Mojokerto — Pondok Pesantren eLKISI kembali menyelenggarakan Buka Bersama 2026 yang dihadiri para dai, guru ngaji, perangkat desa, Babinsa, serta tokoh masyarakat dari berbagai wilayah. Acara ini berlangsung hangat dan penuh kebersamaan, sekaligus menjadi sarana memperkuat hubungan antara pesantren, pemerintah desa, dan masyarakat.
Dalam kesempatan ini, Ponpes eLKISI memberikan tunjangan khusus kepada para dai dan guru ngaji melalui Baitul Mall eLKISI (BMe). Program ini merupakan bentuk apresiasi dan kepedulian pesantren terhadap para pejuang dakwah yang terus membina umat di berbagai daerah, termasuk wilayah sekktar pesantren sebagai bentuk kepedulian pesantren terhadap lingkungan sekitar.
guru ngaji dari berbagai TPQ disekitar pesantren yang turut menerima tunjangan hari raya (THR)
KH. Fathur Rohman (pengasuh Ponpes eLKISI) menyampaikan bahwa tunjangan ini adalah wujud komitmen eLKISI dalam mendukung dakwah dan pendidikan umat. “Para dai dan guru ngaji bekerja dengan penuh keikhlasan dan sering berjuang dalam kondisi terbatas. Melalui BMe, kami ingin memastikan mereka mendapat perhatian dan dukungan yang layak,” ujarnya.
Acara buka bersama ini juga menegaskan kembali prinsip pesantren bahwa keberadaan lembaga pendidikan Islam harus membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Berlandaskan nilai خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ, Ponpes eLKISI terus memperluas program sosial dan dakwahnya, termasuk pengiriman dai ke daerah terpencil, pembinaan masyarakat, serta pelatihan-pelatihan pemberdayaan.
Hadir pula para perangkat desa dan tokoh masyarakat yang memberikan apresiasi atas kontribusi eLKISI dalam penguatan dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Hubungan harmonis pesantren dengan lingkungan sekitar menjadi salah satu kekuatan besar dalam keberlanjutan program sosial tersebut. Dengan terselenggaranya kegiatan buka bersama sekaligus penyaluran tunjangan ini, Ponpes eLKISI berharap langkah kecil ini terus menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga Islam lainnya dalam menguatkan peran sosial dan dakwah untuk umat. (AF)
Dr. Kh. Fathur Rohman, M. Pd., (Pengasuh Ponpes eLKISI Mojokerto) saat menyampaikan nasihat-nasihatnya
Dunia pesantren kembali mencatat sejarah gemilang di kancah internasional! Ajang International Conference Santri Mendunia (ICSM) 2026 yang digelar di Malaysia, Singapura, dan Thailand telah melahirkan sebuah kabar membanggakan: Sheema Hunafa Qudsi, mahasiswi Public Health FIKKIA Universitas Airlangga sekaligus alumni santri penghafal Al-Qur’an PPIC eLKISI Mojokerto, berhasil membawa pulang dua penghargaan sekaligus: ✅ Delegate Award ✅ Top 1 Best Group[fikkia.unair.ac.id], [fikkia.unair.ac.id]
Prestasi ini diraih dalam penyelenggaraan ICSM Batch 4 yang berlangsung pada 9–15 Februari 2026, sebuah forum internasional yang menghadirkan santri-satri terbaik dari berbagai negara Asia. [fikkia.unair.ac.id], [fikkia.unair.ac.id]
Forum Santri Internasional yang Menghubungkan Tiga Negara
ICSM 2026 mengusung tema besar: “Student Collaboration in Building a Global Sharia Economic Ecosystem.” Konferensi ini mempertemukan para santri pilihan dari berbagai institusi untuk berdiskusi, mempresentasikan riset, dan memperkuat jejaring global generasi santri. [fikkia.unair.ac.id], [fikkia.unair.ac.id]
Dalam forum ini, Sheema mengikuti dua agenda utama:
Presentasi paper ilmiah
Debat akademik
Bersama timnya, ia menyampaikan gagasan kuat mengenai peran generasi santri dalam memperkuat ekonomi syariah lintas negara. Berkat analisis tajam, kemampuan argumentasi, serta public speaking yang menonjol, kelompoknya dinobatkan sebagai Top 1 Best Group, mengalahkan delegasi dari berbagai universitas dan pesantren di Indonesia. [fikkia.unair.ac.id], [fikkia.unair.ac.id]
Komentar Menginspirasi dari Sheema: Santri Harus Hadir di Panggung Dunia
Dalam pernyataannya, Sheema mengungkapkan rasa syukur dan harunya bisa mewakili Indonesia.
