Tauhid merupakan intisari ajaran Islam sekaligus fondasi paling mendasar bagi seluruh amal kebajikan. Tanpa kemurnian akidah, seluruh bangunan amal ibadah yang ditegakkan seorang hamba berisiko runtuh tanpa nilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penyimpangan akidah sering kali bermula dari kelalaian menjaga kemurnian niat dan pemahaman terhadap hakikat peribadatan. Oleh sebab itu, memurnikan tauhid adalah kewajiban abadi yang menuntut pembelajaran dan pembuktian nyata dalam keseharian.
Urgensi Memurnikan Tauhid dalam Risalah Para Rasul
Sejarah pengutusan para nabi dan rasul menegaskan bahwa seruan mengesakan Allah selalu menjadi misi utama peradaban. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’.” (QS. An-Nahl: 36)
Ayat ini menegaskan dua rukun utama kalimat tauhid: an-nafy (menafikan segala bentuk sesembahan palsu) dan al-itsbat (menetapkan peribadatan mutlak hanya bagi Allah semata). Meninggalkan segala bentuk kesyirikan menjadi syarat mutlak diterimanya penghambaan.
Hakikat Hak Allah atas Setiap Hamba
Keagungan tauhid juga terpancar dalam wasiat kenabian kepada sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Artinya: “Maka sesungguhnya hak Allah atas para hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30)
Hadits shahih ini meletakkan tauhid sebagai hak tertinggi Sang Khaliq yang wajib ditunaikan oleh setiap makhluk. Menjaga kemurnian tauhid bukanlah pekerjaan sesaat, melainkan komitmen istiqamah seumur hidup hingga mengantarkan seorang muslim meraih husnul khatimah.
(za/red)















