Adab Bertetangga dalam Islam di Era Perumahan Modern

adab bertetangga dalam Islam
Adab Bertetangga dalam Islam di Era Perumahan Modern

Pola permukiman modern perkotaan sering kali menciptakan sekat sosial yang renggang antara satu kediaman dengan kediaman lainnya. Kesibukan rutinitas kerja dan privasi berlebihan kerap membuat penghuni komplek perumahan jarang bertegur sapa dengan tetangga sekitar. Padahal, syariat Islam menempatkan kemuliaan hubungan bertetangga pada posisi istimewa setelah ikatan kekeluargaan sedarah.

Urgensi Mengamalkan Adab Bertetangga dalam Islam

Memuliakan tetangga bukan sekadar tata krama sosial konvensional, melainkan bukti nyata dari kesempurnaan iman seorang mukmin kepada Allah dan hari akhirat. Hubungan bertetangga memperoleh penegasan langsung melalui wasiat berulang Malaikat Jibril ‘alaihissalam kepada Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Malaikat Jibril senantiasa berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga aku menduga bahwa tetangga akan mendapatkan hak bagian warisan.” (HR. Al-Bukhari no. 6014 dan Muslim no. 2624).

Kandungan hadits ini mengisyaratkan hak tetangga yang sangat agung, meliputi kewajiban menjaga perasaan mereka, menjamin ketentraman hunian, serta bersegera mengulurkan pertolongan tatkala musibah menimpa.

Menahan Diri dari Gangguan dan Memelihara Kerukunan

Tantangan interaksi pada kawasan klaster perumahan kerap dipicu hal-hal teknis sepele, seperti memarkir kendaraan sembarangan, kebisingan musik larut malam, atau penumpukan sampah di luar pagar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi peringatan keras terhadap siapa pun yang mengusik ketenangan dan kenyamanan orang-orang di sekitarnya:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya; dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Al-Bukhari no. 5185 dan Muslim no. 47).

Menahan diri dari menimbulkan kemudharatan merupakan rukun awal membangun peradaban islami yang madani, toleran, dan saling menguatkan.

Menghidupkan etika bertetangga secara konsisten merupakan sarana dakwah nyata yang menghadirkan keindahan akhlak Islam di tengah masyarakat heterogen.

Kanal Informasi & Media Sosial Resmi Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto:

(za/red)

Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI

Pesantren Berbasis Edukasi dan Sosial Keummatan

BERITA TERBARU

Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI

eLKISI IT Team © Copyright  2024. All Rights Reserved