“Merupakan kebanggaan luar biasa bisa hadir sebagai delegasi Indonesia. Saya belajar banyak tentang bagaimana santri dapat menjadi agen perubahan global dengan membawa nilai-nilai keislaman dan integritas.”[fikkia.unair.ac.id], [fikkia.unair.ac.id]
Ia menambahkan bahwa ICSM membuka pandangan baru tentang pentingnya membangun jejaring internasional dan kolaborasi lintas budaya. [fikkia.unair.ac.id], [fikkia.unair.ac.id]
ICSM: Ajang Bergengsi yang Terus Mendunia
ICSM telah menjadi ruang penting bagi santri untuk tampil di skala internasional. Kegiatan sebelumnya bahkan juga sukses digelar di tiga negara Asia Tenggara, yakni Malaysia, Singapura, dan Thailand—menjadi wadah silaturahmi, forum pembahasan isu-isu nasional-internasional, hingga diskusi visi kebangsaan antar-santri. [poskota.co]
Peserta mengikuti berbagai rangkaian:
Konferensi dan presentasi akademik
Kunjungan destinasi edukatif dan spiritual
Diskusi internasional dengan akademisi dan praktisi
Semua ini membentuk pengalaman komprehensif bagi generasi santri untuk tampil di panggung global.
Kebanggaan untuk Indonesia, UNAIR, dan Dunia Pesantren
Prestasi Sheema adalah bukti nyata bahwa santri Indonesia mampu bersaing secara global. Bukan hanya membawa nama besar UNAIR, tetapi juga membanggakan dunia pesantren, terutama PPIC eLKISI Mojokerto yang turut membina Sheema sebagai hafizhah Al-Qur’an. [fikkia.unair.ac.id], [fikkia.unair.ac.id]
Kisah inspiratif ini diharapkan mampu menjadi penyemangat bagi para santri dan mahasiswa Indonesia untuk terus mengasah kemampuan, berani melangkah, dan percaya diri tampil di berbagai forum internasional.
Selamat kepada Sheema Hunafa Qudsi!
Prestasi ini bukan sekadar kemenangan, tetapi pesan jelas bahwa santri Indonesia mampu go global—mengharumkan negeri, mengangkat martabat pesantren, dan memberi warna baru bagi peradaban dunia. (AF)
Surah Al-Hasyr ayat 8–10 bukan sekadar membahas hukum harta fai’, tetapi merupakan manhaj besar pembentukan masyarakat beriman. Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan lainnya menegaskan bahwa ayat-ayat ini memuat fondasi akhlak sosial Islam: kejujuran iman, pengorbanan, solidaritas, dan penyucian hati.
Ramadhan, sebagai bulan tazkiyah (penyucian jiwa), selaras erat dengan pesan ketiga ayat ini. Ramadhan yang benar bukan hanya meningkatkan ibadah individual, tetapi menghidupkan kepekaan sosial dan ukhuwah yang kokoh.
Ayat 8: Muhajirin – Puasa dan Kejujuran Pengorbanan
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ… أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ “Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kaum Muhajirin meninggalkan rumah, keluarga, dan harta semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya, tanpa tujuan duniawi. Mereka mencapai maqām ash-shidq, derajat tertinggi kejujuran iman.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Frasa imanan wa ihtisāban inilah ruh ayat 8: amal yang murni karena Allah, bersih dari pamrih dunia.
Abdullah bin Mas‘ud berkata:
“Iman bukan angan-angan, tetapi apa yang menetap di hati dan dibuktikan oleh amal.”
Pelajaran Ramadhan dari Ayat 8
Puasa melatih kita mencapai kejujuran iman melalui:
Pengorbanan hawa nafsu
Ketaatan tulus tanpa pengawasan manusia
Amal yang tidak mengharap selain ridha Allah
Ramadhan menguji apakah iman kita benar-benar hidup, bukan sekadar klaim lisan.
Ayat 9: Anshar – Ramadhan dan Spirit Itsār
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ “Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesempitan.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Al-Qurthubi menyebut ayat ini sebagai pujian tertinggi terhadap akhlak sosial, sebab itsār (mendahulukan orang lain dalam kondisi sama-sama butuh) hanya lahir dari iman yang benar-benar matang.
Rasulullah SAW bersabda:
“Manusia paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia…” (HR. At-Tabarani)
Kisah Abu Thalhah: Teladan Itsār
Abu Thalhah dan istrinya mematikan lampu agar tamu merasa mereka ikut makan, padahal keduanya menahan lapar demi tamu. Allah mengabadikan amal mereka dalam ayat:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ “Mereka mengutamakan orang lain…”
Pelajaran Ramadhan dari Ayat 9
Ramadhan adalah madrasah itsār:
Memberi takjil saat diri sendiri lapar
Mendahulukan fakir miskin dalam sedekah
Berbagi meski dalam keterbatasan
Puasa menumbuhkan empati, dan empati melahirkan pengorbanan sosial.
