Hikmah Peristiwa Hijrah Nabi bagi Persatuan Umat Islam

Perjalanan panjang dakwah Islam mencapai titik balik paling bersejarah ketika rombongan kaum beriman beranjak meninggalkan kota Makkah menuju Madinah. Momentum penuh pengorbanan ini bukan sekadar perpindahan fisik tempat tinggal, melainkan strategi besar membangun peradaban masyarakat yang berkeadilan. Keikhlasan para sahabat melepaskan harta benda dan tanah kelahiran menjadi bukti nyata kekuatan akidah yang menghujam kuat di dalam dada.

Makna Pengorbanan dalam Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad

Kaum Muhajirin meninggalkan segala kemewahan dan kenikmatan hidup di Makkah semata-mata demi mempertahankan aqidah tauhid serta mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Di sisi lain, kaum Anshar menyambut kedatangan saudara-saudara seiman mereka dengan ketulusan yang tiada tandingannya sepanjang sejarah peradaban manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan keluhuran akhlak kaum Anshar yang rela mendahulukan kebutuhan saudaranya di dalam Al-Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 9:

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَـٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةًۭ مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۭ

Artinya: ‘Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.’ (QS. Al-Hasyr: 9).

Penyatuan dua kelompok masyarakat yang berbeda latar belakang ini melahirkan persaudaraan iman yang sangat kokoh melampaui sekat kesukuan.

Meluruskan Niat Ikhlas Sebagai Inti Pokok Setiap Hijrah

Momentum besar perpindahan ke Madinah ini juga menjadi dasar penetapan kaidah fundamental tentang pentingnya keikhlasan niat dalam seluruh ibadah. Setiap amal perbuatan tidak akan bernilai di sisi Allah jika terselubung oleh ambisi materi atau kepentingan hawa nafsu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan kaidah agung tersebut dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari nomor 1 dan Imam Muslim nomor 1907:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: ‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju.’ (HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Pesan tersebut mengajarkan bahwa perubahan lahiriah harus selalu diiringi pembaharuan batin agar menghasilkan kebaikan hakiki bagi kehidupan umat manusia.

Semangat hijrah senantiasa relevan menjadi inspirasi umat Islam untuk terus berpindah dari kemalasan menuju produktivitas ketaatan yang diridhai Allah.

(za/red)

Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI

Pesantren Berbasis Edukasi dan Sosial Keummatan

BERITA TERBARU

Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI

eLKISI IT Team © Copyright  2024. All Rights Reserved