Di Balik Perjalanan eLKISI: Ada Wakaf, Pengorbanan, dan Kesetiaan yang Tak Pernah Padam

Silaturahmi Nasional (Silatnas) XIII Pondok Pesantren eLKISI bukan sekadar pertemuan tahunan. Di balik kemeriahan acara tersebut, hadir orang-orang yang menjadi bagian penting dari perjalanan panjang dakwah dan pendidikan eLKISI.

Ada yang membersamai perjuangan sejak kegiatan pengajian hanya diikuti oleh dua orang. Ada yang rela menjual mobilnya berulang kali untuk membantu pembangunan pesantren. Ada pula jemaah lanjut usia yang tetap datang dengan bantuan tongkat karena ingin melihat perkembangan pondok yang dahulu mereka dukung dengan segala kemampuan.

Kehadiran mereka mengingatkan bahwa besarnya eLKISI hari ini tidak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh doa, pengorbanan, kesetiaan, dan kebersamaan banyak pihak.

Pengajian yang Bermula dari Dua Orang

Salah seorang yang hadir dalam perjalanan awal dakwah tersebut adalah H. Saroni. Beliau merupakan orang yang pertama kali meminta saya mengisi pengajian di rumahnya pada tahun 1986.

Saat itu, saya baru berusia 16 tahun. Saya belum lama lulus dari SMP Candi pada tahun 1985 dan belum masuk MAN Sidoarjo, yang baru saya mulai pada tahun 1987.

Jemaah pengajian ketika itu hanya dua orang, yaitu Pak Saroni dan istrinya, Bu Mujah. Meskipun dimulai dengan jumlah yang sangat sedikit, kegiatan tersebut terus berlangsung dengan penuh kesungguhan.

Alhamdulillah, pengajian itu perlahan berkembang. Jumlah jemaah semakin bertambah hingga akhirnya dibentuk Yayasan Al-Bayyinah. Yayasan tersebut memperoleh sebidang tanah wakaf dari mertua Pak Saroni.

Kegiatan kajian selanjutnya diselenggarakan secara bergiliran dari satu rumah ke rumah jemaah lainnya. Dalam perkembangannya, tidak kurang dari 150 orang mengikuti kajian tersebut dengan rajin.

Empat puluh tahun telah berlalu sejak pengajian kecil itu dimulai. Alhamdulillah, Pak Saroni dan Bu Mujah juga baru pulang dari menunaikan ibadah haji sekitar satu bulan lalu.

Jasa Pak Saroni terhadap perjalanan dakwah dan Pondok Pesantren eLKISI tidaklah kecil. Beliau bersama jemaah Al-Bayyinah di Legi, Pepelegi, Waru, Sidoarjo, memberikan perhatian besar terhadap perkembangan pondok.

Semoga Pak Saroni, Bu Mujah, dan seluruh jemaah senantiasa diberikan kesehatan, usia yang penuh keberkahan, serta rezeki yang dilapangkan oleh Allah Swt.

KH. Fathur Rohman bersama H. Saroni dalam acara SILATNAS 13

Menjual Mobil untuk Membangun Fondasi Pesantren

Tokoh berikutnya adalah pasangan Bapak Hendry dan Mbak Romlah. Keduanya telah menjadi jemaah kajian saya di Legi, Pepelegi, Waru, Sidoarjo, sejak tahun 1986, sebelum kajian tersebut berkembang menjadi kelompok kajian Al-Bayyinah.

Sebelum Pondok Pesantren eLKISI berdiri, Pak Hendry dan Mbak Romlah dengan setia mendampingi kami dalam menjalankan berbagai program kemanusiaan. Mereka turut bergerak ketika terjadi banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, dan berbagai musibah lainnya.

Kesetiaan tersebut terus berlanjut ketika Pondok Pesantren eLKISI mulai didirikan.

Pada masa awal pembangunan pesantren, Pak Hendry rela menjual mobilnya untuk membantu pembuatan fondasi. Pengorbanan itu bahkan tidak hanya dilakukan satu kali. Mungkin tiga atau empat kali beliau menjual mobil untuk membantu kebutuhan pondok.

Beliau juga pernah memberikan bantuan agar istri tercinta saya dapat menunaikan ibadah umrah untuk pertama kalinya.

Penampilan Pak Hendry memang tampak sangat sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan kedermawanan yang sulit diukur dengan angka.

Sampai hari ini, Pak Hendry dan Mbak Romlah tetap setia membersamai Pondok Pesantren eLKISI. Insyaallah, keduanya juga akan menyerahkan tanah seluas kurang lebih 7.000 meter persegi untuk dimanfaatkan oleh pondok.

Saya pernah bertanya kepada mereka:

“Bagaimana kalau tanah itu kita gunakan untuk membangun gedung diklat dai?”