Ayat 10: Penyucian Hati dan Ukhuwah Ramadhan
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا… وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا “Ya Rabb kami, jangan jadikan dalam hati kami kedengkian kepada orang-orang beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Ibnu Katsir menyebut ayat ini sebagai dalil bahwa keselamatan hati terhadap sesama kaum beriman adalah bagian dari aqidah Ahlus Sunnah.
Yang diminta agar dibersihkan:
dengki (حسد)
kebencian (حقد)
permusuhan batin (عداوة)
iri terhadap keutamaan orang lain
Pelajaran Ramadhan dari Ayat 10
Ramadhan adalah bulan penyucian hati:
menghapus dendam
memadamkan iri
melembutkan lisan
menguatkan ukhuwah
Ali bin Abi Thalib berkata:
“Hati yang kotor tidak mampu memikul cahaya kebenaran.”
Puasa bukan hanya menahan makan, tetapi menahan hati dari kebencian.
Sintesis Tafsir: Tiga Pilar Tazkiyah Ramadhan
Para mufassir menyimpulkan tiga tazkiyah besar dari ayat 8–10:
Ramadhan yang diterima adalah Ramadhan yang melahirkan pengorbanan, solidaritas, dan hati yang bersih.
Jika setelah Ramadhan:
kita tidak lebih dermawan → ada yang salah dengan puasa kita
hati tidak lebih lembut → ada yang kurang dari ibadah kita
ukhuwah tidak menguat → ada ruh sosial yang hilang
Ramadhan bukan sekadar ritual, tetapi transformasi diri dan masyarakat.
Jika Abu Thalhah rela menahan lapar demi tamu, maka Ramadhan mengajarkan kita agar ibadah tidak berhenti di sajadah— tetapi hidup di meja makan orang-orang yang lapar.
Ramadhan tanpa itsār adalah Ramadhan tanpa ruh sosial.
Mojokerto, 28 Februari 2026 Fathur Rohman
Dr. KH. Fathur Rohman, M. Pd., (Pengasuh PPIC eLKISI Mojokerto)
Mojokerto — Proses belajar sains kembali berlangsung seru di kelas 8D hari ini. Para siswa melakukan praktikum fisika bertajuk “Misteri Pensil Patah”, sebuah kegiatan yang dirancang untuk membuktikan salah satu sifat cahaya: cahaya merambat lurus, tetapi dapat berbelok ketika memasuki medium berbeda.
Dalam teori fisika, perubahan arah cahaya ini disebut pembiasan. Ketika cahaya berpindah dari satu medium ke medium lain—misalnya dari udara ke air—kecepatannya ikut berubah. Perubahan kecepatan inilah yang membuat arah cahaya membelok sehingga benda yang berada di dalam medium tampak bergeser atau bahkan terlihat patah.
Melalui praktikum hari ini, para siswa kelas 8D mempelajari dan membuktikan langsung fenomena tersebut. Sebuah pensil diletakkan sebagian di dalam berbagai jenis zat, seperti air, minyak, susu, serta campuran minyak dan air. Hasilnya? Pensil yang sejatinya lurus tiba-tiba tampak patah, meloncat, atau bergeser posisinya ketika dilihat dari permukaan.
Fenomena ini bukan karena pensilnya benar-benar patah, melainkan karena cahaya yang membawa informasi visual tentang pensil mengalami pembiasan saat melewati batas dua medium berbeda. Setiap zat memiliki indeks bias berbeda sehingga efek “patah” yang terlihat juga bervariasi.
Antusiasme siswa tampak jelas saat mereka mengamati perubahan pada pensil, mencatat hasil percobaan, dan mendiskusikan mengapa setiap medium menghasilkan bentuk pembiasan yang tidak sama. Praktikum ini tidak hanya menambah pemahaman, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu tentang bagaimana cahaya bekerja dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari pelangi, kolam yang tampak dangkal, hingga kaca pembesar.
Melalui kegiatan sederhana namun sarat ilmu ini, siswa diharapkan semakin memahami bahwa fisika bukan sekadar teori di atas kertas, tetapi nyata dan menyenangkan saat dieksplorasi langsung. (af)
praktikum pembiasan cahaya yang dibimbing oleh ustadzah Hanna Nur Izzati, M. Pd,
Jakarta, 28 Februari 2026 — Kabar membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan Islam Indonesia. Hari ini, Ananda Alya Az Zarotul Azizah, alumni Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto Angkatan ke-7, resmi diberangkatkan menuju Universitas Tripoli, Libya, melalui Bandara Internasional Soekarno–Hatta, Jakarta.
