Pendidikan karakter islami pada buah hati memerlukan keteladanan nyata serta pembiasaan positif yang berkesinambungan sejak masa kanak-kanak. Masjid merupakan episentrum pembinaan ruhiyah dan peradaban umat yang semestinya menjadi tempat paling dirindukan oleh anak-anak muslim. Orang tua mengemban amanah besar untuk mengalirkan kehangatan serta keterikatan emosional antara anak dengan rumah ibadah Allah Ta’ala.
Langkah Tepat Memupuk Rasa Cinta Masjid pada Anak
Menumbuhkan ketertarikan anak terhadap masjid wajib diawali dengan menghadirkan atmosfer ibadah yang menyenangkan, bersahabat, dan menentramkan jiwa mereka. Mengajak mereka menghadiri shalat berjamaah secara bertahap, mengenalkan adab bermajelis dengan penuh kelembutan, serta memberikan apresiasi tulus seusai beribadah akan membangun ikatan batin yang sangat kokoh. Lingkungan keluarga yang senantiasa mengutamakan panggilan adzan menjadi teladan utama yang merasuk ke dalam relung qalbu seorang anak. Kebiasaan mulia ini menanamkan kesadaran bahwa masjid adalah rumah kedua tempat mereka bersimpuh dengan damai.
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
Artinya: “…dan seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, serta seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabbnya.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031).
Keterpautan hati dengan masjid yang dibangun sejak masa kecil akan menjadi perisai kokoh bagi generasi muda saat menghadapi gelombang fitnah pergaulan dan degradasi moral di era modern.
Keteladanan Rasulullah Menyambut Anak di Tempat Shalat
Rasulullah ﷺ senantiasa memperlakukan anak-anak dengan limpahan kasih sayang, kelembutan tutur kata, dan kelapangan dada saat mereka hadir meramaikan masjid. Ketika cucu beliau menaiki punggung mulianya saat sedang bersujud dalam shalat, Baginda Nabi tidak memarahi ataupun menyingkirkannya dengan kasar, melainkan dengan sabar memperpanjang durasi sujud hingga sang cucu merasa puas dan turun dengan sendirinya. Sikap bijak penuh rahmah ini merupakan teladan fundamental bagi para pengurus takmir masjid dan seluruh jamaah dewasa agar tidak bersikap kaku, membentak, atau menjauhkan anak-anak dari shaf ibadah:
إِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ
Artinya: “Sesungguhnya cucuku ini menunggangiku (ketika sujud), maka aku tidak ingin terburu-buru menyelesaikannya sampai ia menuntaskan hajatnya.” (HR. An-Nasa’i no. 1141, shahih).
Membangun lingkungan masjid yang ramah anak merupakan ikhtiar peradaban yang sangat bernilai tinggi bagi keberlangsungan keimanan generasi mendatang. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik dan keberkahan atas upaya kita mendidik putra-putri menjadi generasi pecinta masjid yang berakhlaq mulia.
Kanal Informasi & Media Sosial Resmi Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto:
- YouTube: eLKISITV
- TikTok: ponpes eLKISI Mojokerto
- Facebook: ponpes.elkisi
- Instagram: @ponpes.elkisi
- Website Resmi: elkisi.com
(za/red)
