Tanpa ragu, mereka langsung menjawab:

“Monggo, Pak. Terserah panjenengan.”

Sebelumnya, Pak Hendry dan Mbak Romlah bersama dua orang sahabatnya juga telah menyerahkan sebidang tanah untuk pembangunan masjid putri eLKISI.

Semoga Allah mengaruniakan kepada mereka usia yang penuh keberkahan, kesehatan, serta rezeki yang luas dan melimpah.

KH. Fathur Rohman bersama Pak Hendri Bu Romlah dalam acara SILATNAS 13

Datang dengan Tongkat karena Rindu kepada Pondok

Pemandangan lain yang membuat saya terharu dalam Silatnas XIII adalah kehadiran para ibu lanjut usia. Sebagian dari mereka harus berjalan perlahan dengan bantuan tongkat.

Pemandangan semacam itu tidak hanya terlihat pada satu atau dua orang, tetapi pada banyak jemaah.

Mereka tetap datang karena rasa rindu yang mendalam kepada pondok. Mereka ingin menyaksikan perkembangan pesantren yang dahulu turut mereka dukung dengan apa pun yang dimiliki.

Ada yang mendukung dengan tenaga. Ada yang menyisihkan harta. Ada yang membantu melalui doa. Ada pula yang terus memberikan semangat ketika perjalanan pondok menghadapi berbagai kesulitan.

Mereka datang untuk melihat bahwa benih kebaikan yang dahulu ditanam telah tumbuh dan memberikan manfaat. Mereka juga berharap pondok ini menjadi amal jariah yang pahalanya terus mengalir bagi seluruh jemaah dan semua pihak yang pernah mengambil bagian dalam perjuangannya.

Melihat mereka, air mata terasa sulit dibendung. Usia boleh bertambah, langkah boleh melemah, tetapi cinta dan kesetiaan terhadap perjuangan tidak ikut berkurang.

Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam beribadah kepada mereka. Semoga Allah mengaruniakan kesehatan, keberkahan usia, dan husnul khatimah.

Kehadiran Tokoh di Silatnas XIII

Silatnas XIII Pondok Pesantren eLKISI juga dihadiri sejumlah tokoh organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, dan tokoh jemaah.

Salah seorang di antaranya adalah Mr. Mohammad Kalend, sosok yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Kampung Inggris Pare.

Apabila membicarakan Kampung Inggris, keberadaan kawasan pendidikan tersebut tidak dapat dilepaskan dari tangan dingin dan perjuangan Mr. Mohammad Kalend. Gagasan, ketekunan, dan pengabdiannya telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan bahasa Inggris di Pare.

Meskipun usianya tidak lagi muda, beliau tetap menyempatkan diri menghadiri Silatnas XIII Pondok Pesantren eLKISI di Mojokerto bersama keluarganya.

Kehadiran beliau merupakan kehormatan sekaligus bentuk dukungan yang sangat berarti bagi keluarga besar eLKISI.

Semoga Mr. Mohammad Kalend senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan. Semoga langkah beliau menghadiri Silatnas XIII dicatat sebagai amal kebaikan dan mendapatkan balasan terbaik dari Allah Ta’ala. Amin.

Mr. Kalent di sela-sela Kegiatan SILATNAS XIII

eLKISI Dibangun oleh Kesetiaan dan Pengorbanan

Silatnas XIII memperlihatkan bahwa perjalanan eLKISI bukan hanya tentang bangunan, luas tanah, atau bertambahnya jumlah santri. Perjalanan ini terutama berisi kisah manusia-manusia yang ikhlas berjuang.

Perjalanan tersebut bermula dari sebuah pengajian yang hanya diikuti oleh sepasang suami istri. Kemudian tumbuh melalui jemaah yang setia mengikuti kajian dari rumah ke rumah.

Perjuangan itu diperkuat oleh orang-orang yang rela menjual kendaraan, mewakafkan tanah, membantu program kemanusiaan, serta mendukung pembangunan pesantren tanpa banyak berbicara mengenai pengorbanannya.

Hari ini, sebagian dari mereka telah lanjut usia. Untuk berjalan menuju lokasi Silatnas pun ada yang harus menggunakan tongkat. Namun, mereka tetap hadir karena merasa bahwa eLKISI adalah bagian dari kehidupan dan perjuangan mereka.

Inilah kekayaan terbesar Pondok Pesantren eLKISI: orang-orang yang tulus, setia, dan tidak pernah berhenti mendoakan perjuangan. Semoga seluruh kebaikan mereka menjadi amal jariah yang terus mengalir. Semoga Allah menjaga persaudaraan ini dan memberikan kekuatan kepada eLKISI untuk terus menjadi pusat pendidikan, dakwah, dan kemanfaatan bagi umat.