Keberangkatan ini merupakan bagian dari Program Inkubasi Kader Mubaligh dan Ulama Muhammadiyah Batch #5, sebuah program prestisius dan full scholarship yang digelar oleh Majlis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Program ini dikenal memiliki proses seleksi yang ketat, diikuti oleh kader-kader pilihan dari seluruh Indonesia, sehingga hanya mereka yang benar-benar unggul yang berhasil lolos.
Pada 15 Agustus 2025 lalu, Majlis Tabligh Muhammadiyah secara resmi mengumumkan penerima beasiswa angkatan kelima, dan hari ini menjadi momen puncak keberangkatan para peserta menuju negara tujuan masing-masing — termasuk Alya yang akan melanjutkan studi ke Libya.
Keberangkatan ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi Alya dan keluarga, tetapi juga kebanggaan besar bagi Pesantren eLKISI yang terus konsisten melahirkan kader-kader unggul di tingkat nasional maupun internasional.
Program beasiswa ini bertujuan untuk menyiapkan generasi muda Muhammadiyah menjadi mubaligh, ulama, dan pemimpin masa depan yang memiliki kapasitas keilmuan mendalam, wawasan global, serta karakter dakwah yang moderat dan berkemajuan.
Dengan penuh rasa syukur, keluarga besar eLKISI, para guru, serta para sahabat melepas Alya dengan doa terbaik, agar kelak mampu membawa harum nama pesantren, persyarikatan, dan bangsa di kancah internasional. (af)
Alya Az Zarotul Azizah bersama keluarga besarnya didepan pintu keberangkatan internasional bandara sokarno hatta
Manusia modern sering mengeluhkan kesibukan. Dari pagi hingga malam, waktu habis untuk pekerjaan, keluarga, dan berbagai urusan dunia. Namun di balik itu semua, ada satu pertanyaan iman yang patut kita renungkan bersama: jika Allah dan para malaikat “sibuk”, lalu bagaimana dengan kita?
Allah ‘Azza wajalla berfirman:
كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
“Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (urusan).” (QS. ar-Raḥmān: 29)
Para ulama menjelaskan, “kesibukan” Allah bukanlah kesibukan fisik, melainkan kesinambungan pengaturan dan pemeliharaan: memberi rezeki, mengampuni dosa, mengangkat derajat, menolong hamba, dan mengatur seluruh alam semesta tanpa jeda. Tidak ada satu detik pun yang luput dari perhatian Allah ‘Azza wajalla.
Sementara itu, para malaikat pun tidak pernah lalai. Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai makhluk yang:
“Mereka tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Taḥrīm: 6)
Bahkan, dalam Al-Qur’an Allah mengabarkan bahwa para malaikat sibuk mendoakan manusia beriman:
“Malaikat-malaikat yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan mereka, beriman kepada-Nya, dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Ghāfir: 7)
Makhluk langit yang mulia itu sibuk mendoakan ampunan dan keselamatan kita, sementara manusia sering kali justru sibuk dalam kelalaian.
Ironisnya, manusia—makhluk yang paling membutuhkan rahmat Allah—sering terjebak pada kesibukan yang menjauhkan dari tujuan penciptaannya. Padahal Allah ‘Azza wajalla menegaskan:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzāriyāt: 56)
Masalah utama kita bukan tidak sibuk, melainkan salah arah kesibukan. Sibuk bekerja hingga melalaikan shalat. Sibuk mencari dunia hingga lupa akhirat. Sibuk berbicara, tetapi jarang berzikir.
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam mengingatkan dalam sebuah hadits:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari)
Waktu adalah amanah. Setiap detik akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, Islam tidak melarang kesibukan dunia, bahkan mendorong produktivitas. Namun Islam memberi ukuran yang jelas: apakah kesibukan itu mendekatkan kita kepada Allah atau justru melalaikan kita dari-Nya?
Seorang mukmin sejati adalah orang yang mampu menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat. Ia sibuk bekerja, tetapi shalatnya terjaga. Ia aktif bermasyarakat, tetapi lisannya basah dengan zikir. Ia produktif, namun hatinya tetap tunduk kepada Allah.
Maka marilah kita menata ulang kesibukan hidup. Jika Allah ﷻ tak pernah berhenti mencurahkan rahmat-Nya, dan malaikat tak pernah lelah berdoa bagi orang-orang beriman, sungguh terlalu jika kita terus sibuk tanpa arah iman.
Allah sibuk dengan rahmat-Nya. Malaikat sibuk dengan ketaatan. Lalu, kita sibuk dengan apa?
