemashlahatan ummat dengan menyisikan sisa belanja harian untuk dimasukkan ke kencelengan, dan kami ambil pada setiap bulannya, in syaa Allah.

Monggo, yang berminat bisa menghubungi Kantor layanan Baitul Maal eLKISI. Atau nomor kontak 081218768485 (in syaa Allah siap melayani jemput wakaf & sedekah)

Alamat:
Jl. Mojosari Trawas km8, Kemuning, Mojorejo, Pungging Mojokerto Kode Pos 61384

Tugas Kita, Sebelum Anak Mumayyiz

0

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim (Pakar Parenting Nasional)

Apa pentingnya masa mumayyiz? Ia sangat menentukan arah perkembangan anak-anak kita saat memasuki ‘aqil baligh, apa mereka akan menjadi pemuda yang memiliki arah hidup nan jelas dan kokoh serta berkomitmen terhadapnya, ataukah menjadi remaja yang mudah terombang-ambing sehingga banyak menyita waktu, tenaga, pikiran dan perhatian orangtua disebabkan kerentanannya terhadap masalah.

Begitu ‘aqil baligh, anak seharusnya menjadi seorang fatan (فَتًۭى), yakni remaja atau pemuda dengan arah hidup yang jelas, berani bersikap, tidak ragu menyuarakan kebenaran serta mempunyai pendirian yang kokoh. Ia memiliki komitmen yang kuat, tak takut menunjukkan sikapnya meskipun tak ada yang berpihak kepada apa yang diyakininya. Fatan merupakan bagian dari masa pemuda (الشباب), masa dimana puncak kemampuan, kecakapan, semangat, keberanian dan ketangguhan berkumpul pada diri seseorang. Ini merupakan sebaik-baik masa sehingga mereka tampil sebagai sosok asyudda (أَشُدَّ) dimana berbagai kebaikan berada pada puncaknya. Tetapi jika mereka tidak kita siapkan dengan baik, masa masa-masa ini justru menjadi cabang kegilaan ketika tindakan ngawur, melanggar hukum, akhlak yang rusak dan berbagai hal menyimpang lainnya justru tampil menonjol dalam diri mereka.

Mahlab bin Abi-Shafrah berkata:

الشَّبَابُ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُوْنِ

“Remaja (masa muda) kadang menjadi cabang dari kegilaan.”

Ibrahim ‘alaihissalaam merupakan sebaik-baik contoh seorang fatan (remaja utama). Allah Ta’ala berfirman, “قَالُوا۟ سَمِعْنَا فَتًۭى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبْرَٰهِيمُ. Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiya, 21: 60).

Fatan (فَتًۭى) juga memiliki kandungan makna mudah menerima kebenaran, cenderung kepada apa yang benar. Ini dekat sekali dengan fatwa. Mudah menerima kebenaran berarti anak memiliki kesiapan untuk menyambutnya. Bukan mudah ikut-ikutan dimana anak mudah terpengaruh oleh kebaikan maupun keburukan.

Lalu apa yang perlu kita lakukan agar masa muda anak-anak kita tidak menjadi masa penuh gejolak, terombang-ambing, berontak, lari dari orangtua dan hal-hal buruk yang semisal itu? Menyiapkannya agar mereka memiliki arah yang jelas, komitmen yang kuat serta identitas diri yang matang. Kapan kita melakukannya? Yang paling penting adalah masa-masa sebelum mumayyiz untuk mempersiapkan mereka agar benar-benar memiliki tamyiz yang kuat dan baik tepat pada waktunya. Agama kita, Islam, menuntut kita agar anak-anak mencapai tamyiz (selambatnya) di usia 7 tahun. Di usia inilah kita mulai dapat memerintahkan anak mengerjakan shalat.

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَلاَةِ إذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ وَ إذا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah anakmu shalat apabila mereka telah berumur tujuh tahun. Dan jika mereka telah berusia sepuluh tahun, pukullah mereka (jika tidak shalat).” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ad-Darimi, dll).

