Lembaran sejarah peradaban Islam senantiasa dihiasi oleh deretan kesatria agung yang mengorbankan segenap jiwa dan raga demi tegaknya panji kebenaran di muka bumi. Sahabat mulia Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu termasuk kelompok pertama yang memeluk Islam (as-sabiqunal awwalun) serta satu dari sepuluh sahabat yang dipersaksikan Rasulullah ﷺ masuk surga. Menelusuri jejak keteladanan Saad bin Abi Waqqash menghadirkan inspirasi mendalam perihal keberanian tempur, keteguhan prinsip akidah, kezuhudan pribadi, dan kedahsyatan doa mustajab.
Meneladani Keteladanan Saad bin Abi Waqqash dalam Ketaatan
Keteguhan iman Sa’ad diuji secara luar biasa ketika ibunda tercintanya melakukan aksi mogok makan demi memaksanya kembali murtad pada kemusyrikan jahiliyah. Beliau tetap berbakti kepada orang tuanya dengan santun, namun dengan tegas menyatakan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berada di atas segalanya, hingga turun ayat pembelaan dalam Al-Qur’an. Keberanian beliau di medan jihad terbukti nyata saat menjadi pemanah ulung yang melindungi Rasulullah ﷺ pada Perang Uhud, hingga Baginda Nabi mendoakan kemuliaan besar baginya:
ارْمِ سَعْدُ، فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي
Artinya: “Panahlah wahai Sa’ad! Tebusanmu adalah ayah dan ibuku.” (HR. Bukhari no. 2905 dan Muslim no. 2411).
Penghormatan istimewa tersebut merupakan sanjungan langka yang tidak pernah diberikan Rasulullah ﷺ kepada sahabat lainnya dalam situasi pertempuran yang amat genting.
Kekuatan Doa Mustajab yang Menjaga Kehormatan Agama
Kemustajaban doa Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi perisai kokoh bagi kaum mukminin sekaligus peringatan keras bagi siapa pun yang berbuat zalim dan durhaka. Doa beliau yang selalu diijabah oleh Allah Ta’ala bersumber langsung dari permohonan khusus Baginda Nabi Muhammad ﷺ yang memohonkan ketepatan lemparan panah serta pengabulan munajat bagi sahabat tercintanya ini:
اللَّهُمَّ سَدِّدْ رَمْيَتَهُ، وَأَجِبْ دَعْوَتَهُ
Artinya: “Ya Allah, tepatkanlah lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3751 dan Al-Hakim no. 6116, hasan shahih).
Kendati memegang posisi mentereng sebagai panglima penakluk Persia dalam Perang Qadisiyyah dan gubernur Kufah, Sa’ad senantiasa hidup dalam kesahajaan serta memilih menjauhi fitnah perebutan kekuasaan pada masa senjanya. Sikap wara’, keikhlasan beramal, dan kepasrahan total kepada Allah menjadikan figur beliau teladan abadi bagi setiap pemuda muslim dalam memadukan keahlian profesional dan ketinggian ruhiyah.
Generasi penerus peradaban Islam sudah semestinya mengambil teladan berharga dari keteguhan akidah, kepahlawanan sejati, dan keluhuran pekerti sahabat agung ini. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meridhai Sa’ad bin Abi Waqqash dan mengumpulkan kita bersama para kekasih-Nya di surga Firdaus yang penuh kenikmatan.
Kanal Informasi & Media Sosial Resmi Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto:
- YouTube: eLKISITV
- TikTok: ponpes eLKISI Mojokerto
- Facebook: ponpes.elkisi
- Instagram: @ponpes.elkisi
- Website Resmi: elkisi.com
(za/red)
