Mojokerto — Pondok Pesantren eLKISI kembali menorehkan kiprah dakwah berskala besar dengan melepas 272 da’i muda untuk melaksanakan Praktek Dakwah Ramadhan (PDR) 1447 H / 2026 M. Para da’i ini disebar ke berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara sebagai ikhtiar menghidupkan syiar Ramadhan, memakmurkan masjid, dan menguatkan peran santri di tengah masyarakat.
Program PDR menjadi agenda tahunan eLKISI yang bertujuan membekali santri dengan pengalaman dakwah nyata, pengabdian sosial, serta pembentukan karakter sebagai calon pemimpin umat.
Dakwah Menembus Batas Negeri: Dari Nusantara hingga Singapura & Timor Leste
Tahun ini, para da’i muda eLKISI ditugaskan ke 33 titik strategis, meliputi wilayah:
🌍 Luar Negeri
Singapura – Masjid Al Istighfar (4 santri)
Timor Leste – Barcoli & Baucau (3 santri)
🌏 Indonesia
Nusa Tenggara Timur
Kupang (4 santri)
Atambua (2 santri)
Nusa Tenggara Barat
Dompu (3 santri)
Kalimantan Barat
Pontianak (4 santri)
Kalimantan Selatan
Banjarmasin (2 santri)
Jawa Tengah
Klaten (8 santri)
Solo (2 santri)
Yogyakarta
Sleman (3 santri)
Jawa Timur — Penempatan terbesar dengan total puluhan da’i muda tersebar di berbagai daerah, di antaranya:
Mojokerto – 21 santri
Sidoarjo – 32 santri
Gresik – 21 santri
Lamongan – 11 santri
Tuban – 6 santri
Bojonegoro – 7 santri
Jombang – 43 santri
Kediri – 14 santri
Trenggalek – 13 santri
Blitar – 15 santri
Tulungagung – 5 santri
Nganjuk – 7 santri
Madiun – 33 santri
Pasuruan – 2 santri
Malang – 8 santri
Lumajang – 2 santri
Jember – 5 santri
Banyuwangi – 2 santri
Sebaran luas ini menunjukkan komitmen eLKISI untuk menghadirkan dakwah yang merata, tidak hanya di pusat kota, tetapi juga menjangkau masyarakat di pelosok dan daerah minoritas Muslim.
Misi Dakwah: Tidak Sekadar Ceramah, Tapi Pengabdian Nyata
Selama PDR, para da’i muda akan menjalankan berbagai amanah, seperti:
Menjadi imam shalat fardhu dan tarawih
Menyampaikan kultum Ramadhan
Membina remaja masjid
Mendampingi tadarus dan kajian Al-Qur’an
Menghidupkan kegiatan ibadah dan sosial di lingkungan penugasan
Melalui kegiatan ini, santri belajar menjadi da’i yang tidak hanya cakap ilmu, tetapi juga hadir melayani umat dengan akhlak dan keteladanan — dakwah bil-hal yang menjadi ciri khas eLKISI.
Pengabdian yang Menembus Hati dan Peradaban
Keberangkatan ratusan da’i muda ini menjadi bukti keseriusan eLKISI dalam menghadirkan kontribusi bagi masyarakat. Syiar Ramadhan diharapkan semakin hidup, masjid semakin makmur, dan generasi muda semakin terinspirasi untuk mencintai dakwah.
Program PDR juga menjadi wadah bagi santri untuk memahami realitas sosial, melatih jiwa kepemimpinan, serta membentuk kedewasaan spiritual yang kelak menjadi bekal penting sebagai pewaris perjuangan dakwah.
Sidoarjo — Santri Pondok Pesantren eLKISI kembali hadir di tengah masyarakat melalui program Praktek Dakwah Ramadhan (PDR) yang tahun ini dilaksanakan di Masjid Al Firdaus, Pepelegi, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar menghidupkan suasana Ramadhan sekaligus memperkuat peran santri dalam memakmurkan masjid dan membina generasi muda.
Amanah Takmir: Imam, Kultum, hingga Pembinaan Remaja Masjid
Selama pelaksanaan PDR, para santri mendapatkan amanah langsung dari takmir masjid untuk:
Menjadi imam shalat fardhu
Memimpin shalat tarawih
Menyampaikan kultum ba’da shalat
Membersamai Remaja Masjid (Remas) Al Firdaus dalam kegiatan tadarus Al-Qur’an
Seluruh rangkaian kegiatan dijalankan secara konsisten dan penuh tanggung jawab sepanjang bulan Ramadhan.
Suasana Masjid Lebih Hidup dan Jamaah Semakin Antusias
Kehadiran santri eLKISI membawa dampak positif bagi dinamika ibadah di Masjid Al Firdaus. Jamaah merasakan suasana Ramadhan yang lebih hidup dengan:
Shalat berjamaah yang lebih tertib
Kultum yang menyejukkan dan relevan
Tadarus Al-Qur’an yang kembali berjalan rutin
Materi kultum disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga diterima baik oleh jamaah dari berbagai kalangan usia.