Apa konsekuensi perintah ini? Pertama, menyiapkan anak agar sebelum usia 7 tahun telah memiliki kecintaan terhadap apa yang akan diperintahkan, yakni shalat. Cinta itu berbeda dengan kebiasaan. Anak yang terbiasa melakukan setiap hari boleh jadi tidak mencintai sama sekali. Kedua, perintah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam kepada kita adalah perintah untuk memerintah. Ini menunjukkan bahwa pada kalimat perintah ada kebaikan. Karena itu kita perlu mengilmui. Ketiga, menyiapkan anak agar memiliki bekal yang cukup sehingga ketika usia 10 tahun tidak mengerjakan shalat, anak memang telah dapat dikenai hukuman. Apa yang menyebabkan seseorang dapat dikenai hukuman? Apabila ia telah memiliki ilmu yang terkait dengannya.

Secara ringkas, berikut ini yang perlu kita lakukan pada anak-anak sebelum mereka mumayyiz. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menolong kita.

Menanamkan Kecintaan terhadap Kebaikan

Apakah cinta itu? Bertemunya tiga hal, yakni meyakini sebagai kebaikan, kemauan yang kuat terhadapnya serta komitmen yang besar. Meyakini sebagai kebaikan akan melahirkan kebanggaan terhadapnya, bukan membanggakan diri sendiri, sehingga orang bersemangat terhadapnya, baik membicarakan maupun melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
Inilah yang perlu kita tanamkan pada anak-anak sebelum mumayyiz. Kita tanamkan cinta pada diri mereka terhadap kebaikan, khususnya berkait dengan ibadah. Kita kobarkan cinta mereka dengan membangun keyakinan bahwa syariat ini sempurna dan pasti baik. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamuLlah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Berbahagialah yang dapat memperoleh petunjuk dari keduanya.

Satu hal yang perlu kita ingat, keyakinan sangat berbeda dengan pengetahuan dan pemahaman, sebagaimana cinta tidak sama dengan terbiasa. Bahkan terbiasa melakukan tidak serta merta membentuk kebiasaan (habit). Betapa banyak anak-anak yang telah terbiasa melakukan praktek ibadah, bahkan sebelum waktunya. Tetapi ketika telah tiba masanya untuk bersemangat, gairah mengerjakannya seolah padam.

Apa yang menumbuhkan kecintaan? Bercermin pada riwayat shahih yang sampai kepada kita, di antara jalan untuk menumbuhkan kecintaan kepada ibadah itu ialah, memberi pengalaman berharga dan mengesankan pada diri anak-anak. Tengoklah, betapa senangnya cucu Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa salam menaiki leher kakeknya tatkala sedang shalat; betapa Umamah binti Zainab digendong oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sembari tetap melaksanakan shalat. Dan dua kisah ini hanyalah sekedar contoh di antara berbagai contoh lainnya.

Sebagian orang tergesa-gesa sehingga menyuruh anak shalat sebelum usia tujuh tahun. Bahkan ada yang melampaui batas, yakni mewajibkan anak shalat Dhuha yang bagi orang dewasa saja sunnah. Alasannya? Menumbuhkan kebiasaan. Padahal kebiasaan tanpa kecintaan akan kering dan mudah pudar.

Tak jarang, orangtua maupun pendidik memaksa anak mengerjakan shalat, termasuk shalat sunnah, sebelum mumayyiz. Padahal pemaksaan itu, baik secara halus maupun kasar, justru dapat menimbulkan karahah (kebencian) yang bentuk ringannya adalah malas, enggan.

Menumbuhkan Tamyiz

Apakah yang dimaksud dengan tamyiz? Banyak penjelasan, tetapi pada pokoknya adalah kemampuan membedakan, dalam hal ini membedakan benar dan salah serta baik dan buruk dengan akalnya. Mampu membedakan sangat berbeda dengan mengetahui perbedaan. Mampu membedakan menunjukkan adanya pengerahan kemampuan berpikir untuk menentukan nilai atau kedudukan sesuatu.

Apa yang kita perlukan untuk berpikir? Sekurang-kurangnya ada dua hal, yakni menggunakan pengetahuan yang telah ada pada dirinya untuk menilai sesuatu serta mendayagunakan akal untuk menemukan prinsip-prinsip.

Rumit? Sebagaimana pengetahuan, kemampuan berpikir juga bertingkat-tingkat. Kemampuan tamyiz seseorang juga demikian. Tetapi jika tidak kita persiapkan maka anak tidak akan memilikinya, kecuali sangat terbatas, meskipun usia sudah 10 tahun dan bahkan lebih. Maka ada orang yang usianya sudah dewasa, tetapi ia termasuk ghair mumayyiz (orang yang tidak memiliki tamyiz).

