Ilmu syar’i merupakan anugerah dan cahaya Ilahi yang begitu suci. Cahaya tersebut tidak akan bersemayam pada hati yang kotor atau jiwa yang kehilangan penghormatan terhadap adab menuntut ilmu.
Kecerdasan intelektual tanpa diimbangi ketulusan akhlaq justru berisiko menjerumuskan pemiliknya ke jurang kesombongan. Oleh sebab itu, para ulama salaf senantiasa mendahulukan adab sebelum menyelami lautan ilmu.
Urgensi Adab Menuntut Ilmu Menurut Imam Az-Zarnuji
Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji dalam kitab monumentalnya Ta’limul Muta’allim Thariqat Ta’allum merumuskan kaidah emas tentang syarat keberhasilan para penuntut ilmu:
مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ إِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ إِلَّا بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ
Artinya: “Tidaklah seseorang mencapai kesuksesan ilmu melainkan dengan adab penghormatan, dan tidaklah seseorang jatuh terpuruk melainkan karena meninggalkan penghormatan.” (Kitab Ta’limul Muta’allim)
Penghormatan yang dimaksud mencakup ketakziman seorang santri kepada guru, pemuliaan terhadap kitab, serta ketertiban adab di majelis taklim sebagai bentuk syukur atas anugerah hidayah ilmu.
Wasiat Ulama Salaf Mendahulukan Adab Sebelum Ilmu
Urgensi menata adab tercermin kuat dalam wasiat emas Imam Malik bin Anas rahimahullah kepada muridnya, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i muda:
تَعَلَّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ العِلْمَ
Artinya: “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” (Siyar A’lam An-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi)
Menuntut ilmu pada hakikatnya adalah proses penyucian jiwa (tazkiyatun nufus) dari riya, ujub, dan cinta ketenaran. Memuliakan adab menuntut ilmu menjamin keberkahan ilmu yang dipelajari, sehingga bermanfaat bagi kemaslahatan umat dan agama hingga akhir hayat.
(za/red)
















