Sejarah peradaban Islam diwarnai oleh pengorbanan agung para shahabiyah yang memiliki keteguhan iman laksana karang kokoh di tengah terpaan ombak badai. Di barisan generasi terbaik Madinah, nama mulia Ummu Umarah tampil membuktikan keberanian legendaris yang menggetarkan musuh dalam mempertahankan martabat risalah kenabian. Menelusuri jejak Keteladanan Nusaibah binti Ka’ab memberikan suntikan keteladanan yang sangat berharga bagi generasi muslimah hari ini untuk berani memegang prinsip kebenaran di tengah terpaan fitnah zaman.
Kisah Heroik Keteladanan Nusaibah binti Ka’ab sebagai Perisai Hidup Rasulullah
Peristiwa Perang Uhud menjadi panggung sejarah yang memperlihatkan ketulusan iman luar biasa dari sosok Nusaibah binti Ka’ab al-Maziniyyah radhiyallahu ‘anha. Awalnya Nusaibah bertugas mendistribusikan air minum bagi para prajurit dan merawat luka-luka pasukan kaum muslimin di bagian belakang medan laga. Namun tatkala sebagian besar barisan kaum muslimin tercerai-berai akibat kekacauan taktik dan keselamatan Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terancam kepungan pedang kaum musyrikin Quraisy, naluri juang Nusaibah seketika bergolak. Tanpa ragu sedikit pun ia menghunus pedang, menarik busur panah, dan berdiri kokoh menjadi benteng perisai hidup bagi manusia termulia di muka bumi. Pengorbanan jiwa raga demi mempertahankan panji ketauhidan senantiasa dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan balasan kenikmatan surga:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. At-Taubah: 111)
Pujian Luhur Baginda Rasulullah atas Ketulusan Ummu Umarah
Keteguhan hati dan ketangkasan fisik Nusaibah di tengah desingan senjata tajam mendapatkan sanjungan langsung dari lisan mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyaksikan sendiri bagaimana wanita tangguh ini tak kenal mundur meski tubuhnya menderita belasan luka robek akibat sabetan pedang musuh, termasuk luka dalam di pundaknya. Ketulusan bakti Ummu Umarah diabadikan dalam riwayat sahih para sejarawan Islam terkemuka sebagaimana dicatat oleh Imam Adz-Dzahabi dalam magnum opus-nya Siyar A’lam An-Nubala’:
مَا الْتَفَتُّ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا يَوْمَ أُحُدٍ إِلَّا وَأَنَا أَرَاهَا تُقَاتِلُ دُونِي
Artinya: “Tidaklah aku menoleh ke arah kanan maupun ke arah kiri pada hari Perang Uhud, melainkan aku senantiasa melihat Nusaibah sedang bertempur mati-matian membelaku.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra dan Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’)
Nusaibah bahkan sempat memohon kepada Rasulullah agar mendoakannya sekeluarga menjadi pendamping beliau di surga kelak, dan permohonan tulus tersebut langsung diaminkan oleh Baginda Nabi. Kisah keteguhan ini menampar anggapan sempit bahwa perempuan tidak memiliki kontribusi strategis dalam perjuangan membela agama Allah.
Refleksi perjuangan Ummu Umarah mengajarkan bahwa kemuliaan seorang mukmin sejati tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kemurnian komitmen tauhid dan kesiapan mempersembahkan yang terbaik bagi kejayaan Islam.
Kanal Informasi & Media Sosial Resmi Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto:
- YouTube: eLKISITV
- TikTok: ponpes eLKISI Mojokerto
- Facebook: ponpes.elkisi
- Instagram: @ponpes.elkisi
- Website Resmi: elkisi.com
(za/red)
















