Tadabbur Surah Al-Hasyr Ayat 8–10 (Fondasi Kesalehan Sosial Ramadhan)

Surah Al-Hasyr ayat 8–10 bukan sekadar membahas hukum harta fai’, tetapi merupakan manhaj besar pembentukan masyarakat beriman. Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan lainnya menegaskan bahwa ayat-ayat ini memuat fondasi akhlak sosial Islam: kejujuran iman, pengorbanan, solidaritas, dan penyucian hati.

Ramadhan, sebagai bulan tazkiyah (penyucian jiwa), selaras erat dengan pesan ketiga ayat ini. Ramadhan yang benar bukan hanya meningkatkan ibadah individual, tetapi menghidupkan kepekaan sosial dan ukhuwah yang kokoh.


Ayat 8: Muhajirin – Puasa dan Kejujuran Pengorbanan

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ… أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kaum Muhajirin meninggalkan rumah, keluarga, dan harta semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya, tanpa tujuan duniawi. Mereka mencapai maqām ash-shidq, derajat tertinggi kejujuran iman.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Frasa imanan wa ihtisāban inilah ruh ayat 8: amal yang murni karena Allah, bersih dari pamrih dunia.

Abdullah bin Mas‘ud berkata:

“Iman bukan angan-angan, tetapi apa yang menetap di hati dan dibuktikan oleh amal.”

Pelajaran Ramadhan dari Ayat 8

Puasa melatih kita mencapai kejujuran iman melalui:

  • Pengorbanan hawa nafsu
  • Ketaatan tulus tanpa pengawasan manusia
  • Amal yang tidak mengharap selain ridha Allah

Ramadhan menguji apakah iman kita benar-benar hidup, bukan sekadar klaim lisan.


Ayat 9: Anshar – Ramadhan dan Spirit Itsār

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesempitan.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Al-Qurthubi menyebut ayat ini sebagai pujian tertinggi terhadap akhlak sosial, sebab itsār (mendahulukan orang lain dalam kondisi sama-sama butuh) hanya lahir dari iman yang benar-benar matang.

Rasulullah SAW bersabda:

“Manusia paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia…”
(HR. At-Tabarani)

Kisah Abu Thalhah: Teladan Itsār

Abu Thalhah dan istrinya mematikan lampu agar tamu merasa mereka ikut makan, padahal keduanya menahan lapar demi tamu. Allah mengabadikan amal mereka dalam ayat:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ
“Mereka mengutamakan orang lain…”

Pelajaran Ramadhan dari Ayat 9

Ramadhan adalah madrasah itsār:

  • Memberi takjil saat diri sendiri lapar
  • Mendahulukan fakir miskin dalam sedekah
  • Berbagi meski dalam keterbatasan

Puasa menumbuhkan empati, dan empati melahirkan pengorbanan sosial.


Ayat 10: Penyucian Hati dan Ukhuwah Ramadhan

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا… وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا
“Ya Rabb kami, jangan jadikan dalam hati kami kedengkian kepada orang-orang beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Ibnu Katsir menyebut ayat ini sebagai dalil bahwa keselamatan hati terhadap sesama kaum beriman adalah bagian dari aqidah Ahlus Sunnah.

Yang diminta agar dibersihkan:

  • dengki (حسد)
  • kebencian (حقد)
  • permusuhan batin (عداوة)
  • iri terhadap keutamaan orang lain

Pelajaran Ramadhan dari Ayat 10

Ramadhan adalah bulan penyucian hati:

  • menghapus dendam
  • memadamkan iri
  • melembutkan lisan
  • menguatkan ukhuwah

Ali bin Abi Thalib berkata:

“Hati yang kotor tidak mampu memikul cahaya kebenaran.”

Puasa bukan hanya menahan makan, tetapi menahan hati dari kebencian.


Sintesis Tafsir: Tiga Pilar Tazkiyah Ramadhan

Para mufassir menyimpulkan tiga tazkiyah besar dari ayat 8–10:

  1. Ayat 8 → Tazkiyah Niat
    (Kemurnian tujuan, kejujuran iman)
  2. Ayat 9 → Tazkiyah Amal Sosial
    (Itsār, kepedulian, solidaritas)
  3. Ayat 10 → Tazkiyah Hati
    (Menghapus dengki, memupuk ukhuwah)

Inilah tiga tujuan utama puasa Ramadhan.


Penutup: Ramadhan yang Mengubah Sosial

Surah Al-Hasyr 8–10 mengajarkan bahwa:

Ramadhan yang diterima adalah Ramadhan yang melahirkan pengorbanan, solidaritas, dan hati yang bersih.

Jika setelah Ramadhan:

  • kita tidak lebih dermawan → ada yang salah dengan puasa kita
  • hati tidak lebih lembut → ada yang kurang dari ibadah kita
  • ukhuwah tidak menguat → ada ruh sosial yang hilang

Ramadhan bukan sekadar ritual, tetapi transformasi diri dan masyarakat.

Jika Abu Thalhah rela menahan lapar demi tamu,
maka Ramadhan mengajarkan kita agar ibadah tidak berhenti di sajadah—
tetapi hidup di meja makan orang-orang yang lapar.

Ramadhan tanpa itsār adalah Ramadhan tanpa ruh sosial.


Mojokerto, 28 Februari 2026
Fathur Rohman

Dr. KH. Fathur Rohman, M. Pd., (Pengasuh PPIC eLKISI Mojokerto)