Baucau, Timor-Leste – Di tengah kondisi minoritas dan terbatasnya tenaga dai, geliat dakwah Islam di Distrik Baucau masih tumbuh penuh harapan. Laporan terbaru dari mahasantri eLKISI Institute, Royhan Mufid Akbar, yang kini bertugas dalam misi dakwah di Timor-Leste, menggambarkan semangat warga Muslim Baucau dalam menjaga dan mengembangkan ajaran Islam.
Komunitas Kecil, Semangat Besar
Di kota Baucau tercatat sekitar 30 rumah pemeluk Islam, dengan tiap rumah dihuni 1 hingga 3 kepala keluarga. Meski jumlahnya kecil, antusiasme mereka dalam menuntut ilmu agama sangat tinggi. Saat ini juga terdapat 14 muallaf, dan diperkirakan dalam satu hingga dua hari ke depan akan ada lagi penduduk yang siap mengucapkan dua kalimat syahadat.
Di distrik ini berdiri 1 masjid dan 5 mushola yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan pembinaan umat.
Sejarah Panjang Dakwah di Baucau
Menurut para tokoh masyarakat, Islam berkembang di Baucau antara lain karena pengaruh TNI saat Timor Timur masih menjadi bagian dari Indonesia.
- Masjid Al-Amal, pusat dakwah saat ini, dibangun sekitar tahun 1986 berkat keberadaan KODIM dan kantor polisi yang saat itu berdiri di sekitar lokasi masjid.
- Pada tahun 2006–2007, masjid sempat mengalami pembakaran akibat konflik internal, namun bukan konflik antarumat beragama. Kini situasi telah sepenuhnya kondusif.
Beberapa dai Dewan Dakwah yang dahulu dikirim ke Timor Leste bahkan masih sangat muda, berusia 15–16 tahun. Salah satunya adalah Ust. Rois asal Lamongan, Jawa Timur, yang hingga kini tetap bertahan melayani umat di area tersebut.
Minim Dai, Tinggi Harapan
Para pengurus Masjid Al Amal — Ust. Carlos, Ust. Faisal Sholeh, dan Ust. Bahrul — menyampaikan bahwa kebutuhan dai di wilayah Baucau sangat mendesak. Minimnya pembinaan terlihat dari masih rendahnya pemahaman agama. Bahkan, takmir masjid harus mengadakan lomba tingkat SMP–SMA bertema “Tata Cara Shalat yang Benar” karena banyak siswa belum memahami rukun-rukunnya.
Di sebelah masjid juga berdiri sekolah dan panti asuhan, sehingga kebutuhan pembinaan keislaman semakin besar.
Sambutan Hangat untuk eLKISI dan ADI
Kedatangan tim dai dari eLKISI Institute dan mahasiswa STID M. Natsir disambut hangat oleh para pengurus. Mereka berharap adanya kerja sama lanjutan berupa:
- pengiriman kembali dai ke Baucau,
- pengiriman kader muda lokal untuk belajar di eLKISI, ADI NTT, maupun STID M. Natsir.
“Kami ingin ada kader dari sini yang belajar agama secara benar, agar dakwah di Baucau bisa berkembang lebih maju,” ujar Ust. Carlos.
Fokus Penugasan Dai
Dalam instruksi terbaru, tim dai dari Ansar yang terdiri dari mahasantri eLKISI dan mahasiswa STID ditugaskan untuk:
- fokus pembinaan di Masjid Al-Amal,
- mengisi kegiatan di mushola sekitar (berjarak ±1 jam perjalanan),
- serta memberikan edukasi keagamaan di sekolah yang berada dekat masjid.