Jadi, apa yang perlu kita berikan kepada anak? Pertama, keyakinan berlandaskan ilmu tentang kebenaran dan kebaikan. Kedua, kemauan kepada agama, kebaikan dan ilmu. Ketiga, merangsang kemampuan anak untuk berpikir sehingga mampu membedakan benar dan salah serta baik dan buruk dengan akalnya. Ini secara bertahap kita arahkan untuk mulai belajar menilai mana yang penting dan mana yang tidak penting.

Satu hal lagi, disebut tamyiz apabila ia mengenal (‘arafah) kebenaran dan kebaikan. Kata ‘arafah menunjukkan bahwa unsurnya bukan hanya mengetahui, melainkan ada idrak (kesadaran yang menggerakkan kemauan) terhadapnya.

Nah. Inilah yang sangat penting. Inilah tugas kita, para orangtua maupun guru TK untuk menyiapkannya.

Visi dan Misi

0
pembelajaran di luar kelas santri ponpes elkisi

VISI
———————————————————————————————–
“Mewujudkan pesantren modern yang bermanhaj Al Qur’an dan As Sunnah, serta berbasis edukasi dan sosial keummatan”

MISI
———————————————————————————————–
“Menyiapkan kader yang beraqidah salimah, berakhlaqul karimah dan bermanfaat bagi ummat serta berdaya saing global”

MOTTO
———————————————————————————————–
“Pesantren berbasis edukasi dan sosial keummatan”

SLOGAN
———————————————————————————————–
“Pesantrennya santri beradab, penghafal Al Qur’an dan Al Hadits”

Hijrah, Tak Mudah tapi Berlimpah Hikmah

0

Oleh Syamsul Arif,
Pendidik di Ponpes eLKISI Mojokerto

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al-Baqarah [2]: 216).

Tergugah Khutbah  
Islam agama yang sempurna. Semua aspek di kehidupan manusia sudah diatur lengkap. Misal, ada perintah shalat, puasa, zakat, infaq, dan lain-lain. Juga, ada larangan –antara lain- mencuri, berzina, dan memakan harta riba. 

Dalam Islam, riba sangat terlarang. Untuk itu, kita harus menjauhi dan bahkan meninggalkannya. Di titik ini, insya-Allah saya punya pengalaman yang semoga bermanfaat jika kita baca bersama. Bahwa, dulu saya memutuskan untuk hijrah –meninggalkan- dari keterkaitan diri dengan riba. Hijrah menuju kehidupan yang –insya-Allah- diridhai-Nya.

Alkisah, sejak 1996 saya menjadi karyawan sebuah Bank yang cukup terkemuka, di Surabaya. Si suatu Jum’at, sekitar November 2006, saya ada pertemuan dengan nasabah di salah satu hotel di Surabaya. Saat shalat Jum’at, saya berjamaah di masjid hotel tersebut. Sementara, yang menjadi khotib kala itu adalah Ustadz Suherman Rosyidi, dosen FEB Unair Departemen Ekonomi Syari’ah.

Dalam khutbahnya, beliau menerangkan tentang haramnya riba. Termasuk gaji yang diperoleh dari bekerja di bank konvensional adalah riba. Pelaku riba yang ikut menanggung dosa adalah pemberi riba, pemakan riba, pencatat riba, dan saksi riba. 

Merinding saya saat mendengar khutbah tersebut. Apa riba? Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Sementara, secara istilah, riba adalah penetapan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan prosentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam.

Dalam hati, saya lalu bertanya-tanya: Apakah selama ini saya menghidupi diri dan keluarga dengan harta riba? Maka, pantaskah saya mengharap surga-Nya kelak?

Sebelum meninggalkan tempat shalat Jum’at, saya memberanikan diri bertemu dengan Ustadz Suherman sekaligus meminta saran, apa yang harus saya lakukan. Dengan tersenyum beliau menjawab, “Anda harus berhijrah, dengan segala macam konsekuensinya. Tapi yakinlah, siapa yang lurus di Jalan Allah, pasti Dia akan menunjukkan jalan keluar yang terbaik”.