Remaja Masjid Kembali Aktif, Suasana Ramadhan Semakin Semarak
Salah satu capaian paling menggembirakan adalah semakin aktifnya para remaja masjid. Pendampingan santri mendorong mereka untuk lebih sering hadir di masjid, terlibat dalam tadarus, serta turut menjaga suasana Ramadhan yang religius dan penuh kebersamaan.
Salah satu pengurus masjid menyampaikan apresiasinya:
“Alhamdulillah, sejak adanya santri PDR dari eLKISI, kegiatan Remas semakin hidup. Anak-anak muda lebih sering ke masjid dan semangat mengaji bersama.”
Kondisi ini membuat Masjid Al Firdaus terasa lebih hidup dan hangat sepanjang Ramadhan.
Komitmen eLKISI: Mencetak Da’i yang Siap Mengabdi
Melalui PDR, Pondok Pesantren eLKISI terus meneguhkan komitmennya dalam mencetak da’i muda yang tidak hanya unggul dalam keilmuan, tetapi juga siap berkhidmat kepada masyarakat. Para santri dididik untuk hadir sebagai:
Penggerak masjid
Pembina generasi muda
Penyampai dakwah yang menyejukkan
Teladan akhlak dan pelayanan
eLKISI berharap program ini dapat terus menjadi jembatan antara pesantren dan masyarakat dalam menghidupkan nilai-nilai Islam, khususnya di bulan Ramadhan.
Malang — Sejak awal bulan suci Ramadhan, para santri Pondok Pesantren eLKISI melaksanakan Praktek Dakwah Ramadhan (PDR) di Griya Lansia Husnul Khotimah, Kota Malang. Program ini menjadi wujud konkret dakwah bil-hal—dakwah melalui keteladanan, pelayanan, dan kepedulian sosial yang menyentuh langsung kehidupan para lanjut usia.
Khidmat Penuh Empati, Pelayanan Sepenuh Hati
Sejak pagi hingga malam hari, para santri terjun langsung membantu berbagai kebutuhan para lansia. Aktivitas mereka meliputi:
Menyiapkan dan menyajikan hidangan sahur dan buka puasa
Mengantarkan makanan ke kamar-kamar lansia
Membantu memindahkan dan mendorong lansia dengan kursi roda menuju musholla
Mendampingi para penghuni dalam mengikuti rangkaian ibadah Ramadhan
Semua aktivitas tersebut dijalankan dengan penuh kesabaran, ketulusan, dan penghormatan, mencerminkan akhlak seorang da’i yang siap menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Pembelajaran Hidup yang Mendalam: Mengurus Jenazah Lansia
Lebih dari sekadar membantu kegiatan harian, para santri juga memperoleh pengalaman berharga saat terlibat dalam perawatan jenazah lansia. Mereka turut mendampingi proses:
Mentalqin
Memandikan dan mengkafani
Menyalatkan jenazah
Mengantarkan ke ambulans untuk pemakaman
Pengalaman ini menjadi pelajaran penting tentang tanggung jawab sosial, kepekaan kemanusiaan, serta pemahaman mendalam mengenai kehidupan dan kematian—nilai yang tidak dapat diperoleh hanya melalui teori di kelas.
Da’i Muda yang Siap Mengabdi
Adapun santri yang bertugas dalam PDR kali ini adalah:
Revan Aqshanul Gibran
Taris Rayhan Kazhimsyah
Muhammad Bintang Putra Hakim
Rayhan Atthanail Putra Dewantoro
santri pdr eLKISI (dari kiri) bintang, revan, rayhan dan taris
Mereka tidak hanya menyampaikan tausiyah dan memimpin doa, tetapi juga turun langsung melayani para lansia dengan kerendahan hati dan empati yang tulus.
Mengharukan: Orang Tua Bangga Melihat Anak Mereka Berkhidmat
Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam tidak hanya bagi lansia, tetapi juga bagi orang tua santri. Banyak yang merasa terharu dan bangga melihat putra-putra mereka mampu berkhidmat dan melayani lansia dengan penuh keikhlasan. PDR dinilai sebagai proses pendidikan karakter yang nyata, membentuk:
Kepekaan sosial
Ketangguhan mental
Kematangan spiritual
Nilai-nilai ini menjadi fondasi penting bagi santri dalam menapaki jalan dakwah.
