Perkembangan teknologi digital dan media sosial saat ini menuntut setiap Muslim untuk senantiasa menjaga adab dan etika komunikasi agar terhindar dari dosa lisan maupun tulisan.
Menjaga Lisan dan Jari di Dunia Maya
Interaksi di ruang digital memiliki dampak yang sama besarnya dengan ucapan lisan secara langsung, sehingga prinsip tabayyun dan kehati-hatian dalam menyebar informasi wajib dijunjung tinggi.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Prinsip Berbicara Baik atau Diam dalam Islam
Rasulullah SAW telah memberikan panduan emas bahwa keselamatan seorang mukmin sangat bergantung pada kemampuannya mengontrol jari jemari dan kata-kata yang diunggah ke publik.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mari jadikan media sosial sebagai sarana dakwah dan penyebar kebaikan yang bernilai pahala jariyah.
Kanal Informasi & Media Sosial Resmi Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto:
- YouTube: eLKISITV
- TikTok: ponpes eLKISI Mojokerto
- Facebook: ponpes.elkisi
- Instagram: @ponpes.elkisi
- Website Resmi: elkisi.com
(za/red)
