Setelah itu, hampir satu tahun saya mengalami beban yang cukup berat, bahkan bisa dikatakan stress. Saat itu, ada dua pilihan sulit yaitu meninggalkan pekerjaan yang tergolong riba tetapi belum ada pekerjaan yang baru, atau tetap bertahan namun beresiko dosa. Akibatnya, empat kali dalam setahun saya harus opname di Rumah Sakit. Penyakitnya sama, yaitu infeksi lambung. Dokter mengatakan, saya stress. Obatnya, harus menghindari penyebab stress tersebut. 

Singkat cerita, di awal tahun 2008 saya memutuskan untuk mundur dari pekerjaan di Bank. Selanjutnya saya berwirausaha, beternak itik. Awalnya hasil yang diperoleh cukup memuaskan, tidak kalah dengan saat saya masih berstatus sebagai karyawan Bank. 

Hidup memang tak selalu bisa kita duga arahnya. Allah memberi ujian kepada saya. Di daerah tempat saya beternak terkena banjir dan angin kencang. Hal itu, merobohkan pohon dan menimpa kandang itik saya. Saya rugi puluhan juta rupiah. Semua saya kembalikan kepada Allah, dengan bersabar.

Mencoba untuk tidak berputus-asa, dengan dibantu istri, kemudian saya membuka usaha toko dan bimbingan belajar di rumah. Di samping itu, saya juga mengajar Al-Qur’an, juga di rumah. Dengan usaha itu, cukuplah rezeki saya. Lebih dari itu, usaha saya makin berkembang.

Pada 2011, saya harus mencarikan lembaga pendidikan lanjutan untuk putri pertama yang baru lulus Sekolah Dasar. Beberapa pesantren sudah kami tiliki, namun tidak ada satupun yang dipilih oleh putri saya. 

Sampai suatu ketika, saya mendapatkan brosur sebuah lembaga yang masih sangat baru, Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI, tak jauh dari Trawas Mojokerto. Sayapun lalu mengajak putri saya untuk mengunjungi Pesantren tersebut. Dari jalan raya, sepanjang sekitar 1 Km untuk sampai di lokasi, harus melewati jalan makadam. 

Meski tergolong baru, Pondok inilah yang dipilih putri saya dengan alasan tempatnya nyaman untuk belajar. Alhasil, putri saya menjadi angkatan pertama santri yang mondok di situ. Saya –yang tinggal di Sidoarjo- lalu rutin, satu atau dua pekan sekali, mengunjungi putri saya.

Sering datang ke pondok, berbuah hikmah yaitu saya semakin akrab dengan para ustadz di sana. Saya lalu mendapatkan tawaran untuk mengajar di Pondok, setelah mereka tahu kalau saya juga mengajar walaupun tidak di sekolah formal. 

Mulailah saya mengajar. Saat itu jumlah santrinya masih sedikit, sehingga saya hanya mengajar dua kali dalam sepekan. Pagi berangkat ke Pondok dan sore hari kembali ke rumah dengan jarak sekitar 35 Km. 

Di pertengahan 2014, saya lalu mendapatkan amanah menjadi Kepala SMA yang baru saja didirikan di Pondok tersebut. Tugas dan amanah baru inilah yang kemudian membuat saya mengambil keputusan untuk tinggal di Pondok, bersama keluarga.

Bersyukur, saya bisa berkumpul di lingkungan pesantren, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hidup di Pondok, banyak amaliyah yang relatif mudah untuk dikerjakan secara istiqomah, antara lain: Shalat fardlu selalu tepat waktu dan berjamaah, murojaah Al-Qur’an, menimba ilmu, serta tahajjud. 

Dulu, saat di Bank, pagi-pagi sudah berangkat kerja dan pulang sudah larut malam. Sekarang, telah berubah. Begitu indah skenario Allah bagi hamba yang mau menempuh syariat-Nya. Tapi, proses dari “dulu” menjadi “sekarang”, memang tidak mudah. Proses meninggalkan kehidupan yang bisa dikatakan sudah berada pada “zona nyaman” menuju ke “zona qanaah”, penuh ujian. 

Terbaik, Terbaik!
Sungguh, melakukan hijrah dari sesuatu yang dilarang oleh Allah menuju perbuatan yang diridhai-Nya, sering tidak berjalan dengan mulus. Dalam menempuhnya, akan banyak ujian yang harus kita hadapi. Tapi yakinlah, dengan sabar dan tawakkal, Allah pasti akan menunjukkan jalan terbaik untuk kita. Maka, jangan ragu-ragu untuk berhijrah, sebab di sana banyak hikmah