Griya Lansia Apresiasi Dedikasi Santri eLKISI
Pihak Griya Lansia Husnul Khotimah menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kontribusi para santri. Kehadiran mereka dinilai membawa suasana hangat, penuh perhatian, dan memberikan penguatan spiritual bagi para penghuni, khususnya di bulan penuh keberkahan.
Komitmen eLKISI: Mencetak Da’i Berakhlak dan Siap Terjun ke Masyarakat
Melalui program PDR ini, Pondok Pesantren eLKISI menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi da’i yang tidak hanya unggul dalam ilmu dan retorika dakwah, tetapi juga hadir sebagai teladan akhlak, kepedulian, dan pelayanan nyata di tengah masyarakat—sejalan dengan spirit Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Mojokerto, 22 Februari 2026 — Markaz Lughoh eLKISI kembali menyelenggarakan Ujian Tahdid Mustawa pada Ahad, 22 Februari 2026. Pada tahun ini, sebanyak 83 peserta dari berbagai wilayah Indonesia turut berpartisipasi untuk mengikuti seleksi akademik sebagai langkah awal menuju studi di Universitas Al-Azhar, Mesir.
Markaz Lughoh eLKISI merupakan lembaga pembinaan bahasa Arab yang secara khusus mempersiapkan lulusan SMA/sederajat agar siap melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar. Dalam pelaksanaannya, ujian ini bekerja sama dengan Markaz Tathwir di Mesir sebagai mitra resmi yang turut mendukung proses seleksi dan penjaminan mutu akademik.
Jalinan Kerja Sama Nasional
Untuk memperluas jangkauan pembinaan, Markaz Lughoh eLKISI juga bermitra dengan berbagai lembaga di sejumlah daerah, di antaranya:
Darut Dakwah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Sulawesi
Ma’had Al-Quds, Kudus
Ma’had Ibadurrahman Belading, Riau
Kemitraan ini bertujuan memudahkan calon mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia untuk mengikuti pembinaan intensif menuju Al-Azhar tanpa terkendala jarak.
Target Pemberangkatan dan Rekam Jejak
Insya Allah, pemberangkatan gelombang pertama ke Mesir direncanakan pada April 2026. Tahun sebelumnya, Markaz Lughoh eLKISI berhasil mencetak prestasi membanggakan berupa 100% kelulusan dan pemberangkatan — sebanyak 73 peserta resmi melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Mesir.
Capaian tersebut menjadi motivasi besar bagi Markaz Lughoh eLKISI untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan dan memperluas kesempatan bagi generasi muda yang ingin menempuh pendidikan tinggi di pusat ilmu dunia Islam tersebut.
Pendaftaran Dibuka — Tersedia 10 Beasiswa Gratis
Bagi lulusan SMA/sederajat yang berminat melanjutkan studi ke Al-Azhar Mesir, pendaftaran resmi telah dibuka melalui Markaz Lughoh eLKISI.
Tahun ini tersedia 10 kuota beasiswa penuh, mencakup:
Biaya pendidikan
Biaya asrama di Mesir selama 4 tahun
Kesempatan ini terbuka bagi para pelajar yang berkomitmen menempuh pendidikan tinggi dan berdakwah melalui ilmu. (AZ)
Untuk informasi dan pendaftaran, silakan menghubungi: 📞 Ustadz Agung – 0822-3180-1953
Singapura — Para santri Pondok Pesantren eLKISI kembali menorehkan kiprah internasional melalui program Praktik Dakwah Ramadhan (PDR) yang digelar sejak 17 Februari hingga 3 Maret 2026. Tahun ini, empat santri terbaik diterjunkan ke Singapura untuk menguatkan dakwah lintas negara sekaligus menimba pengalaman berharga sebagai duta Islam di tengah masyarakat Muslim minoritas.
Di negara yang memiliki populasi Muslim sekitar 16%, nuansa Ramadhan justru terasa hidup dan penuh kekhidmatan. Masjid-masjid ramai oleh jamaah yang antusias menyambut bulan suci, menciptakan atmosfer kebersamaan yang hangat dan menginspirasi.
Bergerak di Garis Depan Pengabdian
Selama kegiatan berlangsung, para santri aktif berkhidmat di Masjid Al-Istighfar. Mereka terlibat dalam berbagai tugas mulia seperti:
Membantu persiapan ifthor dan buka puasa jamaah
Mengolah dan membagikan bubur untuk para lansia non-Muslim sebagai bentuk kepedulian sosial
Mengikuti tadarus Al-Qur’an bersama jamaah
Menyimak bacaan lansia dan menjalin komunikasi penuh kehangatan dengan masyarakat masjid
santri PDR eLKISI membantu menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa
Kegiatan ini tidak hanya memperkuat syiar Islam yang lembut dan penuh kasih, tetapi juga menunjukkan wajah Islam yang inklusif dan ramah bagi semua kalangan.
