Manusia modern sering mengeluhkan kesibukan. Dari pagi hingga malam, waktu habis untuk pekerjaan, keluarga, dan berbagai urusan dunia. Namun di balik itu semua, ada satu pertanyaan iman yang patut kita renungkan bersama: jika Allah dan para malaikat “sibuk”, lalu bagaimana dengan kita?
Allah ‘Azza wajalla berfirman:
كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
“Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (urusan).”
(QS. ar-Raḥmān: 29)
Para ulama menjelaskan, “kesibukan” Allah bukanlah kesibukan fisik, melainkan kesinambungan pengaturan dan pemeliharaan: memberi rezeki, mengampuni dosa, mengangkat derajat, menolong hamba, dan mengatur seluruh alam semesta tanpa jeda. Tidak ada satu detik pun yang luput dari perhatian Allah ‘Azza wajalla.
Sementara itu, para malaikat pun tidak pernah lalai. Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai makhluk yang:
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Mereka tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. at-Taḥrīm: 6)
Bahkan, dalam Al-Qur’an Allah mengabarkan bahwa para malaikat sibuk mendoakan manusia beriman:
“Malaikat-malaikat yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan mereka, beriman kepada-Nya, dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Ghāfir: 7)
Makhluk langit yang mulia itu sibuk mendoakan ampunan dan keselamatan kita, sementara manusia sering kali justru sibuk dalam kelalaian.
Ironisnya, manusia—makhluk yang paling membutuhkan rahmat Allah—sering terjebak pada kesibukan yang menjauhkan dari tujuan penciptaannya. Padahal Allah ‘Azza wajalla menegaskan:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. adz-Dzāriyāt: 56)
Masalah utama kita bukan tidak sibuk, melainkan salah arah kesibukan. Sibuk bekerja hingga melalaikan shalat. Sibuk mencari dunia hingga lupa akhirat. Sibuk berbicara, tetapi jarang berzikir.
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam mengingatkan dalam sebuah hadits:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. al-Bukhari)
Waktu adalah amanah. Setiap detik akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, Islam tidak melarang kesibukan dunia, bahkan mendorong produktivitas. Namun Islam memberi ukuran yang jelas: apakah kesibukan itu mendekatkan kita kepada Allah atau justru melalaikan kita dari-Nya?
Seorang mukmin sejati adalah orang yang mampu menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat. Ia sibuk bekerja, tetapi shalatnya terjaga. Ia aktif bermasyarakat, tetapi lisannya basah dengan zikir. Ia produktif, namun hatinya tetap tunduk kepada Allah.
Maka marilah kita menata ulang kesibukan hidup. Jika Allah ﷻ tak pernah berhenti mencurahkan rahmat-Nya, dan malaikat tak pernah lelah berdoa bagi orang-orang beriman, sungguh terlalu jika kita terus sibuk tanpa arah iman.
Allah sibuk dengan rahmat-Nya. Malaikat sibuk dengan ketaatan.
Lalu, kita sibuk dengan apa?
Fathur Rohman Pengasuh Ponpes eLKISI




