Gempuran teknologi gawai dan layar digital menghadirkan tantangan pengasuhan paling berat bagi orang tua di era modern. Anak-anak yang semula lahir dalam kesucian fitrah kini terpapar arus informasi tanpa batas yang berpotensi merusak kepekaan nurani dan adab luhur. Menerapkan prinsip tarbiyatul aulad berbasis wahyu Ilahi menjadi benteng perlindungan primer agar jiwa sang buah hati senantiasa tumbuh dalam ketauhidan yang kokoh.
Urgensi Tarbiyatul Aulad Menjaga Fitrah di Era Layar Sentuh
Pendidikan anak dalam Islam bermula dari penanaman kesadaran muraqabah, yakni keyakinan bahwa Allah Ta’ala senantiasa mengawasi segala gerak-gerik hamba-Nya. Kebiasaan membiarkan anak terpaku pada konten hiburan tanpa pendampingan intensif berisiko mengikis empati sosial serta melemahkan kecintaan terhadap majelis ilmu. Orang tua berkewajiban membimbing pandangan mata dan pendengaran anak agar gawai digital difungsikan sebagai sarana literasi kebajikan, bukan pintu masuk keburukan moral.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras.” (QS. At-Tahrim: 6).
Pendampingan Dialogis dan Keteladanan Mengikis Ketergantungan
Metode nabawi mendidik anak senantiasa mengedepankan keteladanan nyata serta ruang dialog yang penuh kehangatan kasih sayang. Larangan memegang gawai tidak akan efektif bila ayah dan bunda sendiri masih larut dalam kecanduan layar di hadapan anak. Menghidupkan kembali rutinitas membaca Al-Qur’an bersama, mengisahkan keteladanan para sahabat, dan menyediakan ruang interaksi fisik akan mengalihkan ketertarikan anak secara alamiah dari jerat candu digital.
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (kesucian). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari no. 1385 dan Muslim no. 2658).
Kesungguhan menjaga fitrah buah hati merupakan investasi abadi yang mengalirkan doa kebajikan hingga ke liang lahat. Kiranya Allah Ta’ala mengaruniakan taufik agar kita mampu mengantarkan generasi penerus menjadi permata hati yang menyejukkan pandangan.
Kanal Informasi & Media Sosial Resmi Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto:
- YouTube: eLKISITV
- TikTok: ponpes eLKISI Mojokerto
- Facebook: ponpes.elkisi
- Instagram: @ponpes.elkisi
- Website Resmi: elkisi.com
(za/red)
















