Gaya hidup modern yang sarat konsumerisme dan perlombaan materi kerap memicu kegelisahan batin serta ketidakpuasan tiada akhir bagi banyak orang. Jiwa yang senantiasa menatap kelebihan materi orang lain akan terjerumus ke dalam keletihan mental dan keputusasaan yang merusak kesehatan ruhiyah. Menghidupkan sifat qanaah kunci ketenangan hakiki yang menuntun sanubari setiap insan beriman untuk senantiasa bersyukur atas ketetapan rezeki dari Allah Ta’ala.
Menjadikan Sifat Qanaah Kunci Ketenangan Jiwa Hakiki
Qana’ah secara terminologi syariat bermakna keridhaan hati dalam menerima anugerah rezeki yang halal disertai ikhtiar sungguh-sungguh tanpa diliputi ketamakan duniawi. Sifat mulia ini membentengi seorang hamba dari penyakit dengki, rakus, serta kecemasan berlebihan terhadap jaminan masa depan materi. Rasulullah ﷺ mengabarkan rahasia keberuntungan sejati bagi seorang mukmin yang dianugerahi rasa cukup dalam kehidupannya:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupi, dan Allah menjadikannya qana’ah (merasa cukup) atas apa yang Dia anugerahkan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054).
Rasa cukup yang tertanam dalam dada melahirkan ketentraman abadi yang tidak dapat ditukar dengan tumpukan kemewahan duniawi yang fana.
Hakikat Kekayaan Jiwa Melampaui Kemewahan Dunia
Banyak manusia keliru mengukur tingkat kesuksesan hidup semata-mata dari saldo tabungan, kepemilikan aset mewah, dan status sosial yang tampak di hadapan publik. Padahal kekayaan sejati bersemayam di dalam ketenteraman hati yang bebas dari keterikatan hawa nafsu dan keserakahan yang membutakan mata batin. Baginda Rasulullah ﷺ meluruskan tolok ukur kekayaan hakiki melalui sabda beliau yang sarat makna:
لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya: “Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).
Pribadi yang qana’ah tidak bersikap pasif atau malas berusaha, melainkan mengikhtiarkan hasil terbaik seraya menyerahkan keputusan akhir secara tawakal kepada takdir Ilahi. Keberkahan rezeki pun mengalir deras ke dalam relung keluarga yang senantiasa dipenuhi rasa syukur, kebersahajaan hidup, dan kedermawanan sosial kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Kedamaian batin seorang mukmin akan memancar dengan terang benderang ketika ia menyadari bahwa seluruh rezeki telah ditakar secara sempurna oleh Sang Pencipta Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana.
Menghiasi diri dengan sifat mulia ini merupakan obat mujarab bagi kegelisahan jiwa di tengah riuhnya ambisi duniawi yang melalaikan. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan kepada kita kelapangan dada, hati yang qana’ah, serta kenikmatan iman yang kekal hingga akhir hayat nanti.
Kanal Informasi & Media Sosial Resmi Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto:
- YouTube: eLKISITV
- TikTok: ponpes eLKISI Mojokerto
- Facebook: ponpes.elkisi
- Instagram: @ponpes.elkisi
- Website Resmi: elkisi.com
(za/red)
















