Oleh : Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.I
Pengasuh Ponpes eLKISI Mojokerto
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kemudian, kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari No. 1358, Muslim No. 2658)
Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim memiliki makna mendalam tentang fitrah manusia. Berikut adalah penjelasan para ulama mengenai hadis di atas:
Kata “fitrah” dalam hadis ini memiliki beberapa tafsiran yang dikemukakan oleh para ulama:
a. Imam An-Nawawi
Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa fitrah dalam hadis ini berarti Islam. Artinya, setiap manusia dilahirkan dengan potensi untuk mengenal Allah dan menerima kebenaran Islam, tetapi pengaruh lingkungan, terutama orang tua, dapat mengubah keyakinannya.
b. Ibnu Taimiyyah
Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu’ Al-Fatawa menjelaskan bahwa fitrah adalah kecenderungan alami manusia untuk menerima kebenaran. Manusia pada dasarnya memiliki naluri untuk mengenal dan menyembah Allah, tetapi lingkungan dan pendidikan dapat mempengaruhi keyakinannya.
c. Ibnu Katsir
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hadis ini menunjukkan bahwa semua manusia lahir dalam keadaan suci dan memiliki kecenderungan untuk menerima Islam. Namun, pengaruh keluarga dan masyarakat dapat mengubah keyakinan tersebut.
d. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Ibnu Qayyim dalam Tuhfatul Maudud menjelaskan bahwa fitrah yang dimaksud dalam hadis ini adalah fitrah tauhid. Allah telah menciptakan manusia dengan kecenderungan untuk mengenal-Nya, tetapi pengaruh lingkungan dan budaya bisa membuat seseorang menyimpang dari fitrah aslinya.
e. Al-Qadhi Iyadh
Beliau menafsirkan fitrah sebagai keadaan alami manusia yang suci dan cenderung kepada kebaikan. Namun, faktor eksternal seperti keluarga, budaya, dan lingkungan dapat mempengaruhi seseorang untuk mengikuti agama atau keyakinan tertentu.
Kesimpulan
Hadis di atas menunjukkan bahwa manusia lahir dalam keadaan suci dan memiliki kecenderungan untuk mengenal kebenaran. Namun, faktor pendidikan dan lingkungan sangat berperan dalam membentuk keyakinan seseorang. Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya mendidik anak dengan nilai-nilai tauhid sejak kecil agar tetap berada di atas fitrah yang lurus.
Wallohu a’lam.