Pijakan spiritual seorang mukmin bertumpu pada kemurnian niat dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta serta sesama manusia. Namun, di tengah capaian prestasi dan ibadah, hati kerap terancam oleh bisikan halus berupa penyakit ujub (bangga diri secara berlebihan).
Penyakit batin ini merupakan racun berbahaya yang mampu merusak keikhlasan dan menggugurkan pahala amal kebaikan yang telah diperjuangkan dengan susah payah.
Karakter Tawadhu Para Hamba Pilihan Allah
Al-Qur’an menempatkan kerendahan hati sebagai identitas utama hamba-hamba pilihan Allah Ta’ala (‘Ibadurrahman). Sebagaimana firman-Nya:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Artinya: “Adapun hamba-hamba Rabb Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata menghina), mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)
Sifat tawadhu bukanlah tanda kelemahan, melainkan buah dari kematangan akal dan kesadaran bahwa seluruh kenikmatan, kecerdasan, dan kekayaan murni titipan dari Allah semata.
Kemuliaan Hakiki bagi Hamba yang Tawadhu
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan kemuliaan sejati bagi hamba yang senantiasa menundukkan hatinya:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
Artinya: “Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Meneladani sifat tawadhu menuntut latihan batin yang berkesinambungan melalui muhasabah diri. Menyadari kelemahan diri di hadapan kebesaran Ilahi adalah benteng terkuat dalam merawat keluhuran budi pekerti seorang mukmin sejati.
(za/red)
















