Bahaya Ghibah di Era Digital dan Urgensi Menjaga Lisan

Bahaya Ghibah di Era Digital dan Urgensi Menjaga Lisan - Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto

Kemajuan teknologi informasi memudahkan setiap orang mengekspresikan opini secara terbuka di jagat maya setiap waktu. Namun, kemudahan berinteraksi di media sosial sering kali menjebak jemari ke dalam bahaya ghibah di era digital yang mengikis pahala amal saleh. Setiap muslim dituntut senantiasa mengawasi ucapannya agar tidak terjerumus ke dalam kebinasaan moral yang nyata.

Memahami Bahaya Ghibah di Era Digital Berdasarkan Al-Qur’an

Membicarakan keburukan orang lain tanpa hak merupakan kezaliman besar yang diancam dengan azab amat pedih. Ruang percakapan digital dan kolom komentar kini kerap menjadi arena penyebaran prasangka buruk serta pembongkaran aib sesama muslim. Al-Qur’an memberikan peringatan keras bahwa menggunjing sesama manusia diibaratkan memakan daging bangkai saudaranya sendiri yang menjijikkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dengan tegas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Batasan Ghibah Menurut Tuntunan Hadits Rasulullah SAW

Banyak warganet berdalih bahwa unggahan kritik mereka semata-mata menyampaikan kenyataan yang benar terjadi. Pemahaman keliru ini diluruskan secara tegas oleh Rasulullah SAW ketika para sahabat menanyakan hakikat membicarakan orang lain. Beliau menegaskan bahwa menyebutkan aib saudara seiman tanpa kemaslahatan syar’i tetaplah terhitung perbuatan ghibah yang diharamkan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam hadits shahih:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Terjemahan: “Tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: Engkau membicarakan saudaramu mengenai apa yang tidak disukainya. Ditanyakan: Bagaimana jika apa yang aku katakan memang ada padanya? Beliau bersabda: Jika memang ada padanya apa yang engkau katakan, maka engkau telah mengghibahnya, dan jika tidak ada padanya maka engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Menjaga etika bermedia sosial dan menahan jari dari menyebarkan keburukan orang lain adalah cerminan kematangan akhlak seorang mukmin sejati. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing lisan dan tulisan kita agar selalu mendatangkan kebaikan bagi umat.

Kanal Informasi & Media Sosial Resmi Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto:

(za/red)

Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI

Pesantren Berbasis Edukasi dan Sosial Keummatan

BERITA TERBARU

Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI

eLKISI IT Team © Copyright  2024. All Rights Reserved