Belajar di Ranah Pendidikan Internasional
Di luar masjid, para santri juga mengunjungi Madrasah Huda, lembaga pendidikan binaan Ustadz Hakeem. Di sana mereka:
Bertukar wawasan mengenai dunia pendidikan Islam di Singapura dan Indonesia
Menyampaikan Kultum (Muhadhoroh) berbahasa Inggris di hadapan pelajar setempat
Membangun jaringan dan pengalaman kepemimpinan global
Interaksi ini memperkaya pola pikir dan menanamkan keberanian para santri untuk tampil sebagai pemimpin dakwah masa depan.
Menjadi Duta Rahmatan lil ‘Alamin
Melalui PDR 2026, santri eLKISI tidak hanya mengamalkan dakwah, tetapi juga menanamkan nilai empati, pelayanan, dan kepemimpinan global. Mereka hadir sebagai generasi muda yang membawa semangat rahmatan lil ‘alamin, menjembatani budaya, serta membuktikan bahwa dakwah dapat berjalan dengan kuat sekalipun di tengah masyarakat Muslim minoritas.
Baucau, Timor-Leste – Di tengah kondisi minoritas dan terbatasnya tenaga dai, geliat dakwah Islam di Distrik Baucau masih tumbuh penuh harapan. Laporan terbaru dari mahasantri eLKISI Institute, Royhan Mufid Akbar, yang kini bertugas dalam misi dakwah di Timor-Leste, menggambarkan semangat warga Muslim Baucau dalam menjaga dan mengembangkan ajaran Islam.
Komunitas Kecil, Semangat Besar
Di kota Baucau tercatat sekitar 30 rumah pemeluk Islam, dengan tiap rumah dihuni 1 hingga 3 kepala keluarga. Meski jumlahnya kecil, antusiasme mereka dalam menuntut ilmu agama sangat tinggi. Saat ini juga terdapat 14 muallaf, dan diperkirakan dalam satu hingga dua hari ke depan akan ada lagi penduduk yang siap mengucapkan dua kalimat syahadat.
Di distrik ini berdiri 1 masjid dan 5 mushola yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan pembinaan umat.
Sejarah Panjang Dakwah di Baucau
Menurut para tokoh masyarakat, Islam berkembang di Baucau antara lain karena pengaruh TNI saat Timor Timur masih menjadi bagian dari Indonesia.
Masjid Al-Amal, pusat dakwah saat ini, dibangun sekitar tahun 1986 berkat keberadaan KODIM dan kantor polisi yang saat itu berdiri di sekitar lokasi masjid.
Pada tahun 2006–2007, masjid sempat mengalami pembakaran akibat konflik internal, namun bukan konflik antarumat beragama. Kini situasi telah sepenuhnya kondusif.
Beberapa dai Dewan Dakwah yang dahulu dikirim ke Timor Leste bahkan masih sangat muda, berusia 15–16 tahun. Salah satunya adalah Ust. Rois asal Lamongan, Jawa Timur, yang hingga kini tetap bertahan melayani umat di area tersebut.
Minim Dai, Tinggi Harapan
Para pengurus Masjid Al Amal — Ust. Carlos, Ust. Faisal Sholeh, dan Ust. Bahrul — menyampaikan bahwa kebutuhan dai di wilayah Baucau sangat mendesak. Minimnya pembinaan terlihat dari masih rendahnya pemahaman agama. Bahkan, takmir masjid harus mengadakan lomba tingkat SMP–SMA bertema “Tata Cara Shalat yang Benar” karena banyak siswa belum memahami rukun-rukunnya.
Di sebelah masjid juga berdiri sekolah dan panti asuhan, sehingga kebutuhan pembinaan keislaman semakin besar.
Sambutan Hangat untuk eLKISI dan ADI
Kedatangan tim dai dari eLKISI Institute dan mahasiswa STID M. Natsir disambut hangat oleh para pengurus. Mereka berharap adanya kerja sama lanjutan berupa:
pengiriman kembali dai ke Baucau,
pengiriman kader muda lokal untuk belajar di eLKISI, ADI NTT, maupun STID M. Natsir.
“Kami ingin ada kader dari sini yang belajar agama secara benar, agar dakwah di Baucau bisa berkembang lebih maju,” ujar Ust. Carlos.
Fokus Penugasan Dai
Dalam instruksi terbaru, tim dai dari Ansar yang terdiri dari mahasantri eLKISI dan mahasiswa STID ditugaskan untuk:
fokus pembinaan di Masjid Al-Amal,
mengisi kegiatan di mushola sekitar (berjarak ±1 jam perjalanan),
serta memberikan edukasi keagamaan di sekolah yang berada dekat